Windarwati : Cekelan Sarung Kyai

Aja Sampek Ucul Cekelan Sarung Kyai. Maksude tutke kyai, sebab kyai kui warisane nabi SAW. lan ojo asal pilih Kyai sing Sangar

Wirda Mansur : Dahulukan Alloh

Dahulukan Alloh. Alloh dulu, Alloh lagi, Alloh terus.

Tentang Pecinta

Hakikatnya Pecinta itu, tidak ingin jauh jauh, apalagi berpisah dengan yang dia cintai.

UYM : Kita Hidup Juga Masalah

Dunia ini penuh masalah, kita hidup juga sudah termasuk masalah. iya kan?

Aa Gym : Jangan Ributkan Perbedaan!

Kita juga Produk dari perbedaan. Kita lahir dari laki-laki dan perempuan, Adam dan Hawa, bukan Adam dan Asep

Friday, February 26, 2021

Kisah Wali Allah Hancurkan Kereta Kebal (Tank) Afghanistan


Syeikh Ahmad Junaidin

Siapa tak kenal dengan Syeikh Ahmad Junaidin, Mursyidul Am Persatuan Warga Melayu di Sungai Petani, Kedah. Diceritakan bahawa, Syeikh Ahmad yang mewarisi ilmu Tok Kenali (Wali Allah di Kelantan) pernah menghancurkan kereta kebal tentera komunis Soviet Rusia yang ketika itu sedang menyerang bumi Mujahiden, Afghanistan. Kisah ini diperkirakan tidak pernah diceritakan kepada siapapun anak muridnya yang berjumlah ribuan orang kecuali kepada adindanya.

Pada waktu itu beliau sedang duduk berzikir di atas sajadah selepas menunaikan sholat. Tiba-tiba Syeikh Ahmad melihat cahaya putih berserta terowongan di hadapannya. Syeikh Ahmad terus masuk ke dalam terowong dan melihat sekumpulan perajurit Islam sedang dikepung oleh puluhan unit kereta kebal Rusia. Laungan Allahu Akbar jelas kedengaran dan Allah menolong para Mujahiden dengan mendatangkan Syeikh Ahmad.

Kata Syeikh Ahmad, dia merasa seperti mimpi lalu terus menuju ke arah kereta kebal dan menendang semua kereta kebal sehingga hancur terbarai. Maka terselamatkanlah para Mujahiden dari keganasan tentera Rusia.

Selesai menghancurkan kereta kebal, dia menemui sebentar para Mujahiden sebelum meminta untuk pulang. Beberapa orang dari para Mujahidin sempat berbual mesra dengan Syeikh Ahmad sambil bertanyakan nama dan dari mana Syeikh Ahmad berasal?

Sekali lagi, Syeikh Ahmad mendapati secara tiba-tiba dia tersadar sudah berada di atas sejadah. Apa yang terjadi hari itu diceritakan kepada sahabatnya yang tinggal serumah.

Sahabatnya menganggap Syeikh seorang pembohong karena seharian itu dia bertemu Syeikh Ahmad. Apakah mungkin Syeikh sudah sampai ke Afghanistan yang  jaraknya ribuan kilometer jauhnya dari Kedah, Malaysia.

Setelah setahun, datanglah sekumpulan orang berwajah Arab dari Afghanistan ke Kedah mencari Syeikh Ahmad. Mendengar cerita dari orang Afghanistan itu, barulah sahabat Syeikh itu mengetahui bahwa apa yang diceritakan oleh Syeikh Ahmad benar-benar terjadi.

Allah menolong Hamba-hamba-Nya yang bertakwa secara lazim ataupun tidak lazim. Mintalah kepada Allah SWT dengan sabar, sholat serta melakukan perbuatan baik lain mengikut petunjuk Al Qur'an dan sunnah baginda Rasulullah SAW.

Sumber : Disalin dan diedit dari FP Kisah Wali Allah

Share:

Tuesday, February 23, 2021

Duduklah Bersama Orang-orang Yang Mengingat Allah


 

Seperti biasa, Alhamdulillah Allah masih memberikan kesempatan kepada saya untuk menghadiri rutinan Ta'lim Malam Selasa di Majelis Taklim Al Amin Kota Semarang asuhan Al Habib Muhammad Amin bin 'Abdurrahman Al 'Atthos. Disana kami mengaji Kitab-kitab Salaf seperti Kitab Hadits Arba'in An Nawawi Lil Imam An Nawawi, Kitab Annashaih Addiniyyah dan Arrisalah Almu'awanah Lil Habib 'Abdullah bin 'Alwi bin Muhammad  Al Haddad Shohibur Rathib, dan Kitab Fiqh Risalatul Jami' Lil Habib Ahmad bin Zain Al Habsyi.

Saya mengambil kesimpulan terbesar pada penjabaran Kitab Annashaih Addiniyyah dan Risalatul Mu'awanah pada kajian Senin, 22 Februari 2021 yaitu :

1. Selalulah berdzikir kepada Allah SWT dalam segala keadaan, baik dalam kondisi berdiri, berjalan, ataupun berbaring

2. Duduklah dalam sebuah majlis yang di dalamnya ada Dzikir kepada Allah. Jika tidak ada, maka engkau tidak akan mendapat apapun kecuali PENYESALAN.

3. Berdzikirlah kepada Allah dalam kondisi berbaringmu. Jika tidak, maka engkau tergolong orang-orang yang merugi.

4. Ketengan bisa datang dari Syaithan. Namun ketenangan yang hakiki adalah datang dari mengingat atau berdzikir kepada Allah SWT.

