Windarwati : Cekelan Sarung Kyai

Aja Sampek Ucul Cekelan Sarung Kyai. Maksude tutke kyai, sebab kyai kui warisane nabi SAW. lan ojo asal pilih Kyai sing Sangar

Wirda Mansur : Dahulukan Alloh

Dahulukan Alloh. Alloh dulu, Alloh lagi, Alloh terus.

Tentang Pecinta

Hakikatnya Pecinta itu, tidak ingin jauh jauh, apalagi berpisah dengan yang dia cintai.

UYM : Kita Hidup Juga Masalah

Dunia ini penuh masalah, kita hidup juga sudah termasuk masalah. iya kan?

Aa Gym : Jangan Ributkan Perbedaan!

Kita juga Produk dari perbedaan. Kita lahir dari laki-laki dan perempuan, Adam dan Hawa, bukan Adam dan Asep

Saturday, April 17, 2021

Imam Malik RA Menangis Saat Berbuka Puasa, Inilah Alasannya


 

Imam Malik  RA menitihkan air mata hingga janggutnya basah karenanya. Salah seorang muridnya kemudian bertanya,

“Wahai guruku yang mulia, ada apakah gerangan sehingga engkau menangis sedemikian sedih serta menyayat hati kami? Apakah ada diantara kami yang membuat hatimu sedih, atau hidangan yang ada saat ini kurang berkenan?”

Imam Malik RA kemudian menjawab, “Tidak, tidak, wahai murid-muridku. Sungguh kalian adalah murid-murid terbaikku dan sangat khidmah padaku. Bahkan hidangan ini adalah sangat mewah dan nikmat buatku.”

Imam Malik RA melanjutkan, “Sungguh aku pernah berbuka dengan guruku Al Imam Ja’far As Shaadiq cucu baginda Rasulullah SAW., dengan makanan yang teramat nikmat seperti saat ini.” Beliau berkata sambil terisak.

“Wahai Ibnu Anas (Imam Malik), tahukah engkau bahwasannya Rasulullah SAW terkadang berbuka puasa hanya dengan 3 butir kurma dan air, tetapi Rasulullah SAW tetap merasa sangat nikmat penuh syukur, bahkan sering kali Rasulullah SAW berbuka puasa hanya dengan sebutir kurma dan dibagi dua dengan istri tercinta Aisyah. Dan sungguh Rasulullah SAW tetap merasa nikmat penuh syukur.”

“Rasulullah SAW sedikit makan sahur dan sedikit pula saat berbuka puasa. Rasulullah SAW sangat banyak beribadah dan bersyukur. Rasulullah SAW selalu mendoakan kita umatnya yang sering lalai dan melupakan beliau. 

Sedangkan hari ini kita dipenuhi dengan makanan yang nikmat dalam berbuka puasa, akan tetapi sangatlah jauh dari rasa syukur dan ibadah.”

Tak lama kemudian, ruangan tersebut menjadi penuh haru, isak tangis penuh kerinduan kepada Rasulullah SAW. Betapa sederhananya Rasulullah  SAW dan betapa beliau sangat mencintai kita umatnya.

Begitulah Kisah Imam Malik RA Menangis Saat Berbuka Puasa karena mengingat kekasihnya, yaitu Baginda Nabi Rasulullah Muhammad SAW.

Share:

Thursday, April 15, 2021

Rambutan Ajaib Imam Nawawi Al Bantani

 


Suatu masa jelang abad ke dua puluh di Ma'had (Pesantren) Nasr Al Ma'arif Al Diniyah, Masjid Al Haram Makkah, Syekh Nawawi Al Bantani tengah menerangkan pada para santrinya terkait puasa Ramadhan.

"Mengingat Hadits Nabi SAW tentang memakan kurma ketika berbuka, saya beritahu kalian, di Negeri saya juga ada buah yang tak kalah manis dengan kurma," ucap Syekh Nawawi Al Bantani.

"Betul Syekh? Kalau di jazirah Arabia ini kami memang memakan kurma.

Lalu bagaimana dengan Negeri Syekh yang tidak ditumbuhi buah kurma?" Tanya salah seorang murid beliau.

"Sebentar."

Syekh Nawawi langsung menyembunyikan tangannya ke bagian punggung. Ratusan santrinya pun mulai terlihat keheranan. Tak lama terdengar oleh mereka suara seperti seseorang yang sedang mengambil buah dari sebuah pohon. Kemudian Syekh Nawawi Al Bantani menyuguhkan buah rambutan yang persis baru diambil dari pohonnya. Sontak para santri pun keheranan dengan apa yang baru saja dilakukan guru mereka.

"Nah, ini yang saya makan pertama kali ketika berbuka puasa di Jawi (Tanara, Banten). Silakan dicicipi." ujar Syekh Nawawi Al Bantani sambil membagikan rambutan (ajaib) tersebut kepada para santrinya. 

Begitulah Kisah Rambutan dari Syekh Al Imam An Nawawi Al Bantani Al Jawi, Semoga bermanfaat....


Share:

Saturday, April 10, 2021

Sesingkat Inikah Hidup Di Dunia?


