Windarwati : Cekelan Sarung Kyai

Aja Sampek Ucul Cekelan Sarung Kyai. Maksude tutke kyai, sebab kyai kui warisane nabi SAW. lan ojo asal pilih Kyai sing Sangar

Wirda Mansur : Dahulukan Alloh

Dahulukan Alloh. Alloh dulu, Alloh lagi, Alloh terus.

Tentang Pecinta

Hakikatnya Pecinta itu, tidak ingin jauh jauh, apalagi berpisah dengan yang dia cintai.

UYM : Kita Hidup Juga Masalah

Dunia ini penuh masalah, kita hidup juga sudah termasuk masalah. iya kan?

Aa Gym : Jangan Ributkan Perbedaan!

Kita juga Produk dari perbedaan. Kita lahir dari laki-laki dan perempuan, Adam dan Hawa, bukan Adam dan Asep

Friday, July 30, 2021

Terkena 20 Penyakit Keras Karena Tak Percaya Karomah Syekh Ismail, Akhirnya Syekh Ini Taubat

 


Syekh Ismail bin Ibrahim bin Abdus Shamad Al Jabarti adalah seorang wali Allah yang banyak sekali karomahnya. Pernah suatu ketika ada kawannya yang sedang shalat berjamaah di belakang beliau. Di kantung orang tersebut terdapat uang satu dirham dan ia berfikir apakah uang tersebut daoat mencukupi keluarganya atau tidak. Sedangkan ia dalam keadaan shalat hingga sampai lupa membaca surat Al Fatihah dalam salah satu raka’atnya. Setelah shalat berjamaah itu selesai, Syekh Ismail bertanya padanya: “Ulangilah shalat kamu, karena kamu terlupa membaca surat Al Fatihah disebabkan kamu memikirkan uang satu dirham”.

Dikisahkan pula, bahwa pada suatu hari ketika Syekh Ismail sedang menghadiri majlis ilmiah, tiba-tiba beliau berdiri dan berteriak seolah-olah memberi petunjuk kepada orang untuk melakukan sesuatu. Dan beliau pun seolah-olah sedang memegang sesuatu. Kemudian beliau duduk kembali sambil mendengarkan pengajian yang sedang berlangsung. Orang-orang yang hadir di majlis itu merasa heran melihat tingkah Syekh Ismail seperti itu. Namun mereka tidak ada yang berani menanyakan pada Syekh Ismail. Tidak beberapa lama, akhirnya Syekh Ya’kub Al Masakha’i muncul bercerita bahwasannya, pada suatu malam beliau bersama kawan-kawannya dilanda oleh angin ribut dan gelombang besar, dan hampir saja perahunya terbalik. Di saat itulah aku panggil Syekh Ismail dan minta pertolongan dari beliau. Tiba-tiba ku lihat beliau datang ke perahu kita yang akan karam, dan beliau memegang kemudi sampai Allah menyelamatkan perahu kita dengan berkatnya.

Syekh Ya’kub dikenal sebagai seorang yang gemar sekali berlayar. Ia pernah mengadukan pada Syekh Ismail bahwa dalam pelayarannya sering mendapatkan angin topan. Beliau menyuruhnya jika mendapatkan gangguan-gangguan semacam itu untuk memanggil nama beliau (ber istighasah). Waktu ia mendapatkan gangguan angin ribut, ia teringat pada pesan Syekh Ismail.

Dikisahkan pula bahwa ada seorang ulama di kota Mekkah yang bernama Syekh Abdurrahim Al Amyuti, yang mana beliau berkata : “Pada mulanya aku tidak percaya pada Syekh Ismail dan sering mencemoohnya. Tiba-tiba di suatu malam aku bermimpi seolah-olah Syekh Ismail datang bersama rombongannya padaku. Kemudian ia berkata: “Ambilkan penyakit si fulan itu”. Setelah diambilkan oleh salah seorang, penyakit itu diletakan pada tubuhku. Kemudian beliau menyuruh kawannya yang lain untuk mengambil penyakit si fulan yang lain. Setelah diambilnya, penyakit itu kemudian diletakan pada tubuhku lagi. Demikianlah seterusnya, hingga kira-kira ada dua puluh penyakit yang diletakan pada tubuhku. Waktu aku bangun, ku dapatkan di tubuhku ada dua puluh penyakit yang ku rasakan sangat pedih sekali. Rasanya hampir saja mati aku dibuatnya. Sorenya, terpaksa aku menyuruh seorang untuk datang pada Syekh Ismail guna untuk memohonkan maaf atas segala perbuatanku yang tidak baik itu. Dan aku pun bertaubat kepada Allah. Sejak hari itu, aku percaya sepenuhnya akan kekaromahan Syekh Ismail.

