Sunday, March 28, 2021

Beda Pendapat Soal Rezeki, Guru dan Murid Ini Justru Ketawa

 


Guru & Murid Tertawa Karena Beda Pendapat Tentang Rezeki :

Seorang Guru dalam majlis menyampaikan :

"Sesungguhnya rezeki itu datang tanpa sebab, cukup dengan tawakkal yang benar kepada Allah niscaya Allah akan meberikan Rezeki. Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah mengurus lainnya."

Sementara Sang Murid bependapat lain dari Gurunya :

"Seandainya seekor burung tidak keluar dari sangkarnya, bagaimana mungkin ia akan mendapatkan rezeki."

Guru dan Murid bersikukuh pada pada pendapatnya masing-masing.

Hingga suatu waktu, Sang Murid meningglkan pondok. Sang Murid melihat serombongan orang tengah memanen anggur. Diapun membantu mereka. Setelah pekerjaan selesai, Sang Murid memperoleh imbalan beberapa ikat anggur sebagai balas jasa.

Sang Murid pun girang, bukan karena mendapatkan anggur, tetapi pemberian itu telah menguatkan pendapatnya  tentang rezeki. Jika burung tak terbang dari sangkar, bagaimana ia akan mendapat rezeki. Seandainya dia tak membantu memanen, niscaya tidak akan mendapatkan anggur.

Bergegas dia menjumpai Sang Guru. Sambil menaruh seluruh anggur yang didapatnya, dia bercerita. Sang Murid sedikit mengeraskan bagian kalimat “Seandainya saya tidak keluar pondok dan melakukan sesuatu (membantu memanen), tentu saja anggur itu tidak akan pernah sampai di tangan saya.”

Mendengar itu, Sang Guru tersenyum, seraya mengambil anggur dan mencicipinya. Sang Guru berucap pelan.

“Sehari ini aku memang tidak keluar pondok. Hanya mengambil tugas sebagai guru, dan sedikit berpikir alangkah nikmatnya kalau dalam hari yang panas ini aku bisa menikmati anggur. Tiba-tiba engkau datang sambil membawakan beberapa ikat anggur untukku. Bukankah ini juga bagian dari rezeki yang datang tanpa sebab. Cukup dengan tawakkal yang benar kepada Allah niscaya Allah akan berikan rezeki. Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah yang mengurus lainnya.”

Sang Guru dan Sang Murid itu kemudian tertawa. Sang Guru yang dimaksud adalah Imam Malik, dan Sang Murid adalah Imam Syafi'i. 

Dua Imam madzab yang mengambil dua hukum yang berbeda dari hadits yang sama.

Begitulah cara Ulama bila melihat perbedaan, bukan dengan cara menyalahkan orang lain dan hanya membenarkan pendapatnya saja.

Semoga kisah ini dapat menjadi pelajaran untuk kita semua..

Sumber: FP (Kisah Wali Allah)

Baca Juga
Share:

0 komentar:

Kisah Sang Kekasih

Subscribe Channel Kami