Windarwati : Cekelan Sarung Kyai

Aja Sampek Ucul Cekelan Sarung Kyai. Maksude tutke kyai, sebab kyai kui warisane nabi SAW. lan ojo asal pilih Kyai sing Sangar

Wirda Mansur : Dahulukan Alloh

Dahulukan Alloh. Alloh dulu, Alloh lagi, Alloh terus.

Tentang Pecinta

Hakikatnya Pecinta itu, tidak ingin jauh jauh, apalagi berpisah dengan yang dia cintai.

UYM : Kita Hidup Juga Masalah

Dunia ini penuh masalah, kita hidup juga sudah termasuk masalah. iya kan?

Aa Gym : Jangan Ributkan Perbedaan!

Kita juga Produk dari perbedaan. Kita lahir dari laki-laki dan perempuan, Adam dan Hawa, bukan Adam dan Asep

Wednesday, March 31, 2021

Kisah Karomah Menakjubkan Habib Ali Al Habsyi Kwitang

 


"YAA HABIB ALI AL HABSYI, ANTUM MUJABATUD DA'WAH. BERUNTUNG SEKALI NEGERI YANG ANTUM ADA DI DALAMNYA".

Dulu Tatkala Al Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi berkunjung ke Negeri Hadramaut untuk menziarahi para Ulama, baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat. Dalam kunjungannya, Beliau di temani oleh putra Beliau yaitu Al Habib Muhammad Al Habsyi.

Diantara kunjungannya. Beliau menyempatkan menghadiri Majelisnya Al Habib Alwi bin Abdullah bin Sahab di kota Tarim.

Melihat kedatangan Al Habib Ali Al Habsyi, Al Habib Alwi bin Syahab langsung menyambutnya dengan penuh kehormatan dan menempatkan Habib Ali Al Habsyi duduk di bagian depan berdampingan dengan Beliau.

Di hadapan Jamaah yang hadir di Majelis Beliau, Habib Alwi bin Syahab berkata :

"Hadirin sekalian, kita telah kedatangan seorang Alim Ulama dari Jawa, dari Bandar Betawi, yang namanya sudah tidak asing lagi di Negeri ini yaitu Al Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi".

"Dan atas kehadiran Beliau di Majelis ini, kami meminta kepada Al Habib Ali Al Habsyi untuk bermohon kepada Allah SWT agar menurunkan air hujan di Negeri kita ini, karena sudah cukup lama tidak turun hujan yang menimbulkan kekeringan di mana-mana, dan kita mohon kepada tamu kita Al Habib Ali Al Habsyi untuk berdoa memohon kepada Allah SWT atas niat tersebut."

Al Habib Ali Al Habsyi sempat menolaknya karena Beliau datang adalah untuk mengambil barokah dan mengharap do'a Al Habib Alwi bin Syahab. Tapi karena di mohon oleh tuan rumah, pada akhirnya Habib Ali Al Habsyi memanjatkan do'a kepada Allah SWT.

Selesai memanjatkan do'a, maka tidak begitu lama terlihat cuaca mulai mendung dan Habib Alwi berkata : 

"Sepertinya Majelis ini dicukupkan saja dulu, karena sebentar lagi akan turun hujan".

Tidak begitu lama, hujan pun turun dengan lebatnya dan akhirnya Habib Ali Al Hansyi bermalam di rumah Habib Alwi bin Syahab.

Hampir satu hari lamanya hujan tidak kunjung reda, maka pada akhirnya beberapa Jama'ah yang mewakili penduduk Negeri Tarim meminta kepada Habib Alwi bin Syahab agar menyampaikan kepada Habib Ali Al Habsyi untuk berdo'a agar hujan yang begitu lebat di alihkan di Wadi atau di sungai-sungai saja.

Dan Habib Alwi bin Syahab meminta lagi kepada Habib Ali Al Habsyi : "Ya Hababana Ali, mohonlah kepada Allah agar hujan ini di turunkan di sekitar kota saja yang tidak ada rumah rumahnya. Karena kalau tidak, rumah-rumah kami ini bisa hancur karena semua terbuat dari Tanah".

Mendengar perkataan Habib Alwi bin Syahab, langsung Habib Ali Al Habsyi menengadahkan tangannya tinggi-tinggi seraya berdo'a Kepada Allah SWT. Subhanallah, hujan pun berangsur-angsur berhenti.

Melihat hal demikian, Habib Alwi bin Syahab memeluk Habib Ali Al Habsyi seraya berkata : 

"Yaa Habib Ali Al Habsyi, Antum Mujabatud Da'wah. Beruntung sekali Negeri yang Antum ada di dalamnya".

Itulah Karomah Al Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi dan kisah ini disampaikan Al Habib Muhammad bin Ali Al Habsyi dalam kunjungan beliau bersama sang Ayah pada waktu itu Rihlah di Negeri Hadramaut.

Sumber : 

Antoe Dzibril / Khadim MT. Kwitang yang Beliau dapatkan dari Al Habib Muhammad bin Ali Al Habsyi. (FP Kisah Wali Allah)

Share:

Sunday, March 28, 2021

Beda Pendapat Soal Rezeki, Guru dan Murid Ini Justru Ketawa

 


Guru & Murid Tertawa Karena Beda Pendapat Tentang Rezeki :

Seorang Guru dalam majlis menyampaikan :

"Sesungguhnya rezeki itu datang tanpa sebab, cukup dengan tawakkal yang benar kepada Allah niscaya Allah akan meberikan Rezeki. Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah mengurus lainnya."

Sementara Sang Murid bependapat lain dari Gurunya :

"Seandainya seekor burung tidak keluar dari sangkarnya, bagaimana mungkin ia akan mendapatkan rezeki."

Guru dan Murid bersikukuh pada pada pendapatnya masing-masing.

Hingga suatu waktu, Sang Murid meningglkan pondok. Sang Murid melihat serombongan orang tengah memanen anggur. Diapun membantu mereka. Setelah pekerjaan selesai, Sang Murid memperoleh imbalan beberapa ikat anggur sebagai balas jasa.

Sang Murid pun girang, bukan karena mendapatkan anggur, tetapi pemberian itu telah menguatkan pendapatnya  tentang rezeki. Jika burung tak terbang dari sangkar, bagaimana ia akan mendapat rezeki. Seandainya dia tak membantu memanen, niscaya tidak akan mendapatkan anggur.

Bergegas dia menjumpai Sang Guru. Sambil menaruh seluruh anggur yang didapatnya, dia bercerita. Sang Murid sedikit mengeraskan bagian kalimat “Seandainya saya tidak keluar pondok dan melakukan sesuatu (membantu memanen), tentu saja anggur itu tidak akan pernah sampai di tangan saya.”