Karomah yang lain pernah dikisahkan bahwa Al Qadhi Fahruddin An Nuri Al Makki berkata: “Setelah wafatnya Syekh Ismail, sewaktu aku sedang tidur di dalam Masjidil Haram, aku bermimpi melihat Syekh Ismail berkata: “Demi Allah, sesungguhnya aku tidak mati. Aku tetap hidup dan diberi rizki oleh Allah. Aku disisi Allah berada di golongan para Nabi, Siddiqin, dan para Syuhada”.

Salah seorang Shalih berkata: “Aku pernah bermimpi melihat Syekh Ismail dalam kuburnya sedang duduk di atas ranjang bersama sekelompok orang yang sedang membaca surat Yaasiin. Ketika ku tanya, “Hai tuan, adakah engkau membaca surat Yaasiin bersama kawanmu dalam kubur itu seperti ketika engaku di dunia?”. Jawabnya: “Ya, demikianlah keadaanku sebenarnya”.

Pernah  pada suatu hari Syekh Ismail berkumpul bersama Syekh Abibakar bin Abi Harbah. Di saat itu, Syekh Abi Bakar tenggelam dalam alam malakut sampai tak sadarkan diri. Setelah sadar, beliau berkata: “Wahai saudaraku, sungguh tidak seorang pun yang tahu akan derajatmu di sisi Allah selain hanya Allah sendiri. Demi Allah, kamu memperoleh derajat yang tidak pernah dicapai oleh seorang pun selainmu”.

Syekh Ismail Al Jabarti wafat di tahun 806 H dan dikuburkan di pemakaman Bab Siham di kota Zubaid. Dan makamnya selalu dikunjungi peziarah.

 

Sumber : Kumpulan Kisah Keramat Para Wali Allah, Yunus Ali Al Muhdar, 2000 (dengan diedit)


Share:

Monday, July 26, 2021

Kisah Karomah Luar Biasa Habib Hasan bin Abdurrahman Assegaf

 


Al Habib Hasan bin Abdurrahman Assegaf  dikenal sebagai seorang wali yang besar karomahnya. Diriwayatkan bahwa pada suatu hari, waktu beliau masih muda, beliau sering keluar berburu bersama kawan-kawannya. Dalam suatu perburuan, ketika rombongannya kehabisan bekal, mereka mengeuh dan ketakutan. Habib Hasan lantas keluar dari rombongan sebentar. Sekembalinya beliau, mereka dapatkan beliau membawa segantang buah kurma yang masih segar.

Diriwayatkan pula bahwasannya ada seseorang yang memberi Habib Hasan pinjaman delapan gantang kurma. Pada suatu hari, ketika orang itu menagihnya, beiau dapatkan kurma yang dititipkan di rumah sauadara wanitanya ternyata tinggal lima gantang, sedangkan beliau tidak punya sesuatu apapun untuk menggantinya. Kurma itu lantas diambilnya, kemudian dibolak-balikan. Anehnya ketika kurma itu ditimbang kembali, beliau dapatkan jumlah kuarma tersebut menjadi delapan gantang.

Diriwayatkan pula, bahwa ketika salah seorang muridnya meminta izin hendak berkunjung ke rumah beliau. Beliau berkata pada isterinya: “Buatkan untuk suamimu hidangan yang istimewa”. Istrinya menjawab: “Siapa lagi suamiku selain engkau?” Habib Hasan menimpali, “Muridku itu akan jadi suamimu kelak setelah aku meninggal”. Apa yang dikatakan oleh beliau ternyata benar. Sepeninggalnya, isterinya dinikahkan dengan muridnya.

Diriwayatkan, ada seorang murid Habib Hasan yang mengikuti beliau waktu berziarah ke suatu makam. Sekembalinya dari makam, waktu keduanya berjalan di bawah terik matahari yang sangat panas, sang murid mengeluh tidak dapat menginjakan kedua telapaknya di bumi yang sepanas itu. Habib Hasan berkata: “Letakan kakimu pada bekas telapk kakiku”. Sang murid itu menjalankan perintahnya, sehingga tidak merasa kepanasan lagi.