Dunia Ini sangat singkat⁣⁣⁣ jika dibandingkan dengan kehidupan satu hari di akhirat yang menyamai 1000 tahun di bumi.⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Allah berfirman,⁣⁣⁣

ﻭَﺇِﻥَّ ﻳَﻮْﻣًﺎ ﻋِﻨْﺪَ ﺭَﺑِّﻚَ ﻛَﺄَﻟْﻒِ ﺳَﻨَﺔٍ ﻣِﻤَّﺎ ﺗَﻌُﺪُّﻭﻥَ⁣⁣⁣

“Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.” 
(QS. Al Hajj: 47)
⁣⁣⁣
Umur manusia rata-rata adalah 60-70 tahun, sebagaimana dalam hadits,⁣⁣⁣

ﺃَﻋْﻤَﺎﺭُ ﺃُﻣَّﺘِـﻲ ﻣَﺎ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟﺴِّﺘِّﻴْﻦَ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺴَّﺒْﻌِﻴْﻦَ ﻭَﺃَﻗَﻠُّﻬُﻢْ ﻣَﻦْ ﻳَﺠُﻮﺯُ ﺫَﻟِﻚَ⁣⁣⁣

“Umur-umur umatku antara 60 hingga 70 tahun, dan sedikit orang yang bisa melampui umur tersebut.” 
(HR. Ibnu Majah: 4236, hasan shahih)⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Jika satu hari akhirat = 1000 tahun⁣⁣⁣ di bumi. 
Umur manusia 60-70 tahun, (rata-rata 65 tahun)⁣⁣⁣.

Maka kehidupan di dunia kurang lebih hanya 1,5 jam saja hari di akhirat.⁣⁣⁣
Karenanya berbagai kesenangan dunia yang melalaikan kita akan akhirat adalah kesenangan yang sangat sebentar⁣⁣⁣.
⁣⁣⁣
Allah berfirman,⁣⁣⁣

 ﻗُﻞْ ﻣَﺘَﺎﻉُ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻗَﻠِﻴﻞٌ ﻭَﺍﻟْﺂﺧِﺮَﺓُ ﺧَﻴْﺮٌ ﻟِﻤَﻦِ ﺍﺗَّﻘَﻰ

“Katakanlah: “Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa.” 
(QS. An NIsa’:77)⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
 
ﻭَﻣَﺎ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺓُ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺇِﻟَّﺎ ﻣَﺘَﺎﻉُ ﺍﻟْﻐُﺮُﻭﺭِ ⁣⁣⁣

“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” 
(QS. Ali Imran: 185)⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Semoga kita selalu ingat kampung abadi kita akhirat dan dunia tidak melalaikan kita.⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
“Dunia ditangan, akhirat selalu dihati”⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Wallahu a'lam

Share:

Macam-macam Puasa, Apa Aja?


 Puasa merupakan menahan diri dari segala yang membatalkannya dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari. Lalu apa saja macam-macam puasa? Yuk baca artikel ini sampai akhir ya...

Puasa Fardhu ada 3 macam :

1. Puasa Romadhon selama bulan Romadhon.

2. Puasa Kafarat seperti Kafarat Haji, Kafarat Sumpah, Kafarat Jinayah, Kafarat Jima' dll.

3. Puasa Nadzar.


Puasa Sunnah terbagi 3 macam :

1. Puasa Usbu'iyyah (Pekanan).

2. Puasa Syahriyah (Bulanan).

3. Puasa Sanawiyah (Tahunan).


- Puasa Sunnah Usbu'iyyah (Pekanan) :

1. Puasa Senin.

2. Puasa Kamis.

3. Puasa Jum'at jika dirangkai dengan Kamis.

4. Puasa Dahr (Setiap hari).

5. Puasa Nishfud Dahr / Puasa Dawud.


- Puasa Sunnah Syahriyah (Bulanan) :

1. Puasa 3 hari awal bulan tanggal 1 - 3 bulan Hijriyah (Ayyamus Suud).

2. Puasa 3 hari tengah bulan tanggal 13 - 15 bulan Hijriyah (Ayyamul Biidh / Hari Purnama).

3. Puasa 3 hari akhir bulan (Ayyamus Suud / Hari gelap).


- Puasa Sunnah Sanawiyah (Tahunan) :

1. Puasa 'Arofah (9 Dzulhijjah).

2. Puasa Tarwiyah (8 Dzulhijjah).

3. Puasa 'Asyuro (10 Muharram).

4. Puasa Tasuu'a (9 Muharram).

5. Puasa 6 hari Syawal.

6. Puasa 10 hari awal Dzulhijjah.

7. Puasa 10 hari awal Muharram.

8. Puasa bulan haram 4 x 30 hari : Rajab, Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram.

9. Puasa Sya'ban.


Haram berpuasa ada 5 hari :

1. Hari Raya Idul Fitri (1 Syawal).

2. Hari Raya Idul Adha (10 Dzulhijjah).

3. 3 Hari Tasyrik (11 - 13 Dzulhijjah).


Makruh berpuasa : Ayyamusy Syak (hari meragukan) yaitu akhir Sya'ban, kecuali yang Istiqomah.

Begitulah macam-macam puasa dalam Fiqh Islam. Semoga bermanfaat...

Share:

Friday, April 9, 2021

Ketika Imam Malik Disengat Kalajengking Hingga 16X


 

Diriwayatkan oleh para Ulama di majelisnya. Yakni di Raudhah,  Imam Malik RA mengajarkan hadist Rasulullah SAW. Bila ingin menyampaikan pelajaran tentang hari-hari Arab atau syair-syairnya, ia mengajarkannya begitu saja. Akan tetapi apabila hendak mengajarkan ihwal hadist Rasulullah SAW atau diminta suatu hadist Nabi SAW, Imam Malik RA mandi terlebih dahulu, memakai wewangian, dan mengenakan pakaian terbaik yang ia miliki, kemudian duduk dan mulai mengimlakan (menulis) atau membacakan hadist-hadist berdasarkan periwayatannya.

Suatu hari, Imam Ibnu Mubarak RA duduk di majelis Imam Malik RA yang saat itu di tengah menyampaikan hadist Rasulullah SAW. Dalam keadaan seperti itu, seekor kalajengking menyengat Imam Malik RA sebanyak 16 kali. Air muka Imam Malik RA terlihat berubah, namun ia tetap meneruskan menyampaikan hadist. Tatkala majelis hadist berakhir dan para hadirin sudah membubarkan diri, Imam Ibnu Mubarak segera menghampiri Imam Malik RA.

"Wahai Abu Abdillah, sungguh aku tadi melihat peristiwa yang luar biasa dari dirimu."