Mendengar itu, Sang Guru tersenyum, seraya mengambil anggur dan mencicipinya. Sang Guru berucap pelan.

“Sehari ini aku memang tidak keluar pondok. Hanya mengambil tugas sebagai guru, dan sedikit berpikir alangkah nikmatnya kalau dalam hari yang panas ini aku bisa menikmati anggur. Tiba-tiba engkau datang sambil membawakan beberapa ikat anggur untukku. Bukankah ini juga bagian dari rezeki yang datang tanpa sebab. Cukup dengan tawakkal yang benar kepada Allah niscaya Allah akan berikan rezeki. Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah yang mengurus lainnya.”

Sang Guru dan Sang Murid itu kemudian tertawa. Sang Guru yang dimaksud adalah Imam Malik, dan Sang Murid adalah Imam Syafi'i. 

Dua Imam madzab yang mengambil dua hukum yang berbeda dari hadits yang sama.

Begitulah cara Ulama bila melihat perbedaan, bukan dengan cara menyalahkan orang lain dan hanya membenarkan pendapatnya saja.

Semoga kisah ini dapat menjadi pelajaran untuk kita semua..

Sumber: FP (Kisah Wali Allah)

Share:

Friday, March 26, 2021

Kisah Ketika Jempol Imam Nawawi Al Bantani Mengeluarkan Cahaya

 


Ketika Asy Syeikh Al Imam Nawawi Al Bantani sedang menulis kitab Maraqil Ubudiyah yang merupakan syarah (penjelasan) kitab Bidayatul Hidayah karya Imam  Al Ghazali, lampu beliau kehabisan minyak hingga membuat proses menulisnya terhenti.

Kebetulan saat itu beliau sedang melakukan perjalanan menggunakan Haudjad (rumah-rumahan di atas unta). Beliau yang kesulitan untuk menulis kemudian berdoa kepada Allah, jika sekiranya kitabnya ini baik dan bisa bermanfaat bagi umat, maka beliau meminta cahaya agar beliau bisa meneruskan menulis.




Tiba-tiba, dengan izin Allah jempol kaki beliau (riwayat lain menyebutkan jempol tangan kiri) menyala layaknya sebuah lilin, hingga akhirnya beliau bisa menyelesaikan kitabnya tersebut. Bekas hitam akibat nyala api di jempol itu masih membekas hingga beliau wafat, malah menjadi hikmah tersendiri karena ketika pemerintah Hijaz mengadakan program wajib militer, beliau tidak diterima sebab bekas api di jempolnya itu.

Kisah di atas menandakan penjagaan Allah atas diri beliau. Karena jika saat itu beliau menjadi tentara, mungkin tidak akan banyak kitab yang beliau tulis seperti yang saat ini bertebaran. Allah memang telah mengkhususkan beliau untuk menjadi salah satu penjaga ilmu-Nya di dunia.

Hal ini terbukti dengan banyaknya kitab-kitab agama karangan beliau yang masih terus dikaji hingga saat ini. Bukan hanya di Indonesia, tapi di seluruh dunia. Kitab beliau umumnya berisi pembahasan dasar agama yang penting dipelajari setiap Muslim.

Wallohu A'lam...

Sumber : FP Kisah Wali Allah

Share:

Thursday, March 25, 2021

Perjalanan Ma'rifat & Karomah Habib Ahmad Bafaqih Tempel

 


Kehidupan masa muda Al Habib Ahmad Bafaqih tak semudah yang dibayangkan. Cacian, hinaan dan makian dari orang-orang sekitar beliau, baik atas kekurangan fisik ataupun kemiskinan yang ada pada diri beliau, Habib Ahmad Bafaqih tak pernah membalas cacian itu. Bahkan beliau terima dengan sabar semua perlakuan itu. Di masa muda itu pula Habib Ahmad Bafaqih pernah berjualan kecil-kecilan seperti berjualan korek api walaupun hasilnya tidak menguntungkan.

Sesungguhnya Allah adalah Maha Berkehendak, sosok Habib Ahmad Bafaqih dikarenakan kesucian hatinya, kesabaran akhlaknya, telah dianugerahi oleh Allah SWT berupa Futuhal ‘Arifiin, kasyaf dan ilmu ladunni, padahal beliau diriwayatkan tidak menempuh pendidikan formal.

Habib Ahmad Bafaqih pernah menuturkan kepada Abuya Habib Ahmad bin Husein Assegaf Bangil tentang asal mula kewaliannya ketika Abuya berkunjung ke rumah beliau.

“Siapakah guru anda?” tanya Abuya kepada beliau.

“Guruku Allah SWT., Malaikat Jibril, Rasulullah SAW., jawab beliau  yang menandakan bahwa ia adalah seorang majdzub yang mendapat kewalian tanpa bersuluk.

“Bagaimana asal muasalnya Habib “bisa sampai” kepada Allah “? Tanya Abuya selanjutnya.

“Karena kamu yang bertanya maka saya akan menjawabnya. Kalau bukan kamu, saya tidak akan cerita.”

“Dulunya saya orang miskin. Ayah saya wafat dengan meninggalkan saudari -saudari perempuan saya yang banyak. Saya ini orang cacat yang tidak bisa bekerja.”




“Pada suatu hari saudari-saudari saya merasa kelaparan. Di rumah saya tidak ada makanan sama sekali. Mereka meminta kepada saya untuk mencarikan makanan. Saya berpikir dari mana saya berusaha dapat makanan? Mau usaha apa?  Jalan saja saya harus tertatih-tatih sambil berpegangan di tembok. Badan saya cacat.”

“Terpaksa saya keluar rumah mencari makanan. Tidak ada orang yang kasihan kepada saya. Jangankan memberi sesuatu, menjawab salam saya saja mereka enggan karena melihat diri saya yang seperti ini. Saya terus berjalan dan berjalan sampai capek.”

“Saya istirahat duduk-duduk di Masjid Agung Jogjakarta sampai malam. Karena waktu sudah malam, penjaga masjid itu menyuruh saya keluar dari masjid. Kalau tidak, ia akan mengunci saya saya dari luar. Saya tidak mau keluar. Akhirnya saya dikunci di dalam Masjid sendirian.”

“Saya menangis dan menangis di dalam Masjid. Saya sudah putus asa dari manusia. Di tengah larut malam, saya bermunajat kepada Allah : “TIDAK ADA MANUSIA YANG MAU KEPADAKU, SIAPA LAGI YANG MAU MEMUNGUT DIRIKU SELAIN ENGKAU, YAA ALLAH. AKU MENGELUH KEPADAMU, AKU BERPASRAH DIRI PADAMU.” doaku kepada Allah.