5. Ketenangan yang datang dari Syaithan ketika sebab ketengan itu pergi, maka kegelisahan akan datang menghantui hati.

6. Ketenangan yang datang dari Allah SWT akan senantiasa ada dalam segala hal, meski dalam ujian terberat sekalipun.

7. Hendaknnya engkau selalu berhuznudzon kepada sesama Muslim.

8. Tidak ada yang lebih menyelamatkanmu daripada berhusnudzon pada Allah dan Hamba-hamba-Nya.

9. Suudzon adalah pangkal dari segala keburukan.

10. Dengan Husnudzon engkau akan selamat, meski Husnudzonmu itu salah.

Share:

Friday, February 19, 2021

Manaqib & Karomah Habib Husein Luar Batang

 


Beliau lahir di Mighrab, dekat Hazam, Hadramaut. Datang di Betawi sekitar tahun 1746 M. Berdasarkan cerita, bahwa beliau wafat di Luar Batang, Betawi tanggal 24 Juni 1756 M bertepatan dengan 17 Ramadhan 1169 Hijriyah dalam usia lebih dari 30 tahun ( dibawah 40 tahun ). Jadi diduga sewaktu tiba di Betawi berumur 20 tahun. Habib Husein bin Abubakar Alaydrus memperoleh ilmu tanpa belajar atau dalam istilah Arabnya “Ilmu Wahbi“, yaitu pemberian dari Allah tanpa belajar dahulu.

Silsilah beliau : Habib Husein bin Abubakar bin Abdullah bin Husein bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Husein bin Abdullah bin Abubakar Al-Sakran bin Abdurrahman Assaqqaf bin Muhammad Maula Al-Dawilah bin Ali bin Alwi bin Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam bin Ali bin Muhammad Shahib Mirbath dan terus bersambung sampai Sayyidah Fathimah RA binti Rasulullah SAW.

Karomah Habib Husein Alaydrus Luar Batang diantaranya :

1. Menjadi Mesin Pemintal

    Di masa belia, di tanah kelahirannya yaitu di daerah Hadhramaut, Yaman Selatan, Habib Husein berguru pada seorang Alim Sufi. Di hari-hari libur ia pulang untuk menyambang Ibunya.

    Pada suatu malam ketika ia berada di rumahnya, ibu Habib Husein meminta tolong agar ia bersedia membantu mengerjakan pintalan benang yang ada di gudang. Habib Husein segera menyanggupi, dan ia segera ke gudang untuk mengerjakan apa yang di perintahkan oleh ibunya. Makan malam juga telah disediakan. Menjelang pagi hari, ibu Husein membuka pintu gudang. Ia sangat heran karena makanan yang disediakan masih utuh belum dimakan Husein. Selanjutnya ia sangat kaget melihat hasil pintalan benang begitu banyaknya. Si Ibu tercengang melihat kejadian ini. Dalam benaknya terpikir bagaimana mungkin hasil pemintalan benang yang seharusnya dikerjakan dalam beberapa hari, malah hanya dikerjakan kurang dari semalam, padahal Habib Husein dijumpai dalam keadaan tidur pulas disudut gudang.

    Kejadian ini oleh ibunya diceritakan kepada Guru Thariqah yang membimbing Habib Husein. Mendengar cerita itu maka ia bertakbir sambil berucap : “Sungguh Allah berkehendak pada anakmu, untuk di perolehnya derajat yang besar disisi-Nya, hendaklah Ibu berbesar hati dan jangan bertindak keras kepadanya, rahasiakanlah segala sesuatu yang terjadi pada anakmu.”

2. Menyuburkan Kota Gujarat

    Hijrah pertama yang di singgahi oleh Habib Husein adalah di daratan India, tepatnya di kota Surati atau lebih dikenal Gujarat. Kehidupan kota tersebut bagaikan kota mati karena dilanda kekeringan dan wabah kolera.

    Kedatangan Habib Husein di kota tersebut di sambut oleh ketua adat setempat, kemudian ia dibawa kepada kepala wilayah serta beberapa penasehat para normal, dan Habib Husein di perkenalkan sebagai titisan Dewa yang dapat menyelamatkan Negeri itu dari bencana.

    Habib Husein menyangupi bahwa dengan pertolongan Allah, ia akan merubah Negeri ini menjadi sebuah Negeri yang subur, asal dengan syarat mereka mengucapkan dua kalimat Syahadat dan menerima Islam sebagai agamanya. Syarat tersebut juga mereka sanggupi dan berbondong-bondong warga di kota itu belajar agama Islam.

    Akhirnya mereka di perintahkan untuk membangun sumur dan sebuah kolam. Setelah pembangunan keduanya di selesaikan, maka dengan kekuasaan Allah SWT turun hujan yang sangat lebat, membasahi seluruh daratan yang tandus. Sejak itu pula tanah yang kering berubah menjadi subur. Sedangkan warga yang terserang wabah penyakit dapat sembuh, dengan cara mandi di kolam buatan tersebut. Dengan demikian, Kota yang dahulunya mati, kini secara berangsur-angsur kehidupan masyarakatnya menjadi sejahtera.

3. Mengislamkan Tawanan

    Setelah tatanan kehidupan masyarakat Gujarat berubah dari kehidupan yang kekeringan dan hidup miskin menjadi subur serta masyarakatnya hidup sejahtera, maka Habib Husein melanjutkan hijrahnya ke daratan Asia Tenggara untuk tetap mensiarkan Islam. Beliau menuju pulau Jawa, dan akhirnya menetap di Batavia. Pada masa itu hidup dalam jajahan pemerintahan VOC Belanda.

    Pada suatu malam, Habib Husein dikejutkan oleh kedatangan seorang yang berlari padanya karena di kejar oleh tentara VOC. Dengan pakaian basah kuyub ia meminta perlindungan karena akan dikenakan hukuman mati. Ia adalah tawanan dari sebuah kapal dagang Tionghoa.

    Keesokan harinya, datanglah pasukan tentara berkuda VOC ke rumah Habib Husein untuk menangkap tawanan yang dikejarnya. Beliau tetap melindungi tawanan tersebut, sambil berkata : “Aku akan melindungi tawanan ini dan aku adalah jaminannya.”