Kata Ibnu Mubarak RA. Lalu ia menyampaikan perihal sengatan kalajengking itu.

"Sungguh aku teramat malu untuk memotong hadist Rasulullah SAW hanya karena sengatan kalajengking."

Jawab Imam Malik RA.,

Subhanallah, sungguh tinggi rasa cinta dan penghormatan beliau Imam Malik RA kepada Rasulullah SAW., hingga beliau tak kuasa untuk memotong kalam Hadits Nabi SAW walau beliau dalam keadaan udzur, yaitu terkena sengatan kalajengking hingga sebanyak 16x. Beginilah keadaan Sang Pecinta yang sesungguhnya. Ia tak ingin memotong kalam seorang yang ia cinta.

Sumber :  Buku Kangen hal 54 - 55

Karangan :  Habib Novel bin Muhammad Alaydrus

Share:

51 Muksyafah Para Waliyullah

 


Waliyullah atau kekasih Allah memang diistemawakan oleh Allah dan memiliki banyak perbedaan keistimewaan atau Karomah dari setiap Wali. Berikut 51 Mukasyafah yang diberikan oleh Allah kepada para kekasih-Nya.

1). Ada wali yang mampu menyingkap alam gaib, hingga dinding dan kegelapan tidak menghalanginya untuk melihat apa yang dilakukan orang-orang di dalam rumah mereka.

2). Ada wali yang ketika berjumpa dengan seorang penzina, pemabuk, pencuri, pencela, atau orang yang suka berbuat zalim, ia melihat goresan tanda hitam pada anggota tubuh mereka yang melakukan maksiat. 'Ali Abi Ya'zi, guru Ibnu 'Arabi, termasuk wali yang menempati maqam ini. Mukasyafah ini khusus bagi orang yang bersifat wara' (orang yang benar-benar menjauhi maksiat dan syubhat).

3). Ada wali yang jika ada orang yang ribut atau diam di majelisnya, ia mengetahui derajat dan apa yang akan terjadi dengan orang itu, kenyataannya sesuai dengan apa yang dikatakan wali itu, dan ia selamanya tidak akan salah. Diceritakan bahwa ada seorang laki-laki ribut di majelis Abu Madyan, lalu orang itu disuruh keluar. Abu Madyan berkata, "Kamu akan melihat keadaanya setahun kemudian." Sebahagian orang yang hadir meminta penjelasan, lalu Abu Madyan berkata, "Ia akan menganggap dirinya Imam Mahdi." Dua puluh tahun kemudian, apa yang dikatakan Abu Madyan terjadi. Kemampuan ini berasal dari ilmu ladunni.

4). Ada wali yang tatkala bangun tidur, di hadapannya sudah tersedia minuman dari madu, susu, dan air, lalu ia meminumnya.

5). Ada wali yang mampu mengetahui alam ruhani yang berbeza dengan alam fisik, tetapi ia tidak menggelutinya.

6). Ada wali yang mampu mengetahui rahasia batu-batu mineral, dan semacamnya. Ia mengetahui khasiat, rahasia, dan bahaya dari batu-batu itu.

7). Ada wali yang dianugerahi maqam bisa memahami Allah dan mendengar tanda-tanda kekuasaan-Nya, sehingga ia bisa mendengar ucapan benda-benda mati. Apakah kemampuan itu termasuk hal yang biasa atau luar biasa tergantung pada tingkatan pemahaman terhadap ucapan benda mati. Yang termasuk hal luar biasa ada 2 macam. Pertama, merujuk pada orang yang mendengarnya, yakni kemampuan memahami hakikat ucapan benda mati. Kedua, merujuk pada ucapan benda-mati itu sendiri melalui karamah, misalnya bertasbihnya kerikil di telapak tangan sebahagian sahabat. Apabila seorang hamba memperoleh maqam ini, maka ia akan mendengar semua benda mati bertasbih dengan bahasa yang jelas seperti bahasa manusia.

8). Ada wali yang dianugerahi kemampuan menyingkap dunia tumbuh-tumbuhan. Semua tumbuhan dan rumput memberitahukan kepada wali itu sari-sari yang dikandungnya baik yang berbahaya atau yang berkhasiat. Tumbuh-tumbuhan itu berkata, "Hai hamba Allah, khasiatku begini dan bahayaku begini."

9). Ada wali yang dikaruniai kemampuan bergaul dengan binatang. Binatang-binatang mengucapkan salam kepadanya dengan bahasa yang jelas dan memberitahunya tentang khasiat-khasiat yang dikandungnya.

10). Ada wali yang diberi kemampuan menyibak perjalanan hidup orang yang masih hidup, rahasia-rahasia yang diberikan kepada orang itu sesuai dengan keadaannya, dan bagaimana perkembangan ibadahnya dalam perjalanan hidupnya itu.

11). Ada wali yang diberi kemampuan melihat hal-hal yang tidak mungkin melalui jentera dan merubah yang kasar menjadi lembut dan sebaliknya.

12). Ada wali yang diberi kemampuan meramalkan hal-hal jelek yang akan terjadi, lalu ia meminta dihindarkan sehingga ia tidak terkena hal buruk itu.

13). Ada wali yang diberi kemampuan ilmu astrologi dan cara-cara yang sistematis dan menyeluruh.

14). Ada wali yang dianugerahi kemampuan mencapai ilmu-ilmu ilahiyah dan diberitahu cara-cara untuk mencapainya seperti persiapan yang harus dilakukan, etika dalam mencari dan mengamalkan ilmu, memegang dan menyebarluaskannya, serta cara menjaga hati dari hal-hal yang merusak. Semua cara itu adalah satu kesatuan dan tersembunyi.