“Di tengah saya bermunajat, saya mendengar suara salam.

“Assalamu ‘alaikum.... ”

“Wa ‘alaikumussalaam”. Jawabku

“Anda siapa? ” tanyaku kepada seseorang yang tiba-tiba muncul di hadapanku.

“Aku kakekmu Muhammad Rasulullah SAW “ Jawab orang itu.

Baginda Rasulullah SAW berkata kepadaku : “INNAA FATAHNAA LAKA FATHAN MUBIINAA ” nanti akan datang orang yang mengajar kamu.”

“Tidak lama kemudian muncul Nabi Khidhir memberi kabar bahwa mulai besok rezekiku akan datang ke rumah dan orang-orang akan datang ke rumahku.”

“Di pagi harinya saya pulang ke rumah dan saudari-saudariku masih kelaparan. Tak lama kemudian datanglah orang membawa makanan ke rumah.

Sedangkan Nabi Khidhir telah mengajari saya menulis azimat di sebuah kertas.”

“Semenjak saat itu rumah Habib Ahmad Bafaqih tidak pernah sepi dari tamu. Masyarakat umum, para pejabat sampai Wali seperti Sayyid Muhammad Maliki turut berkunjung kesana. Namun kewalian dan kekeramatan itu beliau dapatkan setelah mengalami bermacam penderitaan.

Habib Ahmad Tempel pernah berucap di masa kholwat beliau bahwa beliau tidak akan mau keluar dari kholwatnya terkecuali Habib Sholeh Tanggul yang mengeluarkan. (kisah dari Habib Muhdhor Al Hamid yang ketika masih muda pernah diajak ayahnya, Habib Muhammad bin Habib Sholeh Al Hamid Tanggul sowan ke rumah Habib Ahmad Tempel).

Sosok Habib Ahmad Bafaqih juga dikenal sosok yang sangat dekat dengan Nabi Khidir AS, bahkan sering bersama sahabat beliau, Syekh M. Abdul Malik Ilyas ( Purwokerto) / Guru Mursyidnya Abah Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan berjumpa Nabi Khidir AS dan mengetahui “penyamaran” Nabi Khidir AS dengan mudah.

Di kalangan ulama, Wali dan Habaib di zamannya, kedudukan Habib Ahmad Tempel sangatlah dihormati.

Habib luthfi Bin Yahya Pekalongan pernah bercerita kepada Habib Abdul Hadi Baragbah Tegal, bahwa Habib Ahmad Kemusuh pernah bilang kepada Habib Luthfi waktu itu masih muda: ”Bahwa Habib Ahmad mimpi gendong-gendongan sama Habib Luthfi di ‘Arsy.”

Banyak pejabat negara serta artis yang tak ketinggalan turut mengambil keberkahan beliau. Diantaranya Wakil Presiden RI H. Adam Malik, yang kemudian membuat kubah makam Habib Ahmad Tempel dan ayahnya.

Banyak orang yang berjumpa menemui Habib Ahmad Tempel di rumah beliau, melihat karomah beliau, seperti beliau tahu berita terbaru, padahal tak membaca koran, mendengarkan radio ataupun menonton televisi.

Beliau disebut hadir telihat berhaji di Mekkah, padahal beliau tak ada pergi kemana-mana.

Di ceritakan, pernah menantu beliau yakni Habib Muhammad Hamid Bafaqih dipesankan oleh Habib Ahmad Tempel agar menjaga ketat pintu kamar Habib Ahmad Tempel, tak boleh ada yang masuk. setelah Habib Ahmad Tempel lama tak muncul, akhirnya Habib Muhammad Hamid Bafaqih memberanikan diri membuka pintu kamar, dan ternyata Habib Ahmad Tempel pergi menghilang entah kemana, Wallahu a’lam.

Banyak orang yang sakit, menjadi sembuh dengan izin Allah melalui karomah Habib Ahmad Tempel. Pernah juga habib Ahmad bin Toha Al Munawwar (Toha Putra semarang) sedang sakit dan akan diobati dengan cara dioperasi di rumah sakit, lalu meminta nasehat kepada Habib Ahmad Tempel apa hal yang terbaik. Lalu oleh Habib Ahmad Tempel hanya disuruh untuk membuat es teh yang legi (manis) dan kentel, kemudian diminum. Dan ternyata penyakit Habib Ahmad Toha Munawwar pun sembuh tanpa harus dioperasi setelah meminum es teh saran beliau.

Ada pula satu pohon kayu, diolah papannya mampu menjadi beberapa rumah pondok, pada suatu pesantren melalui karomah Habib Ahmad Tempel.

Habib Ahmad tempel juga pernah berucap : “Saya merokok ini, tujuannya adalah untuk membakar setan“.

Akan tetapi soal merokok beliau Habib Ahmad Bafaqih Tempel juga pernah berkata kepada Abuya Habib Ahmad Husein Assegaf Bangil yakni : ”Aku Rokok an cek gak bening“, kata beliau. Maksudnya untuk mengurangi kebeningan hati (Kasyaf) yang bisa melihat aib orang lain. Habib Ahmad Tempel terpaksa menggunakan rokok.

Maka bayangkanlah dengan orang yang hatinya sudah gelap, tentu dengan merokok hatinya bertambah gelap. Dikecualikan orang-orang sholih dan a'rifbillah yangg sudah mengenal Allah tentulah rokok tak memperngaruhi keadaan hati. Maka dari itu wajiblah kita istiqomah tholabulbilmi, karena ini maka kita bisa mengenal Allah. 

Ketika Habib Ahmad tempel masih hidup, banyak orang yang meminta wafaq / rajah / azimat kepada beliau, salah satu wafaq yang sering beliau beri adalah wafaq ”SEGITIGA KHATAMUN NUBUWWAH ” (Allahu WahdaHu Laa Syariika lahu, Muhammadun ‘Abduhu wa Rasuluhu).

Habib Ahmad bafaqih tempel pernah berucap ketika berkunjung ke Guru Haji Seman Mulia, Martapura, Kalsel : “Bahwa aku hanya mencari teman, (yakni) orang yang bersyukur dan tidak mau berteman dengan orang yang pusang (gelisah/kecewa dalam hal duniawi), karena orang pusang itu bukan hamba Allah tapi hamba iblis “.