    Rupanya ucapan tersebut sangat di dengar oleh pasukan VOC. Semua menundukkan kepala dan akhirnya pergi, sedangkan tawanan Tionghoa itu sangat berterima kasih, sehingga akhirnya ia memeluk Islam.

4. Menjadi Imam di Penjara

    Dalam masa sekejab telah banyak orang yang datang untuk belajar agama Islam. Rumah Habib Husein banyak dikunjungi para muridnya dan masyarakat luas. Hilir mudiknya umat yang datang membuat penguasa VOC menjadi khawatir akan menggangu keamanan. Akhirnya Habib Husein beserta beberapa pengikut utamanya ditangkap dan di masukan ke penjara Glodok. Bangunan penjara itu juga dikenal dengan sebutan “Seksi Dua.”

    Rupanya dalam tahanan Habib Husein ditempatkan dalam kamar terpisah dan ruangan yang sempit. Sedangkan pengikutnya ditempatkan di ruangan yang besar bersama tahanan yang lain.

    Polisi penjara dibuat terheran-heran karena ditengah malam melihat Habib Husein menjadi imam di ruangan yang besar, memimpin shalat bersama-sama para pengikutnya. Hingga menjelang subuh masyarakat di luar pun ikut bermakmum. Akan tetapi anehnya dalam waktu yang bersamaan pula polisi penjara tersebut melihat Habib Husein tidur nyenyak di kamar ruangan yang sempit itu, dalam keadaan tetap terkunci.

    Kejadian tersebut berkembang menjadi buah bibir dikalangan pemerintahan VOC. Dengan segala pertimbangan akhirnya pemerintah Belanda meminta maaf atas penahanan tersebut. Habib Husein beserta semua pengikutnya dibebaskan dari tahanan.

5. Si Sinyo Menjadi Gubernur

    Pada suatu hari, Habib Husein dengan ditemani oleh seorang Mualaf Tionghoa yang telah berubah nama Abdul Kadir duduk berteduh di daerah Gambir. Disaat mereka beristirahat, lewatlah seorang Sinyo (anak Belanda) dan mendekat ke Habib Husein. Dengan seketika Habib Husein menghentakan tangannya ke dada anak Belanda tersebut. Si Sinyo kaget dan berlari ke arah pembantunya.

    Dengan cepat Habib Husein meminta temannya untuk menghampiri pembantu anak Belanda tersebut, untuk menyampaikan pesan agar disampaikan kepada majikannya, bahwa kelak anak ini akan menjadi seorang pembesar di Negeri ini.

    Seiring berjalannya waktu, anak Belanda itu melanjutkan sekolah tinggi di Negeri Belanda. Kemudian setelah lulus, ia di percaya di angkat menjadi Gubernur Batavia.

6. Cara Berkirim Uang

    Gubernur Batavia yang pada masa kecilnya telah diramal oleh Habib Husein bahwa kelak akan menjadi orang besar di Negeri ini, ternyata memang benar adanya. Rupanya Gubernur muda itu menerima wasiat dari ayahnya yang baru saja meninggal dunia. Di wasiatkan kalau memang apa yang dikatakan Habib Husein menjadi kenyataan diminta agar ia membalas budi dan jangan melupakan jasa Habib Husein.

    Akhirnya Gubernur Batavia menghadiahkan beberapa karung uang kepada Habib Husein. Uang itu diterimanya, tetapi dibuangnya ke laut. Demikian pula setiap pemberian uang berikutnya, Habib Husein selalu menerimanya, tetapi juga dibuangnya ke laut. Gubernur yang memberi uang menjadi penasaran dan akhirnya bertanya mengapa uang pemberiannya selalu di buang ke laut. Dijawabnya oleh Habib Husein bahwa uang tersebut dikirimkan untuk ibunya ke Yaman.

    Gubernur itu dibuatnya penasaran, akhirnya diperintahkan penyelam untuk mencari karung uang yang di buang ke laut, dan tak satu keping uang pun ditemukan. Selanjutnya Gubernur Batavia tetap berupaya untuk membuktikan kebenaran kejadian ganjil tersebut. Maka ia mengutus seorang ajudan ke negeri Yaman untuk bertemu dan menanyakan kepada Ibu Habib Husein.

    Sekembalinya dari Yaman, ajudan Gubernur tersebut melaporkan bahwa benar adanya. Ibu Habib Husein telah menerima sejumlah uang yang di buang ke laut tersebut pada hari dan tanggal yang sama.

7. Kampung Luar Batang

    Gubernur Batavia sangat penuh perhatian kepada Habib Husein. Ia menanyakan apa keinginan Habib Husein. Jawabnya, : “Saya tidak mengharapkan apapun dari tuan.” Akan tetapi Gubernur itu sangat bijak. Maka dihadiahkanlah sebidang tanah di Kampung Baru, sebagai tempat tinggal dan peristirahatan yang terakhir.

    Habib Husein telah di panggil dalam usia muda, ketika berumur kurang lebih 30-40 tahun. Meninggal pada hari kamis tanggal 17 Ramadhan 1169 atau bertepatan tanggal 27 Juni 1756 M. Sesuai dengan peraturan pada masa itu bahwa setiap orang asing harus di kuburkan di pemakaman khusus yang terletak di Tanah Abang.

    Sebagai mana layaknya, jenazah Habib Husein di usung dengan kurung batang (keranda). Ternyata sesampainya di pekuburan, jenazah Habib Husein tidak ada dalam kurung batang. Anehnya, jenazah Habib Husein kembali berada di tempat tinggal semula. Dalam bahasa lain, jenazah Habib Husein keluar dari kurung batang. Pengantar jenazah mencoba kembali mengusung jenazah Habib Husein ke pekuburan yang dimaksud, namun demikian jenazah Habib Husein tetap saja keluar dan kembali ke tempat tinggal semula.

