Windarwati : Cekelan Sarung Kyai

Aja Sampek Ucul Cekelan Sarung Kyai. Maksude tutke kyai, sebab kyai kui warisane nabi SAW. lan ojo asal pilih Kyai sing Sangar

Wirda Mansur : Dahulukan Alloh

Dahulukan Alloh. Alloh dulu, Alloh lagi, Alloh terus.

Tentang Pecinta

Hakikatnya Pecinta itu, tidak ingin jauh jauh, apalagi berpisah dengan yang dia cintai.

UYM : Kita Hidup Juga Masalah

Dunia ini penuh masalah, kita hidup juga sudah termasuk masalah. iya kan?

Aa Gym : Jangan Ributkan Perbedaan!

Kita juga Produk dari perbedaan. Kita lahir dari laki-laki dan perempuan, Adam dan Hawa, bukan Adam dan Asep

Sunday, September 19, 2021

Aku Mudah Marah Karena Ini


Malam ini berjalan seperti biasa. Malam yang ketika aku tak ingin ada yang mengganggu. Malam yang lebih aku tak tahu. Tak tahu tentang apa yang dia lakukannya, karenanya sangat mengganggu.
Aku mencoba tenang dan sabar, tentang apapun yang akan terjadi. Sebab itu satu-satunya yang dapat menenangkan hati.

Namun, rasa perih di hati seakan sulit terbendung lagi. Selalu dan selalu terbakar oleh api emosi. Cemburu, mungkin itu salah satu emosi yang mengisi hati.

Ketika hati ini telah dipenuhi api, maka sudah pasti ia akan terbakar. Aku hanya takut, hati akan mati dan segala rasa akan pudar. Tapi semua itu haruslah ditepis, dengan rasa sadar dan sabar. Jangan sampai diri ini jadi mati terkapar, hanya karena api asmara sementara yang berkobar. Wahai diri, hendaklah engkau banyak bersabar. Sesungguhnya Anugerah Allah untukmu sangatlah besar.
Share:

Saturday, September 11, 2021

Kisah Karomah Luar Biasa Wali Allah Yang Disusui Kijang Saat Bayi


 

Dikisahkan ada seorang Wali Allah yang ahli mukasyafah dan do’anya selalu dikabulkan oleh Allah. Beliau bernama Syaikh Ahmad Abul Abbas Al Basir. Syaikh Abul Abbas hidup semasa dengan seorang wali dan tokoh tarikat yang bernama Syaikh Abu Sa’ud bin Abil Asy’ari. Keduanya sering berhubungan dengan cara surat menyurat.

Syaikh Hatim pernah berkisah tentang karomah Syaikh Ahmad Abul Abbas sebagi berikut : “Aku pernah berkhidmad pada Syaikh Abu Sa’ud selama dua puluh tahun. Telah berkali-kali aku meminta bai’at pada beliau, namun beliau selalu menolak. Pada suatu hari, ketika aku meminta bai’at padanya, beliau Syaikh Abu Sa’ud berkata: “Sebenarnya engkau bukan untuk kami. Engkau adalah untuk Abul Abbas Al Basir, yang sebentar lagi akan datang dari Maghrib”. Ketika Syaikh Abul Abbas datang, beliau Syaikh Abu Sa’ud memberitahukan padaku, “Gurumu akan tiba di Mesir pada malam ini, untuk itu sambutlah beliau di Bulaq.”

Orang Mesir yang pertama kali menyambuut Syaikh Abul Abbas Al Basir adalah aku (Syaikh Hatim). Ketika aku berjabat tangan dengan Syaikh Abul Abbas, beliau menyambutku sambil berkata: “Selamat datang wahai muridku Hatim. Semoga Allah memberi pahala pada Syaih Abu Sa’ud yang telah menjagamu sampai aku tiba disini.”