Kini Dakwah Habib Ahmad Bafaqih tempel diteruskan diantaranya oleh putra beliau sendiri : Habib Umar bin Ahmad Bafaqih (Sokaraja), Habib Ali bin Ahmad Bafaqih (Jogjakarta), kemudian oleh Habib Muhammad Hamid Bafaqih (menantu dan juru kunci makam), Habib Husein bin Abdullah Assegaf (Sedayu, jogja) dan Habib Zein bin Ahmad Assegaf Magelang.

Sedangkan di Kalsel, murid beliau yang terkenal adalah Guru Haji Asmuni (Guru Danau).

Diantara ijazah wirid dari beliau Habib Ahmad Tempel adalah : jika kita ada hajat khusus, hendaklah membaca – ALLAHUMMA SHOLLI ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMADIN WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA MUHAMMAD sebanyak 124.000 kali (seratus dua puluh empat ribu kali), bisa dicicil Maksimal dalam jangka 40 hari.

Habib Umar Mutohhar ( Semarang ) pernah menceritakan pengalamannya bersama KH. Mufid Mas’ud (PP Pandanaran Kaliurang Jogjakarta) saat berziarah ke makam Habib Ahmad Bafaqih Kemusuh Yogyakarta.

Ketika membaca akhir surah Yasin, “innama amruhu idza arada syai’an an yaqula lahu KUN FAYAKUN … ” , makam itu terbuka dan keluarlah Habib Ahmad Bafaqih dari kuburnya.

Setelah itu pembacaan doa dipimpin oleh Habib Ahmad, diaminkan oleh Habib Umar Muthohar dan KH. Mufid Mas’ud. Kemudian Habib Ahmad masuk lagi ke kubur. Peristiwa itu terjadi setelah 40 hari Habib Ahmad Bafaqih dimakamkan. Habib Umar Mutohhar lalu melanjutkan ceritanya. Kata beliau: “Setelah 7 hari dimakamkannya Habib Ahmad, saya bertemu beliau di alam mimpi. Beliau membai’at saya dengan syahadat (talqin dzikir)” Kalau dinalar logika sulit. Untungnya saya termasuk dari kelompok “alladzina yu’minuna bil ghoib”.

Habib Ahmad tempel sebenarnya wafatnya pada bulan sya’ban, sedangkan Haul Ahad terakhir bulan Syawwal adalah Haulnya ayah beliau, yakni Habib Ali bin Ahmad Bafaqih, karena haul ahad terakhir bulan Syawwal sudah berlangsung sejak zaman Habib Ahmad Tempel hidup, maka waktu haul ini tetap dipertahankan di Kemusuh.

Acara puncak haul beliau sendiri terdiri dari 2 sesi, Malam Ahad ziarah kubro dan tahlil serta ceramah ulama. Ahad Subuh, maulid Nabi Muhammad SAW dan musik gambus serta khitanan massal.

Semoga riwayat ringkas ini, menjadi sebab turunnya barokah atas kita, dan atas kekurangan serta kekeliruan mohon diluruskan dan dimaafkan.

( Disusun alfaqir – Shodiqur Rifqi, Diedit oleh Fatahyasin.my.id )

Dari arah Kota Yogyakarta melintasi jalan Raya Magelang hingga sampai di jalan Turi km 1 perempatan rambu lalu lintas Sleman Yogyakarta, sebelah kanan jalan nampak papan nama SMK Ma’arif 2 Sleman, dari perempatan ini belok kiri untuk menuju desa Banyurejo hingga pertigaan dukuh/desa kemusuh -+ (7km), dari pertigaan ini belok kiri -+ (50m) akan nampak jembatan kecil, sebelum jembatan ini sebelah kiri jalan akan nampak qubah makam Habib Ahmad Tempel.

Alamat / Lokasi / Tempat Makam Beliau :

Dukuh. Kemusuh, Desa. Banyurejo, Kec. Tempel, Kab. Sleman – Yogjakarta 55552.

Moga manfaat dan bisa kita jadikan tauladan dari kisah beliau Aamiin.

Share:

Wednesday, March 24, 2021

Kisah Sufi Yang Tak Fasih Baca Surat Al Fatihah


Pada zaman dahulu kala, ada seorang Sufi yang maqomnya setingkat Wali, bernama Syaikh Abu Said Abul Khoir. 

Beliau dikaruniai banyak karomah dari Allah SWT, walau bacaan ayat-ayat Al-Qur'an beliau sangat tidak fasih. Alkisah, pada suatu hari ada ustadz muda, yang ingin sekali berguru kepada sufi tersebut. Perjalanan yang memakan waktu berminggu-minggu lamanya dilalui oleh ustadz muda tersebut demi menuju rumah sang sufi yang kebetulan terletak di tengah gurun padang pasir.

Ahirnya sampailah ustadz muda tersebut di rumah sang syekh tersebut.  Dan Syekh Abul Khoir saat itu sedang mengaji. 



Pada saat Sang Syekh membaca surat Al Fatihah, sang ustadz muda mendengarnya dan dia kurang puas terhadap bacaan Al Fatihahnya Syekh Abul Khoir, yang menurut ustadz muda tersebut kurang tepat makhroijul Hurufnya. 

"Bagaimana mungkin ia seorang sufi, sedangkan bacaan Al Fatihahnya saja tidak fasih. " gumam ustadz muda dalam hati. 

Karena bacaan Sang Sufi tersebut, ahirnya sang ustadz muda mengurungkan niatnya untuk berguru kepada syekh Abu Said Abul Khoir. 

Dengan perasaan kecewa, ustadz muda tersebut kemudian segera meninggalkan kediaman Sang Syekh. 

Di tengah perjalanan, ustadz muda tersebut di cegat 2 ekor singa besar yang siap menerkamnya. Wajah ustadz muda seketika pucat pasi. Dengan sekuat tenaga, ustadz muda tersebut berteriak dengan kerasnya, yang kemudian didengar oleh Sang Syekh. 

Dengan tergopoh-gopoh, Syekh Abul Khoir segera meninggalkan majelisnya, menuju arah suara. 

Ketika sampai ditempat, sang Syekh segera berkata dengan kedua ekor singa tersebut sambil memandangi matanya. "Wahai singa, bukankah aku sudah katakan jangan pernah mengganggu para tamuku."

Sungguh ajaib, singa tersebut kemudian segera bersimpuh di hadapan sang Syekh. Setelah di elus kepalanya, kedua singa tersebut segera meninggalkan Syekh Abul Khoir dan ustadz muda.

"Bagaimana anda bisa menaklukan 2 singa liar lapar tersebut?" tanya ustadz muda keheranan kepada Syekh Abul Khoir. 

