Friday, July 23, 2021

Kisah Wali Allah Hidupkan Ayam Yang Telah Mati Dimakannya Sendiri


Syaikh Siraj pernah berkata dalam bukunya Tuffahul Arwah bahwasannya, Muhammad bin Warsyanah,  yaitu seorang yang dipercayai untuk mengurusi badan wakaf untuk keperluan kaum fakir. Kaum fakir itu banyak yang mengeluh kepada Syaikh Tajuddin bin Rifa’i atas ketidakadlilan Muhammad bin Warsyanah. Sebab atas pengaduan itu, Syaikh Tajuddin lalu memanggil Muhammad bin Warsyanah ke hadapannya. Setelah Muhammad bin Warsyanah sampai, beliau Syaikh Tajuddin berkata padanya: “Wahai Muhammad, banyak kaum fakir yang mengeluh tentang ketidakadilanmu. Jika mereka berdusta, pasti kamu tahu. Dan jika mereka benar, pasti kamu kan tahu.” Belum selesai Syaikh Tajuddin berkata demikian, tiba-tiba Muhammad bin Warsyanah jatuh tersungkur dihadapan Syaikh Tajuddin dan menghembuskan nafasnya yang terakhir. Kejadian tersebut banyak disaksikan orang banyak.

Dikisahkan pula, pernah Syaikh Tajuddin bin Rifa’i pada suatu hari pergi ke suatu desa. Beliau tahu bahwa sebagian penduduknya tidak percaya akan adanya wali dan karomahnya. Kedatangan Syaikh Tajuddin disaksikan orang banyak. Di desa itu dikenal ada seorang yang tersohor sangar pelit. Di desa tersebut, beliau meminta pada orang yang dikenal sebagai orang yang pelit itu seekor ayam. Ayam itu dimakannya semua. Semua orang yang hadir di majelis itu berkata: “Wahai Syaikh, ayam yang kamu makan itu masih punya anak-anak kecil”. Mendengar ucapan para hidaran itu, beliau segera menunjukan tangannya ke mangkuk yang berisi sisa kuah dan tulang ayam yang habis dimakan beliau. Pada saat mereka membungka mangkuk itu, mereka terperanjat melihat bekas tulang belulang ayam itu kini berubah menjadi seeokor ayam hidup. Kemudian Syaikh Tajuddin mengembalikan ayam itu pada anak-anak ayam yang sedang mencari induknya.

Dikisahkan pula, Syaikh Tajuddin waktu itu masuk ke rumahnya di waktu siang, kemudian beliau tidur. Melihat Syaikh Tajuddin sedang tidur, kawan-kawannya lalu keluar rumah. Anehnya, waktu mereka masuk kembali, mereka dapatkan Syaikh Tajuddin tidak ada di tempat tidurnya. Mereka menjadi heran semuanya. Ketika mereka masih merasa heran dengan apa yang terjadi, tiba-tiba Syaikh Tajuddin sudah berada lagi di tempat tidurnya tanpa diketahui darimana munculnya beliau. Kemudian Syaikh Tajuddin bangkit untuk sholat. Dalam keadaan yang sedemikian itu,tidak seorang pun yang berani menanyakan pada beliau.

Dikisahkan pula bahwa beliau mendengar putrinya sakit. Ketika Syaikh Tajuddin mengambil air wudhu, Allah memberinya ilham agar bekas air wudhunya itu diminumkan. Setelah diminumkan, Allah memberinya kesembuhan.

Selain itu, masih banyak karomah beliau yang perlu disebutkan disini. Namun karena mengingat tempat, terpaksa kami cukupkan dengan yang ada saja.

Syaikh Tajuddin wafat di Mekkah pada tahun 1050 H. Beliau dimakamkan di makam yang telah disiapkan sendiri semasa hidupnya. Beliau dimakamkan di atas gunung  Qaiqa’an. Makam beliau banyak dikunjungi orang.

Sumber : Buku Kumpulan Kisah Keramat Para Wali, Yunus Ali Al Muhdar, 2000 (dengan editan)

Baca Juga
Share:

0 komentar:

Kisah Sang Kekasih

Subscribe Channel Kami