Selain kisah di atas, ada pula kisah tentang karomah Syaikh Abul Abbas, bahwasannya isterinya pernah diundang oleh seorang penguasa di Mesir untuk menghadiri pesta perkawinan putrinya. Si Isteri meminta izin pada Syaikh Abul Abbas agar diizinkan menghadiri undangan pernikahan itu. Setelah diizinkan olehnya, si Isteri lalu bertanya: “Apakah aku boleh berpakaian yang hanya satu-satunya ini?” Syaikh Abul Abbas lantas menjawab: “Yaa...”. Anehnya waktu Syaikh pergi, Allah membalikan matanya dan si Isteri pun melihat pakaiannya yang sederhana itu menjadi pakaian sutra yang mahal dan berhiaskan dengan segala macam batu permata berharga yang tidak dimiliki dimiliki keluarga penguasa itu sendiri. Waktu si Isteri sampai di rumah penguasa tersebut, isteri penguasa dan dan para isteri pembesar lainnya merasa heran melihat kemewahan baju dan perhiasan Isteri Syaikh Abul Abbas yang dikenal sebagai orang miskin itu. Mereka berkata: “Tidak mungkin pakaian ini akan dimiliki oleh Isteri seorang fakir seperti itu.” Salah satu dari mereka bahkan ada yang menginginkan untuk membeli sebuah batu permata yang dipakainya itu dengan harga seribu dinar, namun ditolaknya karena belum meminta izin kepada suaminya. Sekembalinya dari pesta perkawinan itu, isterinya menceritakan pada suaminya akan kejadian yang dialaminya tersebut. Mendengar kisah itu, Syaikh Abul Abbas hanya tersenyum sambil berkata, “Sesungguhnya Allah mampu untuk menutupi kefakiran hamba-Nya yang dikehendaki-Nya.”

Dikisahkan pula bahwasannya ada salah seorang murid Syaikh Abul Abbas Al Basir yang hendak mengambil bai’at dari Syaikh Abudrrahim Al Qinawi sepeninggal Syaikh Abul Abbas. Saat Syaikh Abdurrahim akan menjabat tangan murid Syaikh Abul Abbas tersebut, tiba-tiba dari belakang mihrab keluarlah tangan Syaikh Abul Abbas yang melarang Syaikh Abdurrahim untuk mengambil bai’at dari murid beliau.

Syaikh Abul Abbas Al Basir dikenal juga dengan Ibnu Ghazalah atau anak kijang. Ayahnya adalah seorang raja di Maroko. Sejak kecil, Syaikh Abul Abbas dikenal sebagai seorang anak yang gemar beribadah. Beliau adalah salah seorang murid dari dua orang tokoh sufi yang terkenal. Mereka adalah Syaikh Abu Ahmad Ja’far Al Andalusi dan Syaikh Abu Madyan Syua’ib.

Dikisahkan pula tentang alasan beliau diberi julukan Ibnu Ghazalah atau anak kijang. Kisahnya, pada saat dilahirkan, beliau dalam keadaan buta. Melihat anaknya dilahirkan dalam keadaan buta, Ibunya bersedih hati takut suaminya tidak mau menerima puteranya yang dilahirkan dalam keadaan buta. Akhirnya anak yang baru lahir itu dibuang ke tengah hutan oleh Ibunya. Sedankan ia sendiri pulang ke rumahnya. Saat suaminya pulang dari berburu, ia menayakan apakah bayi yang di kandungnya itu telah lahir. Si Isteri menjawab dengan jawaban yang tak sebenarnya, yang mengatakan bahwasannya anaknya telah meninggal sewaktu melahirkan. Maka sang Suami menjawab: “Semoga Allah memberikan ganti yang lain”.

Pada suatu hari ketika suaminya sedang berburu lagi di hutan, ia dikejutkan oleh seekor kijang yang sedang menyusui seorang bayi manusia. Dalam hatinya tergerak semoga bayi ini adalah sebagai ganti putraku yang meninggal. Saat bayi itu ditunjukan ke Isterinya, ia terkejut dan menangis sejadi-jadinya. Ketika ditanya apakah sebabnya ia menangis, Isterinya menjawab: “Sebenarnya bayi ini adalah putra kita sendiri. Hanya saja ku buang saat dilahirkannya karena ia dalam keadaan buta, dan aku takut kalau engkau tidak mau menerima anakmu ini.” Suaminya lantas menjawab dengan perasaan gembira: “Alhamdulillah yang telah mempertemukan kita sekalian kembali”. Sejak saat itulah Ibunya yang mengasuhnya sampai berumur tujuh tahun. Mulai umur tujuh tahun, beliau belajar membaca Al Qur’an dan ilmu tajwid.

Sumber Cerita : Buku Kumpulan Kisah Keramat Para Wali yang di sadur oleh Habib Yunus Ali Al Muhdar, dicetak tahun 2000.

Share:

Thursday, August 26, 2021

Kisah Wali Allah Yang Dijaga Oleh Nabi Ismail AS

 


Syekh Yunus bin Yusuf bin Musa’id dikenal sebagai seorang sufi dan zahid yang besar karomahnya.