15). Ada wali yang dikaruniai kemampuan mengetahui tingkatan ilmu-ilmu teoritis, ide-ide yang cemerlang, dan bentuk-bentuk kesalahan pemahamannya, kemampuan membezakan antara prasangka dan ilmu, berbagai hal yang terjadi di antara alam arwah dan alam fisik, sebab terjadinya, dan berjalannya rahasia ilahi di alam ini serta sebabnya.

16). Ada wali yang mampu menangkap alam tashwir, alam taksin, alam benda-benda mati, bentuk-bentuk suci dan jiwa tumbuhan yang mestinya diketahui akal dalam bentuk dan susunan yang baik, rahasia-rahasia kelemahan, kelembutan dan rahmat orang-orang yang disifatinya.

17). Ada wali yang mampu menguak tingkatan kutub bumi.

18). Ada wali yang mampu menguak benda-benda yang memantulkan cahaya, benda-benda yang langgeng, benda-benda yang abadi, rahasia alam, dan kemampuan untuk menjaga dan menyampaikan amanat kepada orang yang berhak.

19). Ada wali yang dianugerahi pengetahuan tentang simbol-simbol, penghitungan, dan firasat.

20). Ada wali yang disingkapkan baginya dunia lain, mampu menyingkap kebenaran dan pendapat-pendapat yang benar, mazhab-mazhab yang lurus, dan syariat-syariat yang telah diturunkan.

21). Ada wali yang terlihat sebagai orang alim, Allah telah menghiasi mereka dengan pengetahuan-pengetahuan suci sebagai sebaik-baik perhiasan.

22). Ada wali yang dianugerahi kewibawaan, ketenangan, teguh pendirian, dan kemampuan mengetahui tipu muslihat dan rahasia-rahasia yang tersembunyi, dan sejenisnya.

23). Ada wali yang mampu berbicara, tetapi tidak terlihat siapa yang diajak bicara. Ia berbicara dengannya dan mendengar pembicaraan itu, baik pembicaraannya muncul tanpa dipikir sebelumnya, atau sebagai jawaban atas pertanyaan secara seketika, serta memberi dan menjawab salam.

24). Ada wali yang naik maqamnya, hingga ia mampu berbicara kepada malaikat dan bercakap-cakap dengannya. Apabila seorang hamba mencapai maqam ini maka ia bisa memanggil dan berhubungan dengannya. Apabila ia hanya berbicara kepadanya, maka malaikat tidak menjawabnya. Tetapi apabila pembicaraan antara mereka benar, mereka akan saling berbicara. Dan apabila ia mengalami hal tersebut, maka malaikat akan menolongnya.

25). Ada wali yang mampu mengatakan sesuatu yang belum terjadi dan memberitakan hal-hal gaib sebelum tampak. Dalam hal ini ada tiga bentuk yang mungkin terjadi; berupa penyampaian, tulisan, dan pertemuan. Ibnu Mukhallad mengalami tiga hal tersebut.

26). Ada wali yang disingkapkan baginya alam keraguan, kekurangan, kelemahan, dan rahasia-rahasia perbuatan.

27). Ada wali yang diperlihatkan padanya alam jin dan tingkatan derajatnya, neraka beserta tingkatannya, dan tingkatan azabnya.

28). Ada wali yang mampu mengetahui sifat-sifat manusia. Sebahagian manusia tertutup sifatnya dan sebahagian lain terbuka. Mereka mempunyai tasbih khusus yang bisa diketahui oleh wali apabila ia mendengarnya. Ibnu 'Arabi berkata, "Kita telah sama-sama menyaksikan karamah seperti ini. Sebahagian wali menuju maqam yang mulia sehingga ia mampu mengatakan 'jadilah' maka sesuatu yang dikehendakinya itu terjadi dengan izin Allah. Maqam ini sangat mulia dan merupakan bukti terbesar kewalian seseorang." Nabi Isa a.s. berkata, "Aku bisa menyembuhkan orang buta sejak lahir dan orang yang berpenyakit lepra dan menghidupkan orang mati dengan izin Allah" (QS Ali Imran [3]: 49). Masuk akal jika Allah memuliakan wali dengan memberinya karamah. Sesungguhnya karamah yang diterima seorang wali merupakan penghormatan kepada Nabi Saw., kerana wali tersebut telah mengikuti dan menjalankan ajaran-ajarannya, sehingga ia pantas mendapatkannya.

29). Ada wali yang naik menuju alam gaib, lalu ia melihat di sebelah kanan alam itu, ada sebuah pena yang menulis kejadian-kejadian di lauh mahfud dalam bentuk huruf-huruf yang bersyakal dan bertitik. Hal tersebut untuk membezakan beberapa bentuk dan jenis makhluk. Seperti golongan manusia, makhluk berkaki empat, makhluk bersayap, macam-macam benda mati, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan lain-lainnya. Orang yang mempunyai maqam ini selalu berusaha menemukan pemilik huruf yang tertulis dalam susunan yang rapi tersebut. Apabila penelitiannya lama, padahal usianya pendek, maka Allah membuatnya rendah hati dan memohon kepada Allah untuk menghapuskannya.

30). Ada wali yang menjaga diri dari makanan, minuman, dan baju yang syubhat (tidak jelas kehalalan dan keharamannya), apalagi dari yang haram. Hal itu ditandai dengan tanda yang ditunjukkan Allah dalam dirinya atau dalam sesuatu yang haram dan syubhat itu. Seperti yang dialami Al-Haris al-Muhasibi, apabila dihidangkan kepadanya makanan yang syubhat, tiba-tiba keluar keringat dari jarinya. Begitu pula yang terjadi pada ibu dari Abu Yazid al-Bustami ketika mengandungnya, tangannya tidak pernah menyentuh makanan syubhat, bahkan tangannya mengenggam sendiri jika menemukan makanan syubhat. Wali lainnya merasa mual memakan makanan syubhat, sehingga memuntahkannya kembali. Ada juga makanan syubhat di hadapan seorang wali berubah menjadi darah, ulat, berwarna hitam, atau babi, dan lain-lain.