    Akhirnya para pengantar jenazah memahami dan bersepakat untuk memakamkan jenazah Habib Husein di tempat yang merupakan tempat rumah tinggalnya sendiri. Kemudian orang menyebutnya “Kampung Baru Luar Batang” dan kini dikenal sebagai “Kampung Luar Batang."

Begitulah Manaqib dan Karomah Habib Husein Luar Batang.

Share:

Wednesday, February 17, 2021

Cinta Tulus Sang Nenek Pengumpul Daun Pada Rasululullah SAW



Dahulu di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek tua penjual bunga cempaka. Ia menjual bunganya di pasar, setelah berjalan kaki cukup jauh. Usai jualan, ia pergi ke Masjid Agung di kota itu. Ia berwudhu, masuk masjid, dan melakukan shalat Dzuhur.

Setelah membaca wirid sekedarnya, ia keluar Masjid dan membungkuk-bungkuk di halaman Masjid. Ia mengumpulkan dedaunan yang berceceran di halaman Masjid. Selembar demi selembar dikaisnya. Tidak satu lembar pun ia lewatkan. Tentu saja agak lama ia membersihkan halaman masjid dengan cara itu. Padahal matahari Madura di siang hari sungguh menyengat.

Keringatnya membasahi seluruh tubuhnya. Banyak pengunjung Masjid jatuh iba kepadanya. Pada suatu hari, Takmir masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum perempuan tua itu datang. Pada hari itu, ia datang dan langsung masuk masjid. Usai shalat, ketika ia ingin melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut. Tidak ada satu pun daun terserak disitu.

Ia kembali lagi ke Masjid dan menangis dengan keras. Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah disapukan sebelum kedatangannya. Orang-orang menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya. “Jika kalian kasihan kepadaku,” kata nenek itu, “Berikan kesempatan kepadaku untuk membersihkannya...” Singkat cerita, nenek itu dibiarkan mengumpulkan dedaunan itu seperti biasa. Seorang Kyai terhormat diminta untuk menanyakan kepada nenek itu mengapa ia begitu bersemangat membersihkan dedaunan itu.

Nenek itu mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat: pertama, hanya Kyai yang mendengarkan rahasianya;  kedua, rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup. Sekarang ia sudah meniggal dunia, dan Anda dapat mendengarkan rahasia itu. “Saya ini perempuan bodoh, Pak Kyai,” tuturnya. “Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya tidak mungkin selamat pada hari akhirat tanpa Syafa'at Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu Shalawat kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Kanjeng Nabi menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membacakan Shalawat kepadanya.” 

Kisah ini saya dengar dari Kiai Madura, D. Zawawi Imran, membuat bulu kuduk saya merinding. Perempuan tua dari kampung itu bukan saja mengungkapkan cinta Rasul dalam bentuknya yang tulus. Ia juga menunjukkan kerendahan hati, kehinaan diri, dan keterbatasan amal di hadapan Allah SWT. Lebih dari itu, ia juga memiliki kesadaran spiritual yang luhur. Ia tidak dapat mengandalkan amalnya. Ia sangat bergantung pada rahmat Allah. Dan siapa lagi yang menjadi rahmat semua alam selain Rasulullah SAW?

Semoga kisah ini menjadikan kita semakin mencintai Nabi Muhammad, Rasulullah SAW…… Allahhuma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala aali Sayyidina Muhammad. 

(Sumber : buku “Rindu Rasul”, karangan Jalaluddin Rakhmat, penerbit Rosda Bandung, hal 31-33. cetakan pertama September 2001)

Share:

Monday, February 15, 2021

Kisah Karomah Sang Petani Waliyulloh

 

Foto Ilustrasi


Kisah Wali Allah kali ini adalah seorang petani shalih dari Negeri Syiria. Pada Zaman Al Faqh Al Muthahhar Muhammad bin Al Sham terjadi sebuah kisah yang aneh dan menakjubkan tepatnya di daerah Al Humrah Negeri Syiria. Di sana tinggal seorang petani yang shalih dan suka berderma.

Ia membangun sebuah Masjid. Bila malam tiba, ia senantiasa pergi ke masjidnya untuk sholat dan selalu membawa lampu serta berbekal santap malam. Jika Allah mentakdirkan ada orang yang membutuhkan sedekah, ia berikan bekal santap malamnya. Jika tidak ada, ia makan sendiri, baru kemudian melakukan sholat. Setiap hari demikian berlangsung terus.

Pada suatu saat Allah takdirkan di daerah ini terjadi krisis air. Banyak sumur yang kering, termasuk sumur miliknya. Petani itu dibantu oleh anak-anaknya bermaksud memperdalam sumurnya agar memperoleh air. Ketika ia sedang berada di dalam sumur, tiba-tiba bibir sumur ambrol, sebongkah bibir sumur jatuh dan menguburnya.

Anak-anaknya tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka tidak berani melakukan penggalian mencari jasad ayahnya yang tertimbun, karena resikonya adalah nyawa mereka sendiri. Mereka pasrah, dan menjadikan disitulah kuburan ayahnya.

Enam tahun kemudian, Anak-anaknya sedang memperbaiki sumur tersebut. Ketika penggalian sampai di bagian bawah, antara percaya dan tidak, mereka mendapati ayahnya masih hidup. Berceritalah ayahnya, “Di dalam sumur itu ternyata ada goa, ketika dulu jatuh aku masuk ke dalam goa itu, aku tidak terkubur karena sebatang kayu mendahului jatuh di depan mulut goa sehingga menghalangi bongkahan–bongkahan bibir sumur yang ambruk.

Di dalam goa amat gelap, beberapa saat kemudian Allah memberi pertolongan berupa munculnya sebuah lampu dan makanan yang biasa aku bawa ke masjid setiap malam, sehingga aku bisa bertahan hidup selama enam tahun”.