Diriwayatkan bahwa beliau pernah ikut rombongan kafilah yang melewati daerah sanjur. Daerah Sanjur dikenal sangat rawan dan ditakuti oleh semua kafilah. Biasanya jika ada kafilah yang melewati daerah tersebut, maka semua anggota kafilah tidak ada yang berani tidur. Semuanya berjaga-jaga untuk menghadapi serangan kaum perampok. Lain halnya dengan Syaikh Yunus bin Yusuf yang ketika melewati daerah tersebut beliau berani untuk tidur. Ketika ditanya mengapa beliau berani, maka beliau menjawab, “Demi Allah, waktu aku tidur, aku melihat Nabi Isma’il AS datang menjaga kafilahku hingga tidak ada seorangpun yang berani mengganggunya.”

Salah seorang murid beliau meminta izin untuk pergi ke Kota Nasibain. Maka beliau pun berpesan, “Jika sampai di Kota Nasibain, berilah kain kafan untuk Ummu Musa’id”. Muridnya lantas bertanya, “Apakah sebabnya aku harus membeli kain kafan untuknya?”. Karena ia tahu bahwasannya Ummu Musa’id (isterinya) sedang dalam keadaan segar bugar. Syaikh Yunus lantas menjawab, “Apa salahnya kaau anda belikan ia kain kafan?”. Apa yang dikatakan oleh Syekh Yunus itu ternyata benar. Waktu si murid itu kembali dari Kota Nasibain, ia dapatkan isterinya meninggal dunia di hari itu juga.

Syekh Yunus bin Yusuf wafat di tahun 619 H.

Kisah ini bersumber dari; Buku Kumpulan Kisah Keramat Para Wali karya Al Habib Yunus Ali Al Muhdar

Semoga para pembaca dapat mengambil hikmahnya dari segala cerita para Kekasihnya Allah.

Share:

Thursday, August 19, 2021

Kisah Orang Jahat Yang Dijabat Tangannya Oleh Rasulullah SAW Di Mimpi Karena Amalannya


Seorang yang sangat zuhud bernama Syeikh Abdul Wahid bin Zaid berkisah sebagai berikut :
"Seorang tetangga kami bekerja sebagai pegawai negeri dan sangat jahat ketika hidupnya di dunia. Dia melakukan maksiat dan suka menakut-nakuti orang.

Pada suatu malam, saya melihat di dalam tidur bahwa tangan tetangga saya tersebut memegang tangan Rasululloh SAW. Saya lantas bertanya kepada Rasululloh SAW:
“Wahai Rasululloh, sesungguhnya orang ini sangat terkenal sebagai penjahat di muka Bumi. Bagaimana ceritanya engkau mau memegang tangannya?“

Rasululloh SAW bersabda:
“Saya mengetahui apa yang engkau katakan tersebut. Oleh karena itu, saya datang untuk memberikan syafa'atku kepadanya.”

Kemudian saya bertanya kepada Rosululloh SAW :
“Wahai Rasulullah, apakah kelebihan tetangga kami itu, sehingga engkau memberikan syafaat kepadanya?”

Rasulullah SAW menjawab:
“Tetanggamu itu banyak membaca Shalawat kepadaku. Setiap malam ketika dia hendak tidur, dia selalu membaca sholawat 1000 kali (seribu kali), sehingga aku mohon kepada Alloh SWT., mudah-mudahan syafa'atku ini diterima disisi-Nya, agar tetanggamu ini bertaubat kepada-Nya.”

Berkata Syeikh Abdul Wahid (shohibul hikayat):
“Di pagi hari saya mengajar di Masjid
sebagaimana biasanya, tiba-tiba datang tetangga itu, disaat saya sedang menceritakan apa yang saya lihat di dalam tidur ( mimpi ), dia masuk dan mengucapkan salam sambil menangis, lalu dia berkata:
“Wahai Syeikh Abdul Wahid, izinkanlah aku menjabat tanganmu, karena Rasululloh SAW mengutusku kepadamu, agar aku bertaubat di hadapanmu, dan disaksikan oleh murid-muridmu di Masjid ini.”

Syekh Abdul Wahid kemudian berjabat tangan dengan tetangganya yang telah menyesali segala perbuatannya selama hidupnya tersebut. Ia berjanji tidak akan mengulanginya kembali perbuatan jahatnya tersebut.”