31). Ada wali yang apabila menyentuh makanan yang sedikit, maka makanan itu menjadi banyak. Misalnya, seorang wali yang dikunjungi teman-temannya padahal ia hanya mempunyai satu makanan saja. Lalu ia mengiris roti dan menutupinya dengan kain. Maka mereka pun memakan roti itu sampai kenyang padahal roti itu tetap seperti semula (tidak berkurang). Karamah ini merupakan warisan Nabi Muhammad Saw. Contoh lainnya adalah yang terjadi pada Abu' Abdillah al-Tawadi yang membawa secarik kain dan memegang sisinya, kemudian ia menunjukkan ujungnya kepada penjahit sambil berkata kepadanya, "Ambillah kain ini sehingga cukup untuk orang banyak." Kain itu lalu diambil tapi tetap tidak habis-habis dengan izin Allah. Lalu penjahit itu berkata, "Kain ini tidak habis-habis." Lalu Abu 'Abdillah melemparkan kain itu dan berkata, "Sudah, cukup!"

32). Ada wali yang mampu menjadikan satu macam makanan dalam piring menjadi bermacam-macam sesuai dengan keinginan orang yang ada. Hal ini pernah terjadi pada salah seorang guru Abu Madyan r.a. Dalam suatu perjalanan, ia bertemu dengan seorang laki-laki, lalu berjalan bersamanya sebentar dan ia masuk ke rumah perempuan tua di sebuah gua. Sore harinya, ia kembali lagi ke perempuan tua itu dan duduk di sampingnya sampai putra perempuan itu datang. Anak itu mengucapkan salam kepadanya, lalu perempuan tua itu menghidangkan nampan berisi piring dan roti. Syaikh dan anak itu mulai makan. Si syaikh berkata, "Saya ingin yang saya makan ini menjadi begini." Anak itu lalu menjawab, "Wahai Syaikh, dengan nama Allah makanlah apa yang kau inginkan." Abu Madyan kemudian berkata, "Ketika saya terus menerus mengangankan keinginanku, anak itu melontarkan ucapan pertamanya, dan tiba-tiba saya mendapatkan makanan yang saya angankan. Anak itu masih muda, belum punya rambut di pelipisnya."

33). Ada wali yang bisa menjadikan makanan, minuman dan bajunya tergantung di udara. Seperti yang terjadi pada salah seorang wali yang membutuhkan air di padang pasir. Tiba-tiba ia mendengar deringan di atas kepalanya, lalu ia mendongakkan kepalanya, dan di situ ada gelas yang tergantung pada rantai emas. Ia meminumnya lalu meninggalkannya.

34). Ada wali yang bisa merubah air yang pahit dan asin yang ditemukannya menjadi manis dan segar. Ibnu' Arabi berkata, "Saya pernah meminum air semacam itu dari Abdullah, anak Ustaz al-Marwazi r.a., salah seorang khawwash murid dari salah seorang guru Abu Madyan.

35). Ada wali yang memakan makanan dari orang lain. Zaid memakan makanan dari 'Umar padahal 'Umar tidak di hadapannya. 'Umar merasa kenyang di tempatnya dan dia merasakan bau makanan itu seakan-akan dia yang memakannya. Hal ini pernah terjadi pada Al-Hajj Abu Muhammad al-Marwazi dan Abu' Abbas bin Abi Marwan di Ghirnatah. Hal itu terjadi kerana ahli makrifat ini mempunyai keinginan yang suci dan bersih dari dosa dalam batinnya. Allah memberikan karamah dalam dirinya sebagai penghormatan dan untuk membaguskan maqamnya, maka dari keinginannya itu keluarlah apa yang ia sebutkan.

36). Ada wali yang memakan makanan spiritual yang menjadikan jiwanya kekal. Ia tidak membutuhkan makanan jasmaniah kecuali hanya sedikit untuk mempertahankan dirinya. Kekekalan jiwa bisa tercapai dengan makanan ruhani.

37). Ada wali yang mengetahui rahasia biji-bijian dan penyemaiannya di bumi, hujan yang menyebabkannya tumbuh, angin yang menyebarluaskannya dan apa-apa yang membuat bumi menjadi tenang, serta matahari yang memancarkan cahayanya sebagai makanan bagi tumbuhan. Makanan itu mengandung kesempurnaan seperti yang diusahakan manusia. Pengetahuan tentang ini adalah ilmu yang mulia dan bernilai tinggi yang Allah berikan kepada para wali-Nya.

38). Ada wali yang dikaruniai kemampuan mengetahui hakikat bumi, lapisan-lapisan, dan rahasia-rahasianya, serta segala hukum alam yang ditetapkan oleh Allah secara terperinci.

39). Ada wali yang dibukakan kepadanya alam malakut, rahasia kehidupan, dan pengetahuan yang tersembunyi di dalam air, sehingga ia bisa mengetahui kehidupan yang kasat dan tak kasat mata dan mampu merasakan hal-hal yang berbahaya dan zat-zat yang ada di laut.

40). Ada wali yang mengetahui segala tingkat ilmu, kegunaannya di dunia, siapa yang memiliki dan tidak memilikinya, dan lain-lain.

41). Ada wali yang bisa berjalan di udara. Hal tersebut dialami oleh banyak wali. Ada seorang laki-laki yang melihat orang sedang berjalan di udara, lalu ia bertanya kepadanya, "Kerana apa engkau mendapatkan karamah itu?" Ia menjawab, "Kutinggalkan nafsuku untuk menuruti keinginan-Nya, maka Dia menundukkan udara bagiku." Lalu ia berlalu.

42). Ada wali yang dibukakan kepadanya pintu alam ruh di alam malakut, sehingga ia bisa mengetahui hakikat dari rahasia dan cara malaikat naik turun, rahasia pengaturan dan penundukan mereka, kewajiban-kewajiban dan hak-hak mereka.

