Wednesday, September 25, 2019

Ngrayu Allah di MAJT


Semua berawal dari sebuah sentilan keras dari Alloh SWT. untukku. Sebuah kesakitan selama 7 hari 7 malam, yang sebab utamanya karena kurangnya keyakinan pada Allah, terlalu berharap pada makhluk, dan masih kurangnya ilmu tentang hati dan rasa.

Entah apa yang sedang menghantui belakangan ini, yang membuat hati ini kembali berteriak dengan keras. Andai saja bagian tubuh luar lainnya tak terkendalikan, maka entah apa yang akan terjadi.

Aku menganggapnya sebuah kesalahan besar yang aku lakukan selama 3 malam, membuat datangnya sebab pokok sentilan keras ini, selama 7 hari 7 malam, dan mungkin saja akan terus ada di malam-malam selanjutnya. Rasa khawatir, gelisah, takut, dan puncaknya adalah kesakitan yang tak tergambarkan. Dari hari awal, hati ini seperti ditusuk dari segala sisi, kemudian dipotong-potong, dan puncaknya adalah seperti dicincang.

Karena untuk menormalisasikan hati, yang pasti akan mempengaruhi semua keadaan, ku putuskan untuk pergi menuju tempat curhat dengan Allah dan Rosululloh paling nyaman, yaitu di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT). Tempat itu kini menjadi tempat aku mencurahkan isi hatiku, yang tidak semua orang tahu, bahkan yang orang tak tahu. Suasana disana sangat mendukung untuk mendatangkan ketentraman di hati.

Minggu, 22 September 2019 pagi, aku bergegas ke sana. Sebenarnya, niat untuk datang ke sana dan curhat, sudah ada sejak malamnya, ya karena sudah tak tahan. Tapi taqdirulloh, aku kalah cepat. Dan, pagi harinya lagi, hatiku disuguhi dengan pisau yang besar, yang kemudian mencincang hatiku, yang di malamnya telah terpotong, dan malam-malam sebelumnya sudah ditusuk-tusuk.

Karena puncak kesakitan cincangan itulah, diri ini sudah benar-benar tak tahan untuk segera curhat ke Allah dan Rosululloh, serta memohon ampun. Berangkat dengan penuh kesengsaraan hati dan keadaan, sampailah aku ditempat mulia. Menaiki tangga demi tangga dengan kesedihan. Kemudian disambut dengan Kajian Ahad Pagi di sana, dengan pembicara Dr. KH. In'amuzzahidin. Ada sedikit tawa yang muncul saat mendengarkan kajian beliau. Maklumlah, hati masih belum kondusif.

Sejak malam itu, aku sengaja menonaktifkan data di smartphoneku (mode pesawat), untuk mendukung kegiatan perenunganku, yang disebabkan sentilan keras ini.

Setelah acara Kajian Minggu Pagi selesai, aku melanjutkan bermunajat dengan i'tikaf di sana. Karena kebetulan pas di hari jadwal puasaku, jadi aku bisa full di masjid dari pagi hingga sore. Paling saya akan turun untuk ke toilet dan ambil wudhu. Hari itu ku lalui full di ruang utama sholat Masjid Agung Jawa Tengah, sampai datang menuju waktu berbuka, baru aku keluar dari masjid.

Selepas 'Isya, data di smartphoneku baru aku aktifkan. Nampak beberapa chat dan panggilan whatsapp dari teman messku yang mencariku. Memang, aku dari pagi pergi tanpa kabar. Hanya sedikit ku beri tahu pada salah satu temanku, bahwasannya aku mau pergi ke bengkel. Yah, bengkel hati dan jiwa. Taqdirulloh, baterai smartphoneku lemah. Biarlah, aku sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun. Sengaja ku perlama waktu pulangku, karena sungguh, aku tak ingin pulang ke tempat dimana aku tersakiti, ke tempat dimana hatiku tercincang-cincang.

Sampai di mess, ku perbalik keadaan luarku. Bergembira layaknya tak ada apa-apa, padahal kesakitan itu masih sangat jelas terasa. Memang sudah banyak berkurang, karena sudah diobati satu hari full di MAsjid Agung Jawa Tengah. Dari cerita kali ini, pembelajarannya adalah, sentilan Allah itu keras, maka jangan main-main.
Baca Juga
Share:

0 komentar:

Kisah Sang Kekasih

Subscribe Channel Kami