Subhanalloh……

Setelah itu, Syeikh Abdul Wahid bertanya kepada tetangganya tersebut: “Apakah yang menyebabkan engkau bertaubat, wahai saudaraku?” 

Tetangganya menjawab :
“Rasululloh SAW telah datang kepadaku di dalam tidurku, dan beliau menceritakan kepadaku tentang tanya jawab antara engkau dengan beliau. Kemudian Rasulullah SAW memegang tanganku dan bersabda:
“Aku datang kepadamu untuk memberikan syafaat Alloh atas segala dosamu. Itu semua adalah semata-mata karena engkau banyak membaca Sholawat kepadaku.”

“Setelah itu, beliau bertitah kepadaku, agar di pagi hari aku datang kepadamu wahai Syaikh, untuk mengumumkan kepada khalayak ramai bahwa aku telah bertaubat yang sebenar-benarnya.”

Demikianlah keberkahan membaca Sholawat kepada Rasululloh SAW. Ternyata tidak sia-sia bagi setiap lisan yang selalu di basahi dengan shalawat.

Kisah diatas sebagai bukti nyata Syafa'at Rasulullah SAW, bahwa pembacaan sholawat dapat mengugurkan dosa-dosa yang pernah terlanjur dikerjakan oleh seseorang. 

Sebagaimana diterangkan dalam Hadits :
“Diriwayatkan dari Abu Bakar As Shiddiq : beliau berkata, bahwa shalawat kepada Nabi SAW lebih cepat menghapus dosa dari pada air dingin memdamkan api dan lebih utama dari pada memerdekakan hamba sahaya ”
(dari Kitab Bustanul Wa Idzin)

Wallahu 'alam.

اللهم صل على سيدنا محمد وعلى ال سيدنا محمد
Share:

Monday, August 16, 2021

Habib Ali Al Habsyi Kwitang, Tokoh Penentu Hari & Waktu Proklamasi Kemerdekan RI

 


Kemerdekaan Indonesia adalah hadiah besar atas jerih payah segala perjuangan para pahlawan dan rakyat indonesia melawan kejahatan para penjajah. Begitu banyak dan panjang rangkaian sejarah Kemerdekaan Indonesia. Tentu momen yang paling bersejarah adalah saat Proklamasi Kemerdekaan.

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari jerih payah perjuangan para Bapak Bangsa. Diantara sejarah panjang Proklamasi, ternyata ada sejarah yang banyak tidak diketahui oleh rakyat Indonesia. Pasalnya sejarah ini tidak dibukukan dan tidak diajarkan di sekolah-sekolah. Misalnya tentang peran tokoh agama, ulama, kyai, atau habaib dalam sejarah panjang proklamasi.

Salah satu tokoh yang ikut berperan dalam jalan panjang Proklamasi Kemerdekaan adalah Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi Kwitang. Habib Ali Kwitang merupakan tokoh  penentu hari dan waktu Proklamasi Kemerdekaan. Ini bisa terjadi karena kedekatan beliau dengan tokoh Proklamator utama, yaitu Ir. Soekarno atau lebih dikenal dengan panggilan Bung Karno.

Sewaktu Ir. Soekarno bebas dari penjara Sukamiskin, beliau dijemput oleh sanak saudara dan sahabat setia beliau. Diantara dari mereka adalah M. Husni Thamrin, yang  waktu itu beliau mengajak Bung Karno untuk tinggal di Batavia atau Jakarta. Saat Bung Karno tiba di Batavia, beliau diajak oleh Husni Thamrin untuk menemui Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi di Kampung Kwitang. Di Kwitang, Bung Karno tinggal selama empat bulan dengan mendapatkan nasihat dan ikut pengajian Habib Ali Kwitang, baik di rumah maupun di Masjid Kwitang.

Suatu hari, saat Bung Karno sedang mengikuti pengajian Habib Ali Kwitang di masjid, Husni Thamrin datang untuk menjemput Bung Karno guna menghadiri pertemuan dengan masyarakat Batavia. Kemudian Bung Karno meminta izin kepada Habib Ali Kwitang untuk menghadiri acara tersebut, dan Habib Ali Kwitang pun mempersilahkannya. Dengan masih mengenakan sarung, Bung Karno pun menghadiri  pertemuan tersebut dengan didampingi oleh M. Husni Thamrin. Inilah yang menjadi permulaan dekatnya seorang Bung Karno dengan Habib Ali Al Habsyi Kwitang.