43). Ada wali yang bisa datang ke lauh mahfuzh melalui esensi hatinya. Lalu dengan izin Allah, ia dapat menyingkap dan menyaksikan secara langsung (musyahadah) hal-hal yang ada di sana, padahal anggota badannya tidak bergerak, kecuali kedua matanya. 

44). Ada wali yang terus-menerus bersimpuh di hadapan lauh mahfuzh, padahal tidak ada manfaatnya.

45). Ada wali yang terkadang menyaksikan lauh mahfuzh.

46). Ada wali yang bisa melihat bagaimana pena menulis di atas lauh mahfuzh.

47). Ada wali yang melihat gerakan pena di lauh mahfuzh. Setiap maqam mempunyai tata cara yang khusus. Tanda orang yang menyaksikan lauh mahfuzh adalah ia menyebutkan rahasiamu padahal kamu diam saja. Seperti yang dikatakan Al-Junaid r.a. ketika ditanya, "Siapa ahli makrifat itu?" Ia menjawab, "Orang yang memberitahukan rahasiamu padahal kamu diam saja." Dan tanda orang yang menyaksikan pena lauh mahfuzh sedang menulis adalah ia bisa mengetahui rahasia yang kamu katakan dalam hati dari manapun asalnya dan sebab adanya.

48). Ada wali yang diperlihatkan oleh Allah rahasia-rahasia yang tersimpan di alam yang paling agung.

49). Ada wali yang diperlihatkan oleh Allah alasan dan sebab terjadi atau tidak terjadinya suatu peristiwa. Setelah ia mengetahuinya, ia memikirkan apakah peristiwa itu mempunyai pengaruh atau tidak? Apabila ada pengaruhnya, maka ia bersiap-siap untuk menerimanya. Apabila pengaruhnya merusak, maka ia memperingatkan teman-temannya. Apabila pengaruhnya berupa rahmat atau kabar gembira, maka ia bersiap-siap untuk bersyukur dan memuji Allah. Seperti Ibnu Barjan r.a. yang memberitahukan tahun akan terjadinya penaklukan Baitul Maqdis. Dan pada tahun yang ditentukan, terjadilah apa yang diramalkannya.

50). Ada wali yang diberitahu Allah tentang kelemahan dirinya, apa yang akan ia dapatkan, dan bagaimana keadaannya nanti.

51). Ada wali yang sampai pada keadaan ketika ia tidak melihat seorang pun yang ia ajak bicara kecuali Allah Swt. Ia melaksanakan segala perintah-Nya. Maqam ini adalah maqam yang penting. Orang yang mengalami maqam ini adalah Khair al-Nasaj r.a. ketika terbersit hal tersebut dalam pikirannya, lalu ia diuji dengan bertemu seseorang yang berkata kepadanya, "Kamu budakku, namamu Khair." Nassaj seakan-akan mendengar Allah yang mengatakan ucapan tersebut. Orang itu kemudian mempekerjakan Nassaj selama beberapa tahun, lalu ia berkata kepadanya, "Kamu bukan budakku dan namamu bukan Khair." Lalu orang itu melepaskan Nassaj.

Demikianlah, karamah tidak akan pernah habis untuk diungkap. Karamah-karamah yang disebutkan di atas cukup untuk mencapai tujuan, yaitu agar manusia tidak meremehkan para wali, bersopan santun kepada mereka apabila mendengar perkataan, perbuatan atau keadaan mereka, mematuhi perkataan mereka meskipun belum paham, dan berdamai dengan mereka supaya selamat. Apabila engkau mendengar rahasia Allah yang tersembunyi dalam diri makhluk yang dipilih sesuai dengan kehendak-Nya, maka terimalah dan percayailah, jika tidak, maka kamu tidak akan mendapat kebaikan. Inilah penjelasan yang saya ambil dari pendahuluan kitab Al-Tabaqat al-Kubra karya Imam 'Abdul Rauf al-Munawi r.a. juga yang telah saya lihat dalam kitab Mawaqi' al-Nujum karya Syaikh al-Akbar Ibnu 'Arabi r.a. 

Sumber : Group WA CKS

Share:

Tuesday, April 6, 2021

Kisah Sarung Habib Ali Al Habsyi Kwitang

 


Di waktu hidup Habib Ali bin 'Abdurrahman Al Habsyi Kwitang, di masa sehatnya selalu mengikuti kegiatan sholat lima waktu di Masjidnya yang tidak jauh dari kediamannya.

Suatu hari tatkala Habib Ali Kwitang akan menunaikan Sholat Dzuhur berjamaah di Masjid, datang seorang pengemis meminta-minta, yang pada waktu itu berpapasan dengan Habib Ali Kwitang di depan rumahnya.

"Apa yang bisa saya bantu untuk anda?" tanya Habib Ali Kwitang pada si pengemis.

"Saya butuh sarung..." jawab si pengemis itu.

"Kebetulan saya belum punya yang baru. Bagai mana kalo  yang lainnya?" Sahut Habib Ali Kwitang pada waktu itu. ( Maksud Habib Ali adalah selain dari sarung )

Kata si pengemis, "Tidak...saya mau sarung...!!! Dan sarungnya yang engkau pakai ya Habib...!!!"

"Tidak bisa yang lainnya? Saya ingin segera ke Masjid. Yang lainnya saja ya? Begitu Habib Ali Kwitang menimpali.

Dan berkatalah si pengemis itu,

"Katanya Engkau seorang Habib, katanya engkau Ali Habsyi... mana Ali Habsyi yang saya dengar? "

Mendengar seperti itu, Habib Ali Kwitang menjawab kepada pengemis itu,

"Tunggulah sebentar saya kedalam dulu..." 