Habib Hasan bin Abdurrahman Assegaf wafat di Kota Tarim, Hadramaut, Yaman pada tahun 813 H.

 

Sumber : Kisah Keramat Para Wali Allah, Ali Yunus Al Muhdar, 2000 (dengan diedit)


Share:

Saturday, July 24, 2021

Pria Ini Menolak Dan Jadi Wali Karena Doa Sang Wanita

 


Zurai’ bin Muhammad Al Haddad Al Yamani Beliau banyak dikenal dengan panggilan Abu Muhammad. Sedang kisah tentang karomahnya besar sekali.

Diriwayatkan, pada suatu hari Abu Muhammad memegang besi yang menyala, namun besi itu tak dapat melukai tubuhnya walaupun sampai digesekan ke tubuhnya. Hal itu disebabkan pada suatu hari beliau pernah merayu seorang wanita saat beliau masih muda. Namun winita itu selalu menolaknya. Abu Muhammad dikenal sebagai orang yang kaya raya dan banyak menolong orang lain. Pada suatu waktu, ketika wanita itu ditimpa musibah, ia butuh uang dan bantuan. Karena itulah ia teringat dengan Abu Muhammad yang dahulu pernah merayunya. Wanita  itu pun segera mengundang Abu Muhammad ke rumahnya. Ketika Abu Muhammad berjumpa dengan wanita itu, beliau bertanya padanya:

“Apakah yang menyebabkan anda mengajakku berbuat seperti ini?”

Wanita itu menjawab: “Aku tertimpa suatu musibah. Aku butuh uang dan pertolongan, dan aku tidak tahu jalan lain selain ingat padamu. Sebenarnya aku tidak terbiasa mengajak laki-laki lain ke suatu jalan yang tidak baik”.

Mendengar ucapan itu, Abu Muhammad segera sadar akan dirinya. Kemudian beliau segera meninggalkan wanita itu dan beliau pun bertaubat kepada Allah. Ketika wanita itu melihat Abu Muhammad meninggalkannya dan memberikan semua harta yang dimilikinya itu, ia lantas berdoa kepada Allah:

“Semoga Allah menjauhkan engkau dari api neraka, sebagaimana engkau menjauhi dari perbuatan buru yang akan menyebabkan aku aku terjerumus ke dalam api neraka”.

Ternyata doa wanita itu dikabulkan oleh Allah, sehingga Abu Muhammad mendapatkan derajat kewalian, dan diberi karomah tidak akan terbakar oleh api yang menyala. Sejak saat itu, Abu Muhammad terus beribadah dan selalu berkumpul dengan orang-orang yang shalih. Dan karomah beliaupun banyak bermunculan.

Abu Muhammad wafat pada tahun 668 H.

Sumber Kisah : Buku Keramat Para Wali Allah, Yunus Ali Al Muhdar, 2000 (Dengan diedit)

Share:

Friday, July 23, 2021

Kisah Wali Allah Hidupkan Ayam Yang Telah Mati Dimakannya Sendiri


Syaikh Siraj pernah berkata dalam bukunya Tuffahul Arwah bahwasannya, Muhammad bin Warsyanah,  yaitu seorang yang dipercayai untuk mengurusi badan wakaf untuk keperluan kaum fakir. Kaum fakir itu banyak yang mengeluh kepada Syaikh Tajuddin bin Rifa’i atas ketidakadlilan Muhammad bin Warsyanah. Sebab atas pengaduan itu, Syaikh Tajuddin lalu memanggil Muhammad bin Warsyanah ke hadapannya. Setelah Muhammad bin Warsyanah sampai, beliau Syaikh Tajuddin berkata padanya: “Wahai Muhammad, banyak kaum fakir yang mengeluh tentang ketidakadilanmu. Jika mereka berdusta, pasti kamu tahu. Dan jika mereka benar, pasti kamu kan tahu.” Belum selesai Syaikh Tajuddin berkata demikian, tiba-tiba Muhammad bin Warsyanah jatuh tersungkur dihadapan Syaikh Tajuddin dan menghembuskan nafasnya yang terakhir. Kejadian tersebut banyak disaksikan orang banyak.