Pada waktu itu ada perundingan antara Golongan Tua dan Golongan Muda dalam merumuskan dan menyusun teks Proklamasi yang berlangsung sejak pukul 2 dini hari hingga pukul 4 menjelang waktu sahur. Teks Proklamasi ditulis di ruang makan Laksamana Tadashi Maida di Jalan Imam Imam Bonjol. Setelah sahur dan sesudah adzan shubuh, Bung Karno menyempatkan diri untuk datang ke Kwitang dengan menyamar untuk menemui Habib Ali Al Habsyi Kwitang guna memohon doa restu bahwasannya besoknya akan diadakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Pada hari Jum’at, 17 Agustus 1945 Masehi bertepatan dengan tanggal 9 Ramadhan 1364 Hijriyah pukul 10 siang, dibacakanlah teks Proklamasi oleh Bung Karno.

Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi adalah salah seorang tokoh penyiar agama Islam terdepan di Jakarta pada abad 20. Beliau juga pendiri dan pimpinan pertama pengajian Majelis Taklim Kwitang yang merupakan satu cikal-bakal organisasi-organisasi keagaaman lainnya di Jakarta.

Habib Ali Kwitang lahir dari pasangan Habib Abdurrahman bin Abdullah Al Habsyi dan Salmah. Ayahnya adalah seorang ulama dan da'i keturunan arab sayyid (keturunan Rasulullah SAW) yang hidup zuhud. Sementara ibunya adalah seorang wanita sholehah puteri seorang ulama Betawi dari Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur. Ayah beliau wafat saat Habib Ali Kwitang masih di usia kecil. Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi lahir di Jakarta, pada 20 April 1870 dan meninggal di Jakarta, pada 13 Oktober 1968 di umur 98 tahun.

Sumber :

Foto di Facebook.com

Wikipedia


Share:

Saturday, August 14, 2021

Kisah Air Mata Sang Wali Allah Yang Berbau Harum Bak Minyak Wangi

 


Abu Muhammad As Salawi adalah seorang wali Allah yang banyak beribadah. Beliau pernah hidup dengan Abu Madyan (seorang wali Allah yang terkenal) selama delapan belas tahun.

Syekh Muhyiddin pernah berkata: “Aku pernah bermalam bersama Syekh Abu Muhammad As Salawi selama sebulan di Masjid Ibnu Jarad. Disuatu malam, aku bangun untuk menunaikan shalat tahajud. Saat aku menuju tempat berwudhu, ku lihat Syekh Abu Muhammad As Salawi sedang tidur. Didekatnya, ku lihat ada seberkas cahaya yang terpancar dari langit. Semalaman itu, aku tetap saja berdiri melihat Syekh Abu Muhammad As Salawi tidur, sedangkan aku tak tahu, apakah cahaya itu keluar dari jasadnya yang memancar ke langit, ataukah cahaya itu berasal dari langit. Aku tetap saja berdiri keheranan melihat keadaan yang semacam itu, sampai Syekh Abu Muhammad As Salawi pun terbangun dan bershalat tahajud”.

Syekh Muhyiddin melanjutkan kisahnya: “Syekh Abu Muhammad As Salawi itu suka menangis karena tawadhu’ kepada Allah. Biasanya, jika ia menangis, aku selalu mengambil tetesan air tangisnya untuk ku usapkan di wajahku. Anehnya, air matanya itu mengeluarkan bau harum. Sampai banyak orang yang bertanya padaku: “Darimanakah engkau beli minyak harum yang sebaik ini?”

Sumber : Kumpulan Kisah Keramat Para Wali, Yunus Ali Al Muhdar, 2000, Dengan diedit

Share:

Thursday, August 12, 2021

Kisah Karomah Rabi'ah Al 'Adawiyah Hidupkan Untanya Yang Telah Mati


Setiap disebut namanya, setiap orang akan mengenalnya sebagai seorang Wali Allah yang mempunyai karomah yang luar biasa. Pada mula hidupnya, beliau dikenal sebagai penyanyi wanita yang selalu menghibur kaum penguasa dan bangsawan yang berduit. Namun beliau segera bertaubat dan mengabdikan diri sepenuhnya kepada Allah SWT. Seluruh malamnya digunakan untuk bersujud dan menangis sambil bermunajat kepada Allah. Sebagian besar dari munjatnya berisikan pengutaraan rasa cintanya kepada Allah dan memohon kasih sayang Allah, sehingga beliau mendapatkan derajat kewalian yang tinggi sekali.