"Wahai anak muda, selama ini aku mencoba menaklukan hatiku agar senantiasa tidak pernah menaruh prasangka buruk kepada orang lain dan selalu mencintai Allah ketimbang yang lainnya. Atas perbuatanku ini, oleh Allah aku dikaruniai karomah alam semesta ini, termasuk binatang buas di pasir ini juga takluk dihadapanku" jawab Syekh Abu Khoir.

"Apakah engkau tahu kelemahanmu anak muda?" tanya Sang Syekh kepada ustadz muda tersebut.

"Tidak guru..." jawab ustadz muda dengan menundukan wajah memerah menahan malu.

"Selama ini kamu hanya konsentrasi memperhatikan hal-hal lahiriah semata, sehingga lupa memperhatikan hatimu, karena itulah kamu lebih takut kepada alam semesta ini." jelas Syekh Abul Khoir. 

Sejak kejadian tersebut, akhirnya ustadz muda menetapkan hatinya untuk menjadi murid Waliyullah Sufi Syekh Abu Said Abul Khoir.

 Sumber : FP Kisah Wali Allah

Share:

Saturday, March 20, 2021

Wali Kecil, Tak Dikenal Di Dunia Namun Tenar Di Langit

 


Syekh Abu 'Abdillah Al Jalla RA berkata: 

Suatu hari, ibuku mengidam-idamkan ingin menyantap ikan laut. Saat itu juga ayahku mengajakku ke pasar untuk membeli ikan laut demi memenuhi hajat ibuku. Setelah membeli ikan laut dan sejumlah keperluan lainnya, ayahku mencari seorang kuli untuk membantu membawakan belanjaan kami.  

Tiba tiba seorang anak kecil berdiri tepat di hadapan ayahku sambil berkata, 

"Paman! Apakah engkau mencari seorang kuli untuk membawakan belanjaanmu ini?"

"Benar," jawab Ayahku.

"Biarlah aku yang membawakan," ujar anak itu.

Anak kecil itu pun dengan sigap membawa belanjaan kami dan berjalan bersama kami. Di tengah perjalanan, terdengar suara adzan dan anak kecik itu pun berkata, "Paman, seorang Muadzin telah mengumandangkan adzan, aku harus mengambil wudhu dan shalat. Jika engkau rela, maka aku akan shalat dulu. Bila tidak, mohon maaf, silahkan paman lanjutkan perjalanan membawa sendiri belanjaan ini."

Anak kecil itu dengan cepat meletakan belanjaan kami dan berjalan menuju Masjid. Ayahku berkata, "Kitalah yang seharusnya lebih mampu dan pantas bertawakkal kepada Allah dibanding anak kecil itu. Mari kita tinggalkan saja belanjaan ini disini dan kita shalat dulu." 

Kemudian kami masuk ke dalam Masjid dan menunaikan shalat bersama anak kecil tersebut.

Selepas shalat dan berdzikir, kami pun keluar dari Masjid dan barang belanjaan kami masih berada di tempatnya. Dengan sigap, anak kecil itu membawanya dan ia pun berjalan bersama kami hingga tiba di rumah. Ayahku menuturkan peristiwa itu kepada ibuku. Kemudian ibuku berkata, "Katakan padanya agar ia mau beristirahat sejenak di rumah kita dan makan bersama kita." Ayahku pun menyampaikan pesan ibuku kepadanya, akan tetapi anak kecil itu berkata,

"Aku sedang berpuasa." 

"Kalau begitu, kembalilah kemari sore nanti." ujar Ayahku.

"Aku tidak bisa kembali sore nanti. Aku baru bisa kesini selepas maghrib. Sudah menjadi kebiasaanku untuk sekali saja dalam sehari aku bekerja. Jika aku sudah mendapat satu pelanggan, maka aku tidak akan mencari pelanggan lainnya. Selesai membawakan barang pelangganku tersebut, aku habiskan sisa waktuku di masjid sampai maghrib. Insyaa Allah selepas Maghrib aku akan mengunjungi kalian." jawabnya kemudian pergi meninggalkan kami.

Sore harinya selepas maghrib, Anak kecil itu pun datang dan makan bersama kami. Selesai makan, kami memintanya untuk beristirahat di salah satu kamar kami, dan kami biarkan dirinya tinggal di sana. Di dekat rumah kami, ada seorang wanita yang lumpuh. Pada suatu malam, tiba tiba wanita lumpuh itu dapat berjalan. Wanita itu menjawab, " Aku memohon kepada Allah agar menyembuhkanku dengan berkat kemuliaan tamu kalian. Selesai berdoa seperti itu, tiba tiba aku bisa berdiri dan berjalan seperti semula." 

Kami pun segera mendatangi anak kecil itu di kamarnya. Pintu kamar terkunci seperti biasanya, akan tetapi kami tidak menemukan anak kecil itu di dalamnya."

Sumber : Buku Manusia Langit ( tak dikenal di bumi, tenar di langit)  Halaman 53 - 56

Karya  Al Habib Novel bin Muhammad Alaydrus

- Abdullah Bin As'ad Al Yafi, Raudhur Rayyahin Fi Hikayatis Sholihin, Al Maktabah At Taufiqiyyah, Hal. 199

Share:

Thursday, March 18, 2021

Kisah Waliyullah Berguru Kepada Orang Gila


 

Syekh Junaid Al Baghdadi adalah seorang Sufi terkemuka. Pada suatu waktu, beliau pergi keluar kota Baghdad bersama dengan beberapa muridnya. Syekh Junaid Al Baghdadi bertanya kepada muridnya tentang Bahlul. Muridnya menjawab, “Ia adalah orang gila, apa yang anda butuhkan darinya?”.

“Cari dia, aku ada perlu dengannya.” Kata Syekh Junaid.

Murid-muridnya lalu mencari Bahlul dan bertemu dengannya di gurun. Mereka lalu mengantar Syekh Junaid kepadanya. Ketika Syekh Junaid mendekati Bahlul, beliau melihat Bahlul sedang gelisah sambil menyandarkan kepalanya ke tembok. Syekh Junaid kemudian menyapanya. Bahlul menjawab dan bertanya kepadanya, “Siapakah engkau?”.

“Aku adalah Junaid Al Baghdadi.” Jawab Syekh Junaid.

“Apakah engkau Abul Qasim?” Tanya Bahlul.

“Iya” Jawab Syekh Junaid.

“Apakah engkau Syekh Baghdadi yang memberikan petunjuk spiritual kepada orang-orang?” Tanya Bahlul lagi.

“Iya...” Jawab Syekh Junaid.

“Apakah engkau tau bagaimana cara makan?” Tanya Bahlul.