Tersiarlah peristiwa ini dan menjadi pelajaran yang berharga dan ramai diperbincangkan oleh manusia di pasar-pasar Negeri Syiria.

Imam Muhammad bin Ali Asy Syakani dalam Kitab Al Badru Ath Tholi’ (I/492) dalam biografi Ali bin Muhammad Al Bakri berkata, “Penulis Kitab Mathla’ Al Budur”. Di antara orang yang pernah mengunjungi Petani tersebut ialah Muhammad bin Al Asham.

Sumber : FP Kisah Para Wali Allah



Share:

Thursday, February 11, 2021

Kisah Guru Tua Menyadarkan Masyarakat Yang Gemar Berjudi


 

Al Habib Idrus bin Salim Al Jufri Palu yang biasa di sapa Guru Tua oleh para Masyarakat Palu mendapat laporan bahwa kini masyarakat banyak yang bermain Judi Undian berhadiah.
Lalu di saat Sholat Jum'at, Guru Tua bertindak menjadi Khatib. Namun sebelumnya Guru Tua mengumumkan agar Jama'ah jangan ada yang pulang setelah Sholat Jum'at nanti.
Setelah Sholat Jum'at usai, Guru Tua pun berdiri dan mengumumkan maksudnya.
"Jama'ah sekalian, akan saya umumkan nomor Undian yang akan Keluar Minggu ini. Cepat kalian catat... "

Nampak Jama'ah yang suka bermain undian senang dan sebagian Jama'ah terheran heran. Akhirnya Jamaah pulang dan benarlah apa yang dikatakan oleh Guru Tua, nomor undian yang di umumkannya Keluar minggu ini. Mengetahui akan hal tersebut, murid muridnya bertanya,
"Guru, kenapa engkau malah memberitahukan nomor yang akan keluar pada masyarakat?"
Lalu Jawab Guru Tua pada murid muridnya,
" Sudah kalian lihat saja nanti ......... "

Lalu tibalah hari Jum'at dan masyarakat bertanya tentang jadwal Khotib Guru Tua. Setelah masyarakat mengetahui di mana Masjid yang Guru Tua menjadi Khatib,
berbondong-bondonglah Masyarakat membanjiri Masjid tersebut. Usai Sholat Jum'at, masyarakat tidak ada yang beranjak, mereka menunggu pengumuman dari Guru Tua.

Lalu Guru Tua berdiri dan mengumumkan nomor yang akan keluar minggu ini, dan nyata nomor yang di umumkannya keluar dan begitu terus menerus hingga seluruh bandar-bandar Judi Undian bangkrut.

Setelah tidak ada lagi bandar Judi undian yang berani buka karena banyak yang Rugi besar,
barulah Guru Tua memberikan nasehat kepada Masyarakat akan dosa dan siksa orang berjudi yang Alloh sediakan.
Demikian sekilas mengenai Guru Tua Sayidil Imam Al Ariefbillah Al Habib Idrus bin Salim Al Jufri Muasis Al Khairat Palu
Share:

Wednesday, February 10, 2021

42 Rahasia Dahsyatnya Sholawat

 


Syekh Abdul Qadir Al Jailani Qaddasallah Sirrahu, memberi nasihat: “Ketahuilah, membaca sholawat kepada Nabi Muhammad SAW adalah salah satu ibadah paling mulia, bentuk ketaatan paling luhur, ibadah yang paling tinggi nilainya, yang diperintahkan Allah SWT kepada kita, sebagai bentuk penghormatan, pemuliaan dan pengagungan terhadap derajat beliau SAW. Orang yang membaca sholawat dijanjikan akan mendapatkan tempat paling indah di akhirat dan pahala paling besar.

Membaca sholawat adalah amal perbuatan yang menyelamatkan, ucapan paling utama, ibadah yang menguntungkan, mengandung barokah paling banyak, dan ahwal yang paling kokoh. Dengan membaca sholawat, seorang hamba bisa meraih keridhaan Tuhan Yang Maha Penyayang, memperoleh kebahagiaan dan restu Allah SWT, barokah-barokah yang dapat dipetik, doa-doa yang terkabulkan, bahkan dia bisa naik ke tingkatan derajat yang lebih tinggi, serta mampu mengobati penyakit hati, dan diampuni dosa-dosa besarnya."

Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللَّهَ وَ مَلَئكتَهُ يُصلُّونَ عَلى النَّبىِّ يَأَيهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صلُّوا عَلَيْهِ وَ سلِّمُوا تَسلِيماً

"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersholawat kepada Nabi; Wahai orang-orang yang beriman, bershlawatlah kamu kepadanya dan ucapkan salam kepadanya.” (QS Al-Ahzab [ 33]: 56)

Dalam Kitab As-Safinah Al-Qadiriyah, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani juga menjelaskan tentang keutamaan-keutaman bersholawat kepada Rasulullah SAW dengan merujuk apa yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Furhan dalam kitab Haqa’iq Al-Anwar.

Beliau menyebut 42 keutamaan dan keuntungan berselawat kepada Nabi. Menurutnya, “Membaca sholawat kepada Nabi membuahkan banyak faedah yang bisa dipetik oleh seorang hamba, yaitu:

1. Bersholawat untuk Nabi berarti melaksanakan perintah Allah SWT.

2. Bersholawat untuk Nabi berarti meniru Allah yang bersholawat kepada Nabi.

3. Bersholawat untuk Nabi berarti meniru Malaikat-malaikat-Nya yang bersholawat kepada Nabi. 

4. Mendapat balasan 10 kali lipat sholawat dari Allah SWT untuk diri kita pada setiap sholawat yang kita ucapkan.

5. Allah akan mengangkat derajat orang yang membaca sholawat 10 tingkat lebih tinggi.

6. Mendapat 10 catatan kebaikan.

7. Allah SWT menghapuskan 10 dosa keburukan.

8. Berpeluang besar do'anya akan dikabulkan Allah SWT.

9. Sholawat adalah syarat utama mendapat syafaat dari Rasulullah SAW.

10. Sholawat adalah syarat untuk mendapat ampunan Allah dan akan ditutup segala aib.

11. Sholawat adalah syarat untuk memperoleh perlindungan dari segala hal yang ditakutinya.

12. Sholawat adalah syarat seseorang dapat dekat kepada Rasulullah SAW.

13. Nilai sholawat sama dengan nilai sedekah.

14. Sholawat adalah alasan bagi Allah dan para Malaikat untuk membacakan sholawat balasan.

15. Sholawat adalah syarat kesucian jiwa dan raga bagi pembacanya.

16. Terpenuhinya segala keinginan.

17. Sholawat adalah alasan seseorang mendapat kabar baik bahwa dirinya kelak akan memperoleh surga.

18. Sholawat adalah faktor memperoleh keselamatan di Hari Kiamat.

19. Sholawat adalah alasan bagi Rasulullah SAW untuk mengucapkan sholawat balasan.

20. Sholawat dapat membuat pembacanya teringat akan semua hal yang dilupakannya.

21. Sholawat dapat membuat harumnya sebuah majelis pertemuan dan orang-orang yang hadir tidak mendapat kerugian di Hari Kiamat kelak.

22. Sholawat dapat menghilangkan kemiskinan dan kefakiran bagi pembacanya.

23. Sholawat dapat menghapus julukan orang kikir ketika sholawat dibacakan.

24. Sholawat menjadi penyelamat dari do'a ancaman Rasulullah bagi orang yang membaca sholawat ketika namanya disebutkan.

25. Sholawat akan mengiringi perjalanan pembacanya kelak di atas jembatan menuju surga dan akan menjauh dari orang yang tidak membacanya.

26. Sholawat akan menghilangkan keburukan-keburukan di suatu majelis pertemuan yang tidak dimulai dengan menyebut nama Allah dan Rasul-Nya.

27. Sholawat adalah penyempurna pahala dari sebuah percakapan yang dimulai dengan menyebut nama Allah dan membaca selawat kepada Rasul-Nya.

28. Sholawat adalah faktor yang dapat menyelematkan seorang hamba ketika berada di atas jembatan menuju surga.

29. Sholawat menghapus status sebagai pembenci sholawat.

30. Sholawat adalah alasan bagi Allah untuk mengumumkan pujian baiknya kepada pembaca sholawat tersebut di hadapan semua makhluk, baik di bumi maupun di langit.

31. Sholawat dapat mendatangkan rahmat Allah.

32. Sholawat dapat mendatangkan berkah.

33. Sholawat dapat melanggengkan dan mempertebal cinta kepada Rasulullah SAW dimana cinta ini merupakan simpul pokok keimanan. Dan keimanan seseorang belum sempurna tanpa adanya cinta kepada Nabi.

34. Sholawat dapat memikat hati Rasulullah agar mencintai dirinya.

35. Sholawat mendatangkan hidayah dan menghidupkan hati yang telah mati.

36. Sholawat adalah syarat agar nama pembacanya disebut-sebut di hadapan Rasulullah SAW.

37. Sholawat dapat memantapkan iman dan Islam serta membacanya sama dengan memberi hak yang layak diterima oleh Rasulullah SAW.

38. Sholawat merupakan bentuk syukur kita atas segala nikmat dari Allah SWT.

39. Bacaan sholawat mengandung dzikir, syukur dan pengakuan atas nikmat Allah SWT.

40. Sholawat yang dibaca seorang hamba adalah bentuk doa dan permohonan kepada Allah, terkadang do'a itu dipersembahkan kepada Nabi SAW dan tak jarang pula untuk dirinya sendiri, karena sholawat dapat mendatangkan tambahan pahala.

41. Sholawat adalah buah yang paling manis dan faedah paling utama yang dapat didatangkan dari pembacaan sholawat atas Nabi adalah melekatnya gambaran seorang Nabi yang mulia di dalam jiwa pembacanya.

42. Memperbanyak bacaan sholawat atas Nabi SAW menjadikan dirinya satu tingkatan dengan derajat seorang Syekh Murabbi (guru spiritual).

-- As-Safinah Al-Qadiriyah Li Asy-Syaikh ‘Abd Qadir Al-Jailani Al-Hasani --

Share:

Monday, February 8, 2021

Kisah Imam Abu Hanifah Kecil Menumbangkan Ulama Sombong & Sesat

Foto Ilustrasi

 

Di masa Imam Abu Hanifah masik kecil, sekitar umur 7 tahun,terdapatlah seorang ulama yang yang memiliki ilmu luas dan tiada bandingannya pada waktu itu namanya Dahriyyah. 

Seluruh ulama pada waktu itu tak mampu menandinginya disaat berdebat, terutama dalam bab tauhid, oleh karena dialah yang merasa pintar.

Maka muncullah sifat kesombongannya, bahkan na’udzubillah akhirnya ia berani mengatakan bahwa Allah itu tidak ada. Sayangnya, para ulamapun tak mampu mengalahkan dia dalam berdebat,

Lalu pada suatu pagi dikumpulkanlah para ulama disuatu majlis milik Syaikh Himad guru Imam Abu Hanifah. Dan hari itu Abu Hanifah yang masih kecil hadir di majlis itu. Maka Dahriyyah naik ke mimbar dan berkata dengan sombongnya.

Dahriyah : Siapakah diantara kalian hai para ulama yang akan sanggup menjawab pertanyaanku?

Sejenak suasana hening, para ulama semua diam, namun tiba-tiba berdirilah Abu Hanifah dan berkata,

Abu Hanifah : Omongan apa ini? Maka barang siapa tahu pasti ia akan menjawab pertanyaanmu.