Dalam suatu riwayat, dikisahkan bahwasannya pada suatu hari Rabi’ah Al Adawiyah berkata kepada seorang wali yang bernama Syaiban Ar Ra’iy: “Aku akan pergi Haji”. Mendengar ucapannya itu, Syekh Syaiban mengeluarkan sejumlah uang emas dari kantongnya dan diberikan pada Rabi’ah agar digunakan sebagai bekal dalam perjalanan. Melihat hal itu, Rabi’ah segera mengulurkan tangannya ke udara. Dengan izin Allah, tangan itu penuh berisikan emas. Beliau berkata: “Engkau hanya dapat mengeluarkan emas dari kantongmu, tapi aku dapat mengeluarkannya dari alam ghaib”. Kemudian keduanya pergi berhaji tanpa membawa bekal sedikitpun. Keduanya hanya dipenuhi oleh rasa tawaka kepada Allah SWT.

Al Manawi pernah meriwayatkan bahwasannya ada seorang pencuri masuk ke rumah Rabi’ah yang sedang tidur nyenyak. Pencuri itu lantas mengambil seluruh pakaian beliau. Anehnya, waktu si pencuri akan keluar, ia tidak mendapatkan pintu keluar. Waktu pakaian itu dikembalikan pada tempatnya lagi, ia pun mendapatkan pintu keluar. Kemudian pakaian itu diangkatnya lagi dari tempatnya. Anehnya, pintu keluar yang dilihatnya hilang lagi dari penglihatannya. Setelah pakaian diletakan kembali, ia pun kembali melihat pintu keluar. Kemudian ia mendengar suara tanpa rupa yang berkata: “Letakkan pakaian itu di tempatnya. Kami akan menjaganya walaupun ia sedang tidur.

Diriwayatkan bahwa beliau pernah pergi haji dengan kendaraan unta. Di tengah perjalanan pulang, untanya mati terkapar. Sedangka beliau tidak punya cukup bekal untuk menggantikannya. Beliau lantas berdoa kepada Allah agar dihidupkan kembali untanya yang mati. Do’anya pun dikabulkan oleh Allah.  Unta itu pun hidup kembali dengan izin Allah, dan dapat mengantarkan beliau sampai ke depan pintu rumahnya. Setelah sampai di depan rumah beliau, unta itu pun mati kembali.

Sumber : Kumpulan Kisah Keramat Para Wali, Yunus Ali Muhdar, 2000, dengan diedit
 

Share:

Friday, July 30, 2021

Terkena 20 Penyakit Keras Karena Tak Percaya Karomah Syekh Ismail, Akhirnya Syekh Ini Taubat

 


Syekh Ismail bin Ibrahim bin Abdus Shamad Al Jabarti adalah seorang wali Allah yang banyak sekali karomahnya. Pernah suatu ketika ada kawannya yang sedang shalat berjamaah di belakang beliau. Di kantung orang tersebut terdapat uang satu dirham dan ia berfikir apakah uang tersebut daoat mencukupi keluarganya atau tidak. Sedangkan ia dalam keadaan shalat hingga sampai lupa membaca surat Al Fatihah dalam salah satu raka’atnya. Setelah shalat berjamaah itu selesai, Syekh Ismail bertanya padanya: “Ulangilah shalat kamu, karena kamu terlupa membaca surat Al Fatihah disebabkan kamu memikirkan uang satu dirham”.

Dikisahkan pula, bahwa pada suatu hari ketika Syekh Ismail sedang menghadiri majlis ilmiah, tiba-tiba beliau berdiri dan berteriak seolah-olah memberi petunjuk kepada orang untuk melakukan sesuatu. Dan beliau pun seolah-olah sedang memegang sesuatu. Kemudian beliau duduk kembali sambil mendengarkan pengajian yang sedang berlangsung. Orang-orang yang hadir di majlis itu merasa heran melihat tingkah Syekh Ismail seperti itu. Namun mereka tidak ada yang berani menanyakan pada Syekh Ismail. Tidak beberapa lama, akhirnya Syekh Ya’kub Al Masakha’i muncul bercerita bahwasannya, pada suatu malam beliau bersama kawan-kawannya dilanda oleh angin ribut dan gelombang besar, dan hampir saja perahunya terbalik. Di saat itulah aku panggil Syekh Ismail dan minta pertolongan dari beliau. Tiba-tiba ku lihat beliau datang ke perahu kita yang akan karam, dan beliau memegang kemudi sampai Allah menyelamatkan perahu kita dengan berkatnya.