Syekh Junaid lalu menjawab “Aku mengucapkan Bismillah, aku makan yang ada di hadapanku, aku menggigitnya sedikit, meletakkannya disisi kanan dalam mulutku dan perlahan mengunyahnya, dan aku tidak menatap suapan berikutnya. Aku mengingat Allah sambil makan. Apapun yang aku makan, aku ucapkan Alhamdulillah,  dan aku cuci tanganku sebelum dan sesudah makan”.

Bahlul berdiri menyibakkan pakaiannya dan berkata, “Kau ingin menjadi guru spiritual di dunia, tapi kau bahkan tidak tau bagaimana cara makan?” sambil berkata demikian ia kemudian berjalan pergi.

Murid Syekh Junaid kemudian berkata, “Wahai Syekh dia adalah orang gila”.

Syekh Junaid berkata, “Dia adalah orang gila yang cerdas dan bijak. Dengarkan kebenaran darinya”.

Bahlul mendekati sebuah bangunan yang telah ditinggalkan lalu dia duduk, Syekh Junaid pun datang mendekatinya.

Bahlul kemudian bertanya “Siapakah engkau?”.

“Syekh Baghdadi yang bahkan tidak tau bagaimana cara makan.” Jawab Syekh Junaid.

“Engkau tidak tau bagaimana cara makan, tapi taukah engkau bagaimana cara berbicara?” Tanya Bahlul.

“Iya...” jawab Syek Junaid.

“Bagaimana cara berbicara?” Tanya Bahlul.

Syekh Junaid kemudian menjawab, “Aku berbicara tidak kurang tidak lebih dan apa adanya. Aku tidak terlalu banyak bicara, aku berbicara agar pendengar dapat mengerti. Aku mengajak orang-orang kepada Allah dan Rasulullah SAW. Aku tidak berbicara terlalu banyak agar orang tidak menjadi bosan, aku memberikan perhatian atas kedalaman pengetahuan lahir dan batin.” Kemudian Ia menggambarkan apa saja yang berhubungan dengan sikap dan etika.

Lalu Bahlul berkata, “Lupakan tentang makan, karena kau pun tidak tau bagaimana cara berbicara.”.

Bahlul pun berdiri menyibakkan pakaiannya dan berjalan pergi. Murid-murid Syekh berkata lagi, “Wahai Syekh, anda lihat, dia adalah orang gila. Apa yang engkau harapkan dari orang gila?”.

Syekh Junaid menjawab, “Ada sesuatu yang aku butuhkan darinya, kalian tidak tau itu.”.

Syekh Junaid lalu mengejar Bahlul lagi hingga mendekatinya.

Bahlul lalu bertanya lagi, “Apa yang engkau inginkan dariku? Kau yang tidak tau cara makan dan berbicara, apakah kau tau bagaimana cara tidur?”.

“Iya aku tau” Jawab Syekh Junaid.

“Bagaimana caramu tidur?” Tanya Bahlul.

Syekh Junaid lalu menjawab, “Ketika aku selesai sholat ‘Isya dan membaca do’a, aku mengenakan pakaian tidurku.” Kemudian Syekh Junaid menceritakan cara-cara tidur sebagaimana yang lazim dikemukakan oleh para ahli agama.

“Ternyata kau juga tidak tau bagaimana caranya tidur.” Kata Bahlul seraya ingin bangkit dari duduknya.

Tapi Syekh Junaid menahan pakaiannya dan berkata, “Wahai Bahlul, aku tidak tau. Karenanya Demi Allah ajari aku.”.

Bahlul pun berkata, “Sebelumnya engkau mengklaim bahwa dirimu berpengetahuan dan berkata bahwa engkau tau, maka aku menghindarimu. Sekarang setelah engkau mengakui bahwa dirimu kurang berpengetahuan, maka aku akan mengajarkan padamu. Ketahuilah, apapun yang telah engkau gambarkan itu adalah permasalahan bukan yang utama. Kebenaran yang ada di belakang memakan makanan adalah, bahwa kau memakan makanan halal. Jika engkau memakan makanan haram dengan cara seperti yang engkau gambarkan, dengan seratus sikap pun tidak akan bermanfaat bagimu melainkan akan menyebabkan hatimu hitam.”

“Semoga Allah memberimu pahala yang besar.” Kata Syekh Junaid.

Bahlul lalu melanjutkan, “Hati harus bersih dan mengandung niat baik sebelum kau mulai berbicara. Percakapanmu haruslah menyenangkan Allah. Jika itu untuk duniawi dan pekerjaan yang sia-sia maka apapun yang kau nyatakan akan menjadi mala petaka bagimu. Itulah mengapa diam adalah yang terbaik. Dan apapun yang kau katakan tentang tidur, itu juga bernilai tidak utama. Kebenaran darinya adalah hatimu harus terbebas dari permusuhan, kecemburuan dan kebencian. Hatimu tidak boleh tamak akan dunia atau kekayaan yang ada di dalamnya. Dan ingatlah Allah ketika akan tidur.”

Syekh Junaid kemudian mencium tagan Bahlul dan berdo’a untuknya.

Sumber : FP Kisah Wali Allah

Share:

Wednesday, March 17, 2021

Kisah Sandal Imam Ahmad bin Hambal

Dikisahkan suatu hari, Imam Ahmad bin Hambal ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ sedang berada di Masjid. Kemudian, datanglah Khalifah Abbas Al Mutawakkil kepada beliau ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ yang memberitahukan bahwa ada kerabatnya yang bernama Jariyah, sedang kerasukan Jin.

Khalifah Al-Mutawakkil meminta Imam Ahmad bin Hambal  ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ untuk berdo'a kepada Allah ﷻ agar kerabatnya diberi kesembuhan. Setelah berdo'a, Imam Ahmad bin Hambal ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ  menitipkan sandalnya seraya berkata pada Khalifah, “Bawalah sandal ini ke kediaman Jariyah dan duduklah di sebelah kepala Jariyah, dan katakan kepadanya (kepada Jin)  bahwa Ahmad bin Hambal berkata kepadamu :

"Keluarlah engkau dari tubuh Jariyah ini! Atau aku akan memukulmu dengan sandal ini sampai 70 kali!"

Kemudian, Khalifah Al Mutawakkil pulang dan melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Imam Ahmad bin Hambal ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ .

Setelah duduk di samping Jariyah, Khalifah Al Mutawakkil berkata kepada Jin yang berada di tubuh Jariyah sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ahmad bin Hambal ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ .

Lalu, Jin tersebut berkata melalui lisan Jariyah,

“Aku mendengar dan taat. Seandainya Imam Ahmad bin Hambal menyuruhku pergi dari Irak, aku pasti akan menuruti perintahnya. Sesungguhnya beliau itu orang yang taat kepada Allah. Barangsiapa yang taat kepada Allah, siapa pun akan menurut kepadanya.”