Dahriyyah : Siapa kamu hai anak ingusan? Berani kamu bicara denganku? Tidakkah kamu tahu bahwa banyak yang berumur tua, bersorban besar, para pejabat, para pemilik jubah kebesaran, mereka semua kalah dan diam dari pertanyaanku. Kamu masih ingusan dan kecil badan berani menantangku???

Abu Hanifah : Allah tidak menyimpan kemuliaan dan keagungan kepada pemilik sorban yang besar dan para pejabat, dan para pembesar. Tetapi kemuliaan hanya diberikan kepada Al-Ulama.

Dahriyah : Apakah kamu akan menjawab pertanyanku?

Abu Hanifah : Ya, aku akan menjawab pertanyaanmu dengan Taufiq Allah.

Dahriyyah : Apakah Allah itu ada?

Abu Hanifah : Ya ada

Dahriyyah : Dimana Dia?

Abu Hanifah : Dia, tiada tempat bagi Dia

Dahriyyah : Bagaimana bisa disebut ada bila Dia tak punya tempat?

Abu Hanifah : Dalilnya ada dibadan kamu yaitu ruh, saya tanya, kalau kamu yakin ruh itu ada, maka dimana tempatnya? Dikepalamu, diperutmu atau dikakimu?

Dahriah diam seribu basa dengan muka malu. Lalu Abu Hanifah minta air susu pada gurunya Syaikh Himad, dan ia bertanya pada Dahriyyah,

Abu Hanifah :  Apakah kamu yakin di dalam susu ini ada manis?

Dahriyyah : Y,a saya yakin di susu itu ada manis

Abu Hanifah : Kalau kamu yakin ada manisnya, saya tanya apakah manisnya ada di bawah, atau di tengah, atau di atas? 

lagi lagi Dahriyyah diam dengan rasa malu. Lalu Abu Hanifah menjelaskan : seperti ruh atau manis yang tidak memiliki tempat, maka seperti itu pula tidak akan ditemukan bagi Allah tempat di alam ini baik di Arsy atau dunia ini. Lalu Dahriyyah bertanya lagi.

Dahriyyah : Sebelum Allah itu apa dan setelah Allah itu apa?

Abu Hanifah : Tidak ada apa-apa sebelum Allah dan sesudahnya tidak ada apa-apa.

Dahriyyah : Bagaimana bisa dijelaskan bila sebelum dan sesudahnya tak ada apa-apa?

Abu Hanifah : Dalilnya ada di jari tangan kamu. Apakah sebelum jempol dan apakah setelah kelingking? Dan apakah kamu akan bisa menerangkan jempol duluan atau kelingking duluan? Demikianlah sifat Allah. Ada sebelum semuanya ada, dan tetap ada bila semua tiada. Itulah makna kalimat Ada bagi Hak Alloh. 

Lagi-lagi Dahriyyah dipermalukan. Lalu ia berkata, 

Dahriyyah : Satu lagi pertanyaanku yaitu, apa perbuatan Allah sekarang ini?

Abu Hanifah : Kamu telah membalikan fakta. Seharusnya yang bertanya itu di bawah mimbar, dan yang di tanya di atas mimbar. Akhirnya Dahriyyah turun dari mimbar dan Abu Hanifah naik ke atas mimbar. 

Dahriyyah : Apa perbuatan Allah sekarang? 

Abu Hanifah : Perbuatan Allah sekarang adalah menjatuhkan orang yang tersesat seperti kamu ke bawah jurang neraka dan menaikan yang benar seperti aku ke atas mimbar keagungan.

Maha suci Alloh yang telah menyelamatka Aqidah Ahli Sunnah wal Jamaah melalui anak kecil.

Sumber : Kitab Fathul Majid karya Syekh Muhammad Nawawi bin Umar Al Jawi Asy Syafi’i

Share:

Sunday, February 7, 2021

Kisah Wali Mastur Di Zaman Abah Guru Sekumpul


 

Ada Seorang Sayyid (Dzuriyah Nabi SAW), yang setiap hari duduk-duduk di tempat perjudian. Sampai suatu saat ajal datang menjemputnya, orang-orang kampung tidak ada yang tahu siapa dia sebenarnya.

Di saat wafatnya, hanya Istri dan anaknya yang menghadapi jenazahnya, tidak ada satu tetangga pun yang datang. Tidak ada satu pun tetangga yang mau memandikan, mengkafani, dan menshalatkan jenazahnya.

Sang Istri menangis melihat keadaan suaminya, dia-pun berdo'a:

"Yaa Allah.. Bagaimana dengan jenazah suamiku, Apakah aku buang ke sungai Mahakam ini atau aku biarkan sampai membusuk.. Engkau Yang Maha Luas Rahmat-Mu, berilah petunjuk..."

Tiba-tiba masuk seorang tampan tinggi rupawan mengucapkan salam.

"Assalamu'alaikum Yaa Syarifah..."

Tampak puluhan orang berjubah dan bersorban mengiringi dibelakangnya.

"Wa'alaikum salam Warohmatullah..."

Saat melihat Sang Guru, si Syarifah tersentak kaget bukan main, yang datang adalah Al Imam Al Quthubul Akwan Asy-Syeikh Muhammad Zaini Bin Abdul Ghani Sekumpul.

Syarifah bertanya, "Kapan Pian kesini Guru...? Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan sangatlah jauh, apalagi kami di daerah Hulu Mahakam Kembang Janggut ini."

"Allah Yang Memudahkan..."

Jawab Guru Sekumpul.

Tiba-tiba dari luar banyak orang kampung datang, dan terperanjat seketika tahu yang datang Guru Sekumpul, maka mereka keheranan dan salah-satu dari mereka berkata, "Wahai Guru, ini adalah orang yang senang berjudi, tiap hari duduk-duduk di tempat perjudian..."

Guru Sekumpul tersenyum dan berkata, "Apakah kamu melihat beliau sendiri main judi, atau beliau cuma duduk-duduk saja disitu tanpa main judi?"