Syekh Ya’kub dikenal sebagai seorang yang gemar sekali berlayar. Ia pernah mengadukan pada Syekh Ismail bahwa dalam pelayarannya sering mendapatkan angin topan. Beliau menyuruhnya jika mendapatkan gangguan-gangguan semacam itu untuk memanggil nama beliau (ber istighasah). Waktu ia mendapatkan gangguan angin ribut, ia teringat pada pesan Syekh Ismail.

Dikisahkan pula bahwa ada seorang ulama di kota Mekkah yang bernama Syekh Abdurrahim Al Amyuti, yang mana beliau berkata : “Pada mulanya aku tidak percaya pada Syekh Ismail dan sering mencemoohnya. Tiba-tiba di suatu malam aku bermimpi seolah-olah Syekh Ismail datang bersama rombongannya padaku. Kemudian ia berkata: “Ambilkan penyakit si fulan itu”. Setelah diambilkan oleh salah seorang, penyakit itu diletakan pada tubuhku. Kemudian beliau menyuruh kawannya yang lain untuk mengambil penyakit si fulan yang lain. Setelah diambilnya, penyakit itu kemudian diletakan pada tubuhku lagi. Demikianlah seterusnya, hingga kira-kira ada dua puluh penyakit yang diletakan pada tubuhku. Waktu aku bangun, ku dapatkan di tubuhku ada dua puluh penyakit yang ku rasakan sangat pedih sekali. Rasanya hampir saja mati aku dibuatnya. Sorenya, terpaksa aku menyuruh seorang untuk datang pada Syekh Ismail guna untuk memohonkan maaf atas segala perbuatanku yang tidak baik itu. Dan aku pun bertaubat kepada Allah. Sejak hari itu, aku percaya sepenuhnya akan kekaromahan Syekh Ismail.

Karomah yang lain pernah dikisahkan bahwa Al Qadhi Fahruddin An Nuri Al Makki berkata: “Setelah wafatnya Syekh Ismail, sewaktu aku sedang tidur di dalam Masjidil Haram, aku bermimpi melihat Syekh Ismail berkata: “Demi Allah, sesungguhnya aku tidak mati. Aku tetap hidup dan diberi rizki oleh Allah. Aku disisi Allah berada di golongan para Nabi, Siddiqin, dan para Syuhada”.

Salah seorang Shalih berkata: “Aku pernah bermimpi melihat Syekh Ismail dalam kuburnya sedang duduk di atas ranjang bersama sekelompok orang yang sedang membaca surat Yaasiin. Ketika ku tanya, “Hai tuan, adakah engkau membaca surat Yaasiin bersama kawanmu dalam kubur itu seperti ketika engaku di dunia?”. Jawabnya: “Ya, demikianlah keadaanku sebenarnya”.

Pernah  pada suatu hari Syekh Ismail berkumpul bersama Syekh Abibakar bin Abi Harbah. Di saat itu, Syekh Abi Bakar tenggelam dalam alam malakut sampai tak sadarkan diri. Setelah sadar, beliau berkata: “Wahai saudaraku, sungguh tidak seorang pun yang tahu akan derajatmu di sisi Allah selain hanya Allah sendiri. Demi Allah, kamu memperoleh derajat yang tidak pernah dicapai oleh seorang pun selainmu”.

Syekh Ismail Al Jabarti wafat di tahun 806 H dan dikuburkan di pemakaman Bab Siham di kota Zubaid. Dan makamnya selalu dikunjungi peziarah.

 

Sumber : Kumpulan Kisah Keramat Para Wali Allah, Yunus Ali Al Muhdar, 2000 (dengan diedit)


Share:

Monday, July 26, 2021

Kisah Karomah Luar Biasa Habib Hasan bin Abdurrahman Assegaf

 


Al Habib Hasan bin Abdurrahman Assegaf  dikenal sebagai seorang wali yang besar karomahnya. Diriwayatkan bahwa pada suatu hari, waktu beliau masih muda, beliau sering keluar berburu bersama kawan-kawannya. Dalam suatu perburuan, ketika rombongannya kehabisan bekal, mereka mengeuh dan ketakutan. Habib Hasan lantas keluar dari rombongan sebentar. Sekembalinya beliau, mereka dapatkan beliau membawa segantang buah kurma yang masih segar.