Dengan bergegas Habib Ali Kwitang masuk ke dalam rumahnya untuk menemui istrinya, dengan memanggil sang istri, "Wahai istriku, apa masih ada sarung di lemari?"

"Tidak ada ya Abah... Sarungnya lagi di cuci, baru saja saya jemur." sahut sang istri.

"Ada juga sarung buat saya pake sehari hari." tambah si istri menjawab.

Lalu Habib Ali berkata lagi pada istrinya, "Sudah ambilkan saja sarungmu buat saya pakai untuk Sholat."

Lalu beranjaklah sang istri mengambil sarungnya di lemari untuk diserahkan pada Habib Ali, sambil penuh tanya, "Ya Abah ini gak salah? Ini sarung untuk wanita, bedakan sarung buat lelaki dan wanita?Dan yang Abah pakai bukannya masih bersih?"

Dijawab oleh Habib Ali Kwitang, "Iya. Ini sarung yang saya pakai ternyata ada peminatnya. Jadi harus segera kuserahkan,dan sarungmu ini biar sementara saya pakai untuk sholat."

Setelah rapi melipat dan membungkus kainnya, Habib Ali Kwitang segera memberikan sarungnya kepada pengemis itu, seraya berkata, "Ini sarungnya semoga manfaat..."

Dijawablah oleh pengemis itu, "Ini baru Ali Habsyi... Semoga Alloh berikan yang berlipat..." dan pengemis itu pamit pergi kepada Habib Ali Kwitang.

Lalu Habib Ali menuju ke Masjid dengan menggunakan sarung khusus wanita bermotif kembang kembang namun tertutup oleh jubahnya, sehingga orangpun tidak memperhatikannya. Setelah selesai memimpin Sholat, Habib Ali Kwitang pun beranjak menuju kerumahnya. Sampai di depan rumahnya, Habib Ali Kwitang mendapati satu Mobil Truk besar sedang menurunkan beratus ratus sarung.

Habib Ali Kwitang pun bertanya,"Ini punya siapa?"

Di jawab oleh sopir Mobil truk,

"Ini Hadiah sarung dari Surabaya untuk Habib Ali Al Habsyi di Kwitang."

Mendengar jawaban dari sopir tadi, Habib Ali Kwitang hanya bisa bilang,

"Allah telah berikan kontan..."

Begitulah Kisah Sarung Habib Ali bin 'Abdurrahman Al Habsyi Kwitang, Subhanalloh...

Share:

Wednesday, March 31, 2021

Kisah Karomah Menakjubkan Habib Ali Al Habsyi Kwitang

 


"YAA HABIB ALI AL HABSYI, ANTUM MUJABATUD DA'WAH. BERUNTUNG SEKALI NEGERI YANG ANTUM ADA DI DALAMNYA".

Dulu Tatkala Al Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi berkunjung ke Negeri Hadramaut untuk menziarahi para Ulama, baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat. Dalam kunjungannya, Beliau di temani oleh putra Beliau yaitu Al Habib Muhammad Al Habsyi.

Diantara kunjungannya. Beliau menyempatkan menghadiri Majelisnya Al Habib Alwi bin Abdullah bin Sahab di kota Tarim.

Melihat kedatangan Al Habib Ali Al Habsyi, Al Habib Alwi bin Syahab langsung menyambutnya dengan penuh kehormatan dan menempatkan Habib Ali Al Habsyi duduk di bagian depan berdampingan dengan Beliau.

Di hadapan Jamaah yang hadir di Majelis Beliau, Habib Alwi bin Syahab berkata :

"Hadirin sekalian, kita telah kedatangan seorang Alim Ulama dari Jawa, dari Bandar Betawi, yang namanya sudah tidak asing lagi di Negeri ini yaitu Al Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi".

"Dan atas kehadiran Beliau di Majelis ini, kami meminta kepada Al Habib Ali Al Habsyi untuk bermohon kepada Allah SWT agar menurunkan air hujan di Negeri kita ini, karena sudah cukup lama tidak turun hujan yang menimbulkan kekeringan di mana-mana, dan kita mohon kepada tamu kita Al Habib Ali Al Habsyi untuk berdoa memohon kepada Allah SWT atas niat tersebut."

Al Habib Ali Al Habsyi sempat menolaknya karena Beliau datang adalah untuk mengambil barokah dan mengharap do'a Al Habib Alwi bin Syahab. Tapi karena di mohon oleh tuan rumah, pada akhirnya Habib Ali Al Habsyi memanjatkan do'a kepada Allah SWT.

Selesai memanjatkan do'a, maka tidak begitu lama terlihat cuaca mulai mendung dan Habib Alwi berkata : 

"Sepertinya Majelis ini dicukupkan saja dulu, karena sebentar lagi akan turun hujan".

Tidak begitu lama, hujan pun turun dengan lebatnya dan akhirnya Habib Ali Al Hansyi bermalam di rumah Habib Alwi bin Syahab.

Hampir satu hari lamanya hujan tidak kunjung reda, maka pada akhirnya beberapa Jama'ah yang mewakili penduduk Negeri Tarim meminta kepada Habib Alwi bin Syahab agar menyampaikan kepada Habib Ali Al Habsyi untuk berdo'a agar hujan yang begitu lebat di alihkan di Wadi atau di sungai-sungai saja.

Dan Habib Alwi bin Syahab meminta lagi kepada Habib Ali Al Habsyi : "Ya Hababana Ali, mohonlah kepada Allah agar hujan ini di turunkan di sekitar kota saja yang tidak ada rumah rumahnya. Karena kalau tidak, rumah-rumah kami ini bisa hancur karena semua terbuat dari Tanah".

Mendengar perkataan Habib Alwi bin Syahab, langsung Habib Ali Al Habsyi menengadahkan tangannya tinggi-tinggi seraya berdo'a Kepada Allah SWT. Subhanallah, hujan pun berangsur-angsur berhenti.