Dikisahkan pula, pernah Syaikh Tajuddin bin Rifa’i pada suatu hari pergi ke suatu desa. Beliau tahu bahwa sebagian penduduknya tidak percaya akan adanya wali dan karomahnya. Kedatangan Syaikh Tajuddin disaksikan orang banyak. Di desa itu dikenal ada seorang yang tersohor sangar pelit. Di desa tersebut, beliau meminta pada orang yang dikenal sebagai orang yang pelit itu seekor ayam. Ayam itu dimakannya semua. Semua orang yang hadir di majelis itu berkata: “Wahai Syaikh, ayam yang kamu makan itu masih punya anak-anak kecil”. Mendengar ucapan para hidaran itu, beliau segera menunjukan tangannya ke mangkuk yang berisi sisa kuah dan tulang ayam yang habis dimakan beliau. Pada saat mereka membungka mangkuk itu, mereka terperanjat melihat bekas tulang belulang ayam itu kini berubah menjadi seeokor ayam hidup. Kemudian Syaikh Tajuddin mengembalikan ayam itu pada anak-anak ayam yang sedang mencari induknya.

Dikisahkan pula, Syaikh Tajuddin waktu itu masuk ke rumahnya di waktu siang, kemudian beliau tidur. Melihat Syaikh Tajuddin sedang tidur, kawan-kawannya lalu keluar rumah. Anehnya, waktu mereka masuk kembali, mereka dapatkan Syaikh Tajuddin tidak ada di tempat tidurnya. Mereka menjadi heran semuanya. Ketika mereka masih merasa heran dengan apa yang terjadi, tiba-tiba Syaikh Tajuddin sudah berada lagi di tempat tidurnya tanpa diketahui darimana munculnya beliau. Kemudian Syaikh Tajuddin bangkit untuk sholat. Dalam keadaan yang sedemikian itu,tidak seorang pun yang berani menanyakan pada beliau.

Dikisahkan pula bahwa beliau mendengar putrinya sakit. Ketika Syaikh Tajuddin mengambil air wudhu, Allah memberinya ilham agar bekas air wudhunya itu diminumkan. Setelah diminumkan, Allah memberinya kesembuhan.

Selain itu, masih banyak karomah beliau yang perlu disebutkan disini. Namun karena mengingat tempat, terpaksa kami cukupkan dengan yang ada saja.

Syaikh Tajuddin wafat di Mekkah pada tahun 1050 H. Beliau dimakamkan di makam yang telah disiapkan sendiri semasa hidupnya. Beliau dimakamkan di atas gunung  Qaiqa’an. Makam beliau banyak dikunjungi orang.

Sumber : Buku Kumpulan Kisah Keramat Para Wali, Yunus Ali Al Muhdar, 2000 (dengan editan)

Share:

Sunday, July 18, 2021

Kisah Waliyullah Yang Melengserkan Walikota


Imam Sya’roni pernah berkata: “Aku pernah mendengar dari Sayyid Afdhaluddin bercerita : “Ketika kami sedang keluar dari pintu Bab Zawilah dekat rumah seorang Walikota, kami dapatkan ada seorang pedagang dari Maroko dengan mengendarai kudanya sambil memegang tangan Syaikh Barakat Al Khoyat yang dituduhnya mencuri. Ia datang mengadukan perkaranya pada Walikota tersebut: “Orang ini mencuri dalam rumahku, pukulah ia sampai jerah. Jika orang ini binasa, aku bersedia membayar tebusan nyawanya”. Tanpa memeriksa kebenaran tuduhan sang pedagang, Walikota tersebut segera mengahajar Syaikh Barakat Al Khoyat sampai kepayahan karena luka-luka yang dideritanya. Setelah hukuman itu dilaksanakan, sang pedagang berkata pada Walikota: “Sebenarnya bukan orang ini yang mencuri”. Namun Walikota itu tetap menghajar Syaikh Barakat Al Khoyat dengan tongkat sampai sepuas hatinya. Saat Walikota itu tidur, ia bermimpi Syaikh Barakat, dan beliau berkata pada Walikota: “Wahai orang dzalim, aku tidak akan meninggalkan tempat ini sampai kamu dipecat oleh Sultan”. Tepat pada keesokan harinya, datanglah surat pemecatan untuk sang Walikota dari Sultan.