Diriwayatkan pula bahwasannya ada seseorang yang memberi Habib Hasan pinjaman delapan gantang kurma. Pada suatu hari, ketika orang itu menagihnya, beiau dapatkan kurma yang dititipkan di rumah sauadara wanitanya ternyata tinggal lima gantang, sedangkan beliau tidak punya sesuatu apapun untuk menggantinya. Kurma itu lantas diambilnya, kemudian dibolak-balikan. Anehnya ketika kurma itu ditimbang kembali, beliau dapatkan jumlah kuarma tersebut menjadi delapan gantang.

Diriwayatkan pula, bahwa ketika salah seorang muridnya meminta izin hendak berkunjung ke rumah beliau. Beliau berkata pada isterinya: “Buatkan untuk suamimu hidangan yang istimewa”. Istrinya menjawab: “Siapa lagi suamiku selain engkau?” Habib Hasan menimpali, “Muridku itu akan jadi suamimu kelak setelah aku meninggal”. Apa yang dikatakan oleh beliau ternyata benar. Sepeninggalnya, isterinya dinikahkan dengan muridnya.

Diriwayatkan, ada seorang murid Habib Hasan yang mengikuti beliau waktu berziarah ke suatu makam. Sekembalinya dari makam, waktu keduanya berjalan di bawah terik matahari yang sangat panas, sang murid mengeluh tidak dapat menginjakan kedua telapaknya di bumi yang sepanas itu. Habib Hasan berkata: “Letakan kakimu pada bekas telapk kakiku”. Sang murid itu menjalankan perintahnya, sehingga tidak merasa kepanasan lagi.

Habib Hasan bin Abdurrahman Assegaf wafat di Kota Tarim, Hadramaut, Yaman pada tahun 813 H.

 

Sumber : Kisah Keramat Para Wali Allah, Ali Yunus Al Muhdar, 2000 (dengan diedit)


Share:

Saturday, July 24, 2021

Pria Ini Menolak Dan Jadi Wali Karena Doa Sang Wanita

 


Zurai’ bin Muhammad Al Haddad Al Yamani Beliau banyak dikenal dengan panggilan Abu Muhammad. Sedang kisah tentang karomahnya besar sekali.

Diriwayatkan, pada suatu hari Abu Muhammad memegang besi yang menyala, namun besi itu tak dapat melukai tubuhnya walaupun sampai digesekan ke tubuhnya. Hal itu disebabkan pada suatu hari beliau pernah merayu seorang wanita saat beliau masih muda. Namun winita itu selalu menolaknya. Abu Muhammad dikenal sebagai orang yang kaya raya dan banyak menolong orang lain. Pada suatu waktu, ketika wanita itu ditimpa musibah, ia butuh uang dan bantuan. Karena itulah ia teringat dengan Abu Muhammad yang dahulu pernah merayunya. Wanita  itu pun segera mengundang Abu Muhammad ke rumahnya. Ketika Abu Muhammad berjumpa dengan wanita itu, beliau bertanya padanya:

“Apakah yang menyebabkan anda mengajakku berbuat seperti ini?”

Wanita itu menjawab: “Aku tertimpa suatu musibah. Aku butuh uang dan pertolongan, dan aku tidak tahu jalan lain selain ingat padamu. Sebenarnya aku tidak terbiasa mengajak laki-laki lain ke suatu jalan yang tidak baik”.

Mendengar ucapan itu, Abu Muhammad segera sadar akan dirinya. Kemudian beliau segera meninggalkan wanita itu dan beliau pun bertaubat kepada Allah. Ketika wanita itu melihat Abu Muhammad meninggalkannya dan memberikan semua harta yang dimilikinya itu, ia lantas berdoa kepada Allah:

“Semoga Allah menjauhkan engkau dari api neraka, sebagaimana engkau menjauhi dari perbuatan buru yang akan menyebabkan aku aku terjerumus ke dalam api neraka”.

Ternyata doa wanita itu dikabulkan oleh Allah, sehingga Abu Muhammad mendapatkan derajat kewalian, dan diberi karomah tidak akan terbakar oleh api yang menyala. Sejak saat itu, Abu Muhammad terus beribadah dan selalu berkumpul dengan orang-orang yang shalih. Dan karomah beliaupun banyak bermunculan.

Abu Muhammad wafat pada tahun 668 H.

Sumber Kisah : Buku Keramat Para Wali Allah, Yunus Ali Al Muhdar, 2000 (Dengan diedit)

Share:

Kisah Sang Kekasih

Subscribe Channel Kami