Melihat hal demikian, Habib Alwi bin Syahab memeluk Habib Ali Al Habsyi seraya berkata : 

"Yaa Habib Ali Al Habsyi, Antum Mujabatud Da'wah. Beruntung sekali Negeri yang Antum ada di dalamnya".

Itulah Karomah Al Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi dan kisah ini disampaikan Al Habib Muhammad bin Ali Al Habsyi dalam kunjungan beliau bersama sang Ayah pada waktu itu Rihlah di Negeri Hadramaut.

Sumber : 

Antoe Dzibril / Khadim MT. Kwitang yang Beliau dapatkan dari Al Habib Muhammad bin Ali Al Habsyi. (FP Kisah Wali Allah)

Share:

Sunday, March 28, 2021

Beda Pendapat Soal Rezeki, Guru dan Murid Ini Justru Ketawa

 


Guru & Murid Tertawa Karena Beda Pendapat Tentang Rezeki :

Seorang Guru dalam majlis menyampaikan :

"Sesungguhnya rezeki itu datang tanpa sebab, cukup dengan tawakkal yang benar kepada Allah niscaya Allah akan meberikan Rezeki. Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah mengurus lainnya."

Sementara Sang Murid bependapat lain dari Gurunya :

"Seandainya seekor burung tidak keluar dari sangkarnya, bagaimana mungkin ia akan mendapatkan rezeki."

Guru dan Murid bersikukuh pada pada pendapatnya masing-masing.

Hingga suatu waktu, Sang Murid meningglkan pondok. Sang Murid melihat serombongan orang tengah memanen anggur. Diapun membantu mereka. Setelah pekerjaan selesai, Sang Murid memperoleh imbalan beberapa ikat anggur sebagai balas jasa.

Sang Murid pun girang, bukan karena mendapatkan anggur, tetapi pemberian itu telah menguatkan pendapatnya  tentang rezeki. Jika burung tak terbang dari sangkar, bagaimana ia akan mendapat rezeki. Seandainya dia tak membantu memanen, niscaya tidak akan mendapatkan anggur.

Bergegas dia menjumpai Sang Guru. Sambil menaruh seluruh anggur yang didapatnya, dia bercerita. Sang Murid sedikit mengeraskan bagian kalimat “Seandainya saya tidak keluar pondok dan melakukan sesuatu (membantu memanen), tentu saja anggur itu tidak akan pernah sampai di tangan saya.”

Mendengar itu, Sang Guru tersenyum, seraya mengambil anggur dan mencicipinya. Sang Guru berucap pelan.

“Sehari ini aku memang tidak keluar pondok. Hanya mengambil tugas sebagai guru, dan sedikit berpikir alangkah nikmatnya kalau dalam hari yang panas ini aku bisa menikmati anggur. Tiba-tiba engkau datang sambil membawakan beberapa ikat anggur untukku. Bukankah ini juga bagian dari rezeki yang datang tanpa sebab. Cukup dengan tawakkal yang benar kepada Allah niscaya Allah akan berikan rezeki. Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah yang mengurus lainnya.”

Sang Guru dan Sang Murid itu kemudian tertawa. Sang Guru yang dimaksud adalah Imam Malik, dan Sang Murid adalah Imam Syafi'i. 

Dua Imam madzab yang mengambil dua hukum yang berbeda dari hadits yang sama.

Begitulah cara Ulama bila melihat perbedaan, bukan dengan cara menyalahkan orang lain dan hanya membenarkan pendapatnya saja.

Semoga kisah ini dapat menjadi pelajaran untuk kita semua..

Sumber: FP (Kisah Wali Allah)

Share:

Friday, March 26, 2021

Kisah Ketika Jempol Imam Nawawi Al Bantani Mengeluarkan Cahaya

 


Ketika Asy Syeikh Al Imam Nawawi Al Bantani sedang menulis kitab Maraqil Ubudiyah yang merupakan syarah (penjelasan) kitab Bidayatul Hidayah karya Imam  Al Ghazali, lampu beliau kehabisan minyak hingga membuat proses menulisnya terhenti.

Kebetulan saat itu beliau sedang melakukan perjalanan menggunakan Haudjad (rumah-rumahan di atas unta). Beliau yang kesulitan untuk menulis kemudian berdoa kepada Allah, jika sekiranya kitabnya ini baik dan bisa bermanfaat bagi umat, maka beliau meminta cahaya agar beliau bisa meneruskan menulis.




Tiba-tiba, dengan izin Allah jempol kaki beliau (riwayat lain menyebutkan jempol tangan kiri) menyala layaknya sebuah lilin, hingga akhirnya beliau bisa menyelesaikan kitabnya tersebut. Bekas hitam akibat nyala api di jempol itu masih membekas hingga beliau wafat, malah menjadi hikmah tersendiri karena ketika pemerintah Hijaz mengadakan program wajib militer, beliau tidak diterima sebab bekas api di jempolnya itu.

Kisah di atas menandakan penjagaan Allah atas diri beliau. Karena jika saat itu beliau menjadi tentara, mungkin tidak akan banyak kitab yang beliau tulis seperti yang saat ini bertebaran. Allah memang telah mengkhususkan beliau untuk menjadi salah satu penjaga ilmu-Nya di dunia.

Hal ini terbukti dengan banyaknya kitab-kitab agama karangan beliau yang masih terus dikaji hingga saat ini. Bukan hanya di Indonesia, tapi di seluruh dunia. Kitab beliau umumnya berisi pembahasan dasar agama yang penting dipelajari setiap Muslim.

Wallohu A'lam...

Sumber : FP Kisah Wali Allah

Share:

Subscribe Channel Kami

Follow by Email

#QUOTES3 - Wirda Mansur 1

  #QUOTES3 - Wirda Mansur 1 Allah dulu, Allah lagi, Allah terus. Dahulukan Allah disegala hal. Punya masalah? Curhatnya ke Alloh...