Kemudian, keluarlah Jin tersebut dari tubuh Jariyah. Dan Jariyah pun terbebas dari pengaruh jin.

Begitulah Kisah Sandal Imam Ahmad bin Hambal yanng membuat takut Jin.

Rerefensi :

Kitab Thabaqatul Hanabilah, Kitab Ahkamul Marjan dan Kitab Luqatul Marjan.

Sumber : FP Kisah Wali Allah

Share:

Sunday, March 14, 2021

Kisah Wali Allah & Rahib Adu Kuat Lapar

 


Abu Bakr Al Farghani adalah seorang ahli ibadah yang tidak memiliki apa-apa. Meski demikian, Al Farghani menampakkan diri sebagai seorang saudagar. Ia memakai pakaian rangkap berwarna putih, mengenakan surban, sandal bersih, dan di tangannya ada kunci besar yang bentuknya indah. Sedangkan Al Farghani sendiri tidak memiliki rumah dan tidur dari masjid ke masjid. Namun karena penampilannya, masyarakat umum memandang Al Farghani sebagai seorang saudagar, hanya kalangan khusus saja yang mengetahui hakikat keadaan ahli ibadah ini.

Suatu saat, Al Farghani melakukan perjalanan ke Mesir dengan pakaian indahnya tersebut. Para ahli ibadah pun tahu bahwa yang datang adalah ahli ibadah, hingga mereka berkumpul untuk mendengar petuahnya.

Sampai pada suatu saat, Al Farghani melakukan perjalanan dengan diikuti oleh ahli ibadah yang lain. Karena tidak tahan, banyak ahli ibadah yang berhenti dan tidak sanggup mengikuti perjalanan kecuali sedikit. Sampai akhirnya, Al Farghani bertanya kepada mereka,”Apakah kalian merasa lapar?” Mereka yang mengikuti perjalanan pun mengiyakan.

Akhirnya rombongan itu bersitirahat di sebuah kampung yang terdapat biara para Rahib. Melihat rombongan itu, seorang Rahib menyeru kepada Rahib-rahib lainnya,”Berilah makanan kepada para Rahib Muslim ini, sesungguhnya ada sebagaian dari mereka yang tidak sabar terhadap rasa lapar”.

Al Farghani pun tersinggung dengan ucapan Rahib tersebut, hingga ia menyampaikan,”Wahai Rahib, apakah engkau sudah mengetahui ilmu mengenai bersabar dalam lapar?” Rahib itu pun bertanya,”Bagaimana?”

Al Farghani pun menjawab,”Wahai Rahib, turunlah dari biaramu dan makanlah sesukamu, kamudian ikutlah bersamaku untuk masuk ke dalam sebuah ruangan untuk dikunci dan tidak membawa apa-apa kecuali air untuk kita bersuci. Barang siapa tidak tahan, maka ia memberi tanda untuk keluar dan mengikuti ajaran temannya yang masih tetap dalam kondisi semula. Sedangkan aku sudah tiga hari tidak mencium bau makanan”.

Akhirnya Al Farghani dan Rahib pun sepakat untuk masuk ruangan kosong dan terkunci. Sedangkan para ahli ibadah dan para rahib lain mengamati terus-menerus. Dan selama 40 hari mereka tidak melihat ada tanda apa-apa.

Sampai akhirnya di hari ke 41, terdengar suara ketukan pintu dari dalam ruangan itu dan ketika dibuka, maka yang muncul adalah rahib yang meminta pertolongan. Mereka yang berada di sekitarnya pun segera memberi minum sedangkan Al Farghani hanya melihat saja.

Tak lama kemudian Rahib pun kembali kepada Al Farghani dan mengucap,”Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah”.

Setelah itu, Al Farghani pun memberi nasihat kepada para Rahib yang berada di biara itu, hingga akhirnya seluruhnya mengikrarkan diri untuk masuk Islam.

Dan Al Farghani akhirnya kembali ke Baghdad bersama para ahli ibadah dan para rahib yang telah masuk Islam.

(Thabaqat Al Auliya, hal. 304)

Sumber : FP Kisah Wali Allah

Share:

Manaqib & Karomah Habib Umar Condet


Suatu hari, beberapa tahun silam, sebuah rumah di pemukiman padat Batu Ampar, Condet, Jakarta Timur terbakar hebat. Api berkobar menghanguskan apa saja. Masyarakat tidak bisa berbuat apa-apa, karena sumber air jauh. Sementara petugas Dinas Pemadam Kebakaran tak kunjung datang. Tiba-tiba, di antara kerumunan penduduk, menyeruaklah seorang lelaki berserban dan memegang tasbih. Dengan gagah berani ia maju ke arah rumah yang terbakar itu sambil mengibas-ngibaskan serbannya.

Ajaib! Dalam waktu sekejap, api yang berkobar hebat itu padam. Setelah itu, ia pergi begitu saja. Siapa dia?

Penduduk Batu Ampar mengenalnya sebagai Habib Umar Al Atthas. Ulama itu mula-mula tinggal di Kwitang, Jakarta Pusat, kemudia hijrah ke Batu Ampar.

Habib Umar bin Muhammad bin Hud Al Atthas lahir sekitar tahun 1890-an di Huraidhoh, Hadramaut, Yaman. Sejak muda beliau menimba ilmu agama di Hadramaut. Sampai akhirnya beliau hijrah ke Jakarta pada tahun 1940-an untuk menemui kedua orang tuanya, Habib Muhammad bin Hasan bin Ali bin Hud Al Atthas yang telah terlebih dulu menetap di Kwitang.

Dalam perjalanan ke Betawi, beliau singgah di Kuala lumpur, Singapura dan Brunei untuk menggelar dakwah yang dihadiri ratusan jama'ah. Baru pada awal 1950-an beliau tiba di Jakarta, dan tinggal di Pasar Minggu, kemudian ia pindah lagi dan selanjutnya menetap di Batu Ampar. Di kediaman yang baru ini, beliau berdakwah dengan pendekatan persuasif. Penduduk mengenalnya sebagai ulama yang berpenampilan sejuk dengan karomah yang luar biasa.

Karomah beliau misalnya, terjadi ketika beliau diminta membantu orang yang gemar membeli undian. Tapi anehnya dengan tenang dan baik, Habib Umar melayaninya.

"Habib Umar, saya minta nomor undian." Kata lelaki itu tanpa sungkan.