Sang penduduk terdiam, kata Abah Guru Sekumpul kemudian "Beliau ini yang tiap hari kalian lihat di tempat perjudian adalah seorang Dzuriat Rasulullah SAW, beliau ini yang jadi Penyandang Bala di kampung sini, beliau ini yang setiap malam pada saat kalian tidur beliau bangun dan shalat tahajud mendo'akan kalian. Beliau juga yang rela setiap hari duduk di tempat perjudian berdzikir dan memohon ampun untuk para penjudi agar mereka sadar. Tapi, kalian tidak tahu. Kalian cuma melihat dengan pandangan dzahir saja. Beliau tidak terkenal dalam pandangan masyarakat bumi tapi sangat terkenal di langit."

Allahumma sholli 'alaa Sayyidina Muhammad...

Jangan mudah su'udzon kepada orang lain.terlebih kepada Dzuriat Rasul SAW.

Begitulah Kisah Wali Mastur Di Zaman Abah Guru Sekumpul

Share:

Thursday, February 4, 2021

Kisah Ayah Imam Syafi'i Mencari Rizki Yang Halal

 

Foto Ilustrasi


Seorang pemuda bernama Idris berjalan menyusuri sungai. Tiba-tiba ia melihat buah delima yang hanyut terbawa air. Ia ambil buah itu dan tanpa pikir panjang langsung memakannya.

Ketika Idris sudah menghabiskan setengah buah delima itu, baru terpikir olehnya, apakah yang dimakannya itu halal? Buah delima yang dimakan itu bukan miliknya.

Idris berhenti makan. Ia kemudian berjalan ke arah yang berlawanan dengan aliran sungai, mencari dimana ada pohon delima. Sampailah ia di bawah pohon delima yang lebat buahnya, persis di pinggir sungai. Dia yakin, buah yang dimakannya jatuh dari pohon ini.

Idris lantas mencari tahu siapa pemilik pohon delima itu, dan bertemulah dia dengan sang pemilik, seorang lelaki setengah baya.

“Saya telah memakan buah delima anda. Apakah ini halal buat saya? Apakah anda mengihlaskannya?” kata Idris.

Orang tua itu terdiam sebentar, lalu menatap tajam. “Tidak bisa semudah itu. Kamu harus bekerja menjaga dan membersihkan kebun saya selama sebulan tanpa gaji,” katanya kepada Idris.

Demi memelihara perutnya dari makanan yang tidak halal, Idris pun langsung menyanggupinya.

Sebulan berlalu begitu saja. Idris kemudian menemui pemilik kebun.

“Tuan, saya sudah menjaga dan membersihkan kebun anda selama sebulan. Apakah tuan sudah menghalalkan delima yang sudah saya makan?”

“Tidak bisa, ada satu syarat lagi. Kamu harus menikahi putri saya; Seorang gadis buta, tuli, bisu dan lumpuh.”

Idris terdiam. Tapi dia harus memenuhi persyaratan itu.

Idris pun dinikahkan dengan gadis yang disebutkan. Pemilik menikahkan sendiri anak gadisnya dengan disaksikan beberapa orang, tanpa perantara penghulu.

Setelah akad nikah berlangsung, tuan pemilik kebun memerintahkan Idris menemui putrinya di kamarnya. Ternyata, bukan gadis buta, tulis, bisu dan lumpuh yang ditemui, namun seorang gadis cantik yang nyaris sempurna. Namanya Ruqoyyah.

Sang pemilik kebun tidak rela melepas Idris begitu saja; Seorang pemuda yang jujur dan menjaga diri dari makanan yang tidak halal. Ia ambil Idris sebagai menantu, yang kelak memberinya cucu bernama Syafi’i, seorang ulama besar, guru dan panutan bagi jutaan kaum muslimin di dunia.

Masyaa Allah, begitulah kisah Ayah (Datuk) Imam Syafi'i yang begitu menjaga perutnya dari makanan yang Haram.

Sumber : FP Kisah Para Wali Allah

Share:

Wednesday, February 3, 2021

Kisah Keajaiban Sholawat Yang Dialami Kyai Masduqie Machfudz


Shalawat dan shalat jamaah adalah dua “senjata” Achmad Masduqie Machfudh. Tiap menerima aduan masalah dari masyarakat, ia selalu berwasiat untuk membaca shalawat, minimal 1000 kali setiap hari dan 10.000 kali setiap malam Jum’at.

Rais Syuriyah PBNU periode 2010-2015 yang juga pendiri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyyah Nurul Huda Mergosono Malang ini memiliki pengalaman menarik tentang Shalawat Nabi, tepatnya pada tahun 1956, saat ia masih duduk di sebuah SLTA di Yogyakarta.

Suatu ketika, ia mendapat gangguan jin di sebuah masjid tempat belajarnya sehingga selama tiga hari Maduqie muda merasa ingin banyak makan tapi anehnya tidak bisa buang hajat. Di hari ke empat, tubuhnya pun sangat panas dan saat itu juga beliau berpesan kepada adiknya.

“Dek, nanti kalau aku mati, tolong jangan bawa pulang janazahku ke Jepara tetapi dikuburkan di Jogja saja,” pinta kiai yang wafat pada 1 Maret 2014 ini kepada sang adik. Kiai Masduqie datang ke Jogja berniat untuk mondok. Beliau khawatir syahidnya hilang jika wafat di Jogja namun jenazahnya dimakamkan di Jepara.

Sontak saja adiknya semakin khawatir akan kondisinya. Maka diajaklah sang kakak menemui seorang seorang Kyai. “Mari kita pergi ke Kyai itu, Kyai yang Mas biasa ngaji di hari Ahad.”

Kiai Masduqie menerima ajakan adiknya. Pergilah beliau bersama adiknya dengan naik becak dan sampai di rumah pak kiai yang di maksud pada pukul