Salah satu dari karomahnya Barakat Al Khoyat yaitu, tepat di hari masuknya Ibnu Usman ke Mesir, beliau mengabarkan kedatangannya yaitu di akhir tahun 922 H., walaupun beliau tidak menyaksikan kejadian tersebut. Dan apa yang dikatakan oleh beliau itu ternyata benar.

Syaikh Barakat wafat di Mesir, dan dimakamkan di dekat telaga Sharim dekat Al Husainiah. Beliau dimakamkan disuatu Kubbah yang dibangun oleh salah seorang murid beliau. Di dalamnya dimakamkan pula beberapa orang Wali Allah termasuk juga Syaikh Ali Al Khawwas.

Sumber : Kumpulan Kisah Keramat Para Wali, Yunus Ali Al Muhdar, 2000


Share:

Wednesday, July 14, 2021

Kisah Syaikh Ibrahim Dasuqi & Seekor Buaya Yang Memakan Anak Kecil

 


Al Imam Asy Syaikh Ibrahim Dasuqi adalah seorang Wali Allah yang terkenal pengaruhnya di Mesir. Beliau adalah seorang pemimpin thariqoh Dasuqiah yang besar pengikutnya di Mesir. Dan beliau adalah salah seorang Wali Allah yang faham bahasa Ibrani, Siryani, dan bahasa lainnya.

Sebagian karomahnya pernah dikisahkan oleh Al Manawi, bahwasannya pernah ada seekor buaya yang menerkam atau memakan hidup-hidup seorang anak kecil. Ibu anak kecil itu datang mengadu kepada Imam Ibrahim Dasuqi sambil bergetar sekujur tubuhnya.

Mendengar aduan Ibu anak kecil itu, Imam Dasuqi segera mengutus pesuruhnya untuk pergi ke tepi sungai dan berseru di hadapan buaya-buaya yang berada di dalam sungai itu agar mengembalikan anak kecil yang ditelan. Buaya yang menelan anak kecil itu mendengar seruan itu, dan segera datang menghampiri pesuruh itu, dan bersamanya pergi menghadap Imam Ibrahim Dasuqi.

Setelah buaya itu sampai di hadapan Imam Ibrahim Dasuqi, beliau Imam Ibrahim memerintahkan buaya itu agar segera untuk memuntahkan anak kecil yang ditelannya.

Buaya itu segera mengeluarkan anak yang ditelannya hidup-hidup. Setelah anak kecil itu dikembalikan pada Ibunya, Imam Ibrahim Dasuqi berkata pada buaya: “Matilah engkau dengan izin Allah!”. Dengan izin Allah, buaya itu pun akhirnya mati.

Begitulah kisah Imam Ibrahim Dasuqi & buaya yang memakan anak kecil

Sumber kisah : Kumpulan Kisah Keramat Para Wali, Yunus Ali Al Muhdar, 2000 (dengan diedit)

Share:

Tuesday, July 13, 2021

Karomah Luar Biasa Sayyidina Abu Bakar Ash Shidiq RA

 


Imam Bukhari dan Imam Muslim pernah meriwayatkan dari Abdurrahman bin Abu Bakar yang berkata: “Pernah di suatu hari Sayyidina Abu Bakar Ash Shidiq kedatangan tiga orang tamu di rumahnya. Kemudian Sayyidina Abu Bakar Ash Shidiq pergi ke tempat Rasulullah SAW untuk makan malam. Di tengah malam, Sayyidina Abu Bakar Ash Shidiq kembali ke rumahnya. Sesampainya di rumah, isterinya bertanya kepada Sayyidina Abu Bakar Ash Shidiq: “Apakah menyebabkan engkau menahan tiga orang tamu itu?”

Tanya Sayyidina Abu Bakar Ash Shidiq : “Sudahkah engkau berikan makan malam ketiga orang tamuku itu?”

Jawab Isterinya : “Mereka tidak mau makan malam sebelum engkau datang.”

“Demi Allah, sedikitpun aku tidak makan.” Timpal Sayyidina Abu Bakar Ash Shidiq

Kemudian Sayyidina Abu Bakar Ash Shidiq berkata: “Makanlah hidangan itu.”