"Aku akan berikan engkau nomor undian, dengan syarat jika engkau menang undian segeralah bawa uang itu kepadaku." Jawab Habib Umar.

Beberapa hari kemudian lelaki itu datang lagi. "Habib, saya berhasil menang undian. Ini uangnya." Katanya berseri-seri.

Dengan tenang Habib Umar minta muridnya mengambil sebuah baskom, lalu katanya, "Perhatikan apa yang aku perbuat." Lalu beliau menggenggan uang segepok itu dan memerahnya di atas baskom. Aneh! Dari genggaman tangan Habib Umar mengucurkan darah segar, mengalir memenuhi baskom. "Lihatlah, apa yang telah engkau dapatkan dari undian itu." Katanya.

Lelaki itu kaget, dan akhirnya bertobat.

Di saat yang lain, ketika Habib Umar tengah menggelar taklim di masjid, masuklah seorang lelaki berwajah putih bersih. "Wahai Habib Umar, bolehkah aku meminta nasi kebuli?" tanya lelaki itu.

Permintaan aneh itu tentu saja membuat terkejut seluruh jama'ah. Namun, dengan tersenyum Habib Umar berkata bijak, "Pergilah ke belakang, dan bersantaplah." Maka lelaki itu pun segera pergi ke dapur.

Tak lama kemudian taklim itu pun usai, dan Habib Umar bersama para jama'ah menyusul ke dapur. Mereka melihat lelaki itu tengah menyantap nasi kebuli dengan sangat lahap.

"Siapakah dia? "dia tamu kita, dia adalah Nabi Khidir AS." Jawab Habib Umar.

Tidak semua Ulama besar mendapat kesempatan dikunjungi Nabi Khidir AS. Dan kunjungan Nabi Khidir AS itu menunjukkan betapa Habib Umar sangat alim dan shaleh.

Ada cerita lain mengenai karomahnya. Pada suatu hari datanglah seorang lelaki membawa air agar didoakan sebagai obat. Tapi baru saja ia mengetuk pintu, Habib Umar sudah menyuruhnya pulang. Tentu ia bersikeras dan bertahan menunggu di depan pintu. Akhirnya Habib Umar keluar. Katanya, "Pulanglah, air yang engkau bawa itu sudah bisa menyembuhkan."

"Tapi, Bib..."

"Pulanglah. Bukankah engkau sudah ditunggu oleh keluargamu?"

Mendengar jawaban Habib Umar yang begitu santun dan lembut, orang itu sungkan juga. Akhirnya dengan keyakinan yang kuat ia pulang membawa air dalam botol tersebut, dan menuangkannya ke dalam gelas untuk diminum oleh keluarganya yang sakit.

Ajaib! Tak lama kemudian keluarga yang sakit tersebut sembuh. Setelah sembuh, mereka bertamu ke rumah Habib Umar untuk bersilaturahim. Menurut beberapa Habib yang kenal dekat dengan Habib Umar, karamah yang dimilikinya itu berkat keikhlasan dalam merawat ibundanya selama 40 tahun dengan tekun, ikhlas dan sabar. Beliau merawat sang ibu hingga akhir hayatnya.

Habib Ismail bin Yahya, seorang pengurus Naqabatul Ashraf, adalah satu lembaga penyensus para Habaib, juga menyatakan, karomah tersebut berkat keikhlasan Habib Umar merawat ibundanya. Bahkan karena lebih mementingkan merawat sang Ibu, suatu saat Habib Umar tidak sempat menghadiri pengajian-pengajian di luar rumah, termasuk masjid Riyadh, Kwitang, yang digelar Habib Ali bin 'Abdurrahman Al Habsyi Kwitang.

Ulama besar yang dikenal sangat sederhana dan tawadu' ini wafat pada tahun 1999 dalam usia 108 tahun. Meninggalkan tiga putra : Habib Husein, Habib Muhammad dan Habib Salim. Selama hidupnya, almarhum selalu menekankan pentingnya mencintai dan meneladani Rasulullah SAW. Sebagai ulama yang shaleh, seperti halnya habaib yang lain, beliau juga suka menggelar Maulid. Dalam maulid enam tahun lalu, sebelum wafat Habib Umar memotong 1600 ekor kambing untuk menjamu puluhan ribu Jama'ah.

Habib Umar dimakamkan di komplek pemakaman Al Hawi, Condet, Jakarta Timur. Upacara pemakamannya kala itu dihadiri puluhan ribu jama'ah. Bahkan begitu banyaknya jama'ah yang ingin menshalatkan jenazahnya. Shalat jenazah dilakukan sampai tiga kali dengan tiga orang Imam.

Sumber : FP Kisah Wali Allah

Share:

Friday, March 5, 2021

Habib Husein bin Hadi, Waliyullah Berumur Panjang

 


Habib Husein bin Hadi bin Salim Hamid, beliau adalah seorang Waliyullah yang berumur panjang dan jauh dari penyakit. Beliau wafat saat berumur 124 tahun. Dikatakan sepanjang hayatnya, beliau tidak pernah luput dari melakukan sholat Shubuh secara berjemaah. Dan inilah kunci kenapa beliau dianugerahkan umur yang panjang.

Pernah ditanya kepadanya, kenapa beliau tidak pernah ada penyakit?

Beliau menjawab, "Aku tidak pernah iri atau dengki kepada siapapun."

Habib Husein dilahirkan di Hadramaut, Yaman pada 1862 Masehi. Dari kecil beliau diasuh dan dididik oleh kedua orang tuanya. Sampai beliau berumur 86 tahun, ketika orang sebayanya sudah sampai ke peringkat umur senja, tetapi Habib Husein masih lagi segar dan sehat. Pada tahun 1929, beliau mengembara menggunakan kapal laut milik saudagar Arab yang akan berdagang.

Beliau kemudian sampai ke India dan menetap disana selama 2 tahun. Di India, beliau berguru dengan ulama setempat sambil berdagang. Kemudian beliau mengembara lagi sampai ke Indonesia. Beliau menumpang dirumah penduduk setempat sampai mampu mendirikan sebuah Pesantren kecil yang dikenali sebagai Pesantren Ahlus Sunnah Wal Jamaah.

Habib Husein bin Hadi wafat pada hari Jum'at, 11 Shafar 1406 Hijriah atau 25 Januari 1986 Masehi. Jenazahnya dimakamkan di Masjid Al-Mubarak, komplek Pondok Pesantren Ahlus Sunnah Wal Jamaah, Desa Brani Kulon, Probolinggo, Jawa Timur.

Sumber : FP Kisah Wali Allah

Share:

Kisah Sang Kekasih

Subscribe Channel Kami