Salah satu tamu kemudian menjawab: “Demi Allah, kami heran sekali. Setiap kali kami makan dari hidangan itu sesuap, hidangan itu jadi bertambah banyak, sampai kami kenyang semuanya. Sedangkan hidangan itu bertambah banyak dari semula.”

Ketika Sayyidina Abu Bakar Ash Shidiq melihatnya, ia lihat hidangan itu jadi bertambah banyak. Sayyidan Abu Bakar Ash Shidiq kemudian bertanya pada isterinya: “Wahai Isteriku, adakah kamu masak makanan sebanyak itu?”

Isterinya menjawab dengan tegas : “Demi Allah, tidak! Sungguh hidangan ini bertambah banyak tiga kali lipat dari semula.”

Kemudian Sayyidina Abu Bakar Ash Shidiq ikut makan dari hidangan itu seraya berkata: “Mungkin dari perbuatan Syaithan.”

Setelah itu, Sayyidina Abu Bakar Ash Shidiq membawa hidangan itu kepada Rasulullah SAW. Di pagi harinya, hidangan itu masih seperti semula. Waktu itu, kami sedang mempunyai janji dengan suatu kaum. Setelah batas waktunya berlalu, ada dua belas orang dari kami yang bubar. Dan setiap orang dari mereka membawa kawan-kawannya yang banyak. Nabi SAW menyuruh mereka kembali datang untuk makan bersama dari hidangan itu. Tidak seorang pun yang tertinggal untuk makan dari hidangan itu melainkan mereka telah puas.

Imam Fakhrur Razi ketika menafsirkan surat Al Kahfi, beliau pernah membawakan kekaromahan para Sahabat Rasulullah SAW sebagai berikut: “Termasuk salah satu kekaromahan Sayyidina Abu Bakar Ash Shidiq RA ialah ketika jenazah beliau yang sedang diusung itu sampai depan pintu makamnya Rasulullah SAW., orang-orang yang memikulnya itu berkata: “Assalamu’alaika Yaa Rasulallah. Ini adalah Abu Bakar yang sedang di luar pintu”. Tiba-tiba pintu makam Rasulullah SAW itu terbuka dan terdengar suara yang datang dari makam beliau: “Masuklah orang yang dicintai kepada orang yang mencintainya”.

Urwah Ibnu Zubair pernah meriwayatkan dari Aisyah RA., bahwasannya Sayyidina Abu Bakar Ash Shidiq pernah memberikan dua puluh gantang hasil kurma semasa ia masih sehat. Ketika Sayyidina Abu Bakar Ash Shidiq mendekati ajalnya, beliau berkata: “Wahai Puteriku, tidaklah seorang berada dalam keadaan cukup yang lebih ku senangi daripada kamu. Dan tidaklah seorang berada dalam keadaan kesempitan yang tidak ku inginkan lebih dari pada kamu. Dahulu waktu ku berikan padamu hasil kurma sebanyak dua puluh gantang, kamu tidak mau menerimanya. Sekarang hasil kurma itu akan jadi harta waris. Karena itu, nanti bagilah pada kedua saudara lelakimu dan kedua saudara perempuanmu sesuai dengan yang ditetapkan Al Qur’an”.

Sayyidah Aisyah menjawab :  “Wahai Ayahku, saudara perempuanku hanya Asma’ saja. Siapakah yang lain?”

Sayyidina Abu Bakar menjawab : “Yang dalam kandungan Ibumu itu ku lihat akan lahir seorang perempuan”.

Dan ternyata apa yang dikatakan oleh Sayyidina Abu Bakar Ash Shidiq itu benar lahir seorang perempuan.

Imam Tajus Subki menganggap kisah itu sebagai bukti adanya kekaromahan yang dimiliki oleh Sayyidina Abu Bakar Ash Shidiq RA. Pertama, ia memberitahukan pada Sayyidah Aisyah bahwa ia akan meninggal dunia segera dengan isyaratnya bahwa harta itu telah menjadi harta waris. Kedua, ia memberi isyarat bahwa bayi yang dikandung isterinya akan lahir seorang wanita. Apa yang diisyaratkan oleh Sayyidina Abu Bakar Ash Shidiq RA itu terjadi semuanya sepeninggalan beliau.

Sumber : Keramat Para Wali Allah, Yunus Ali Al Muhdar, 2000

Wallohu A'lam Bisshowab...

Share:

Kisah Sang Kekasih

Subscribe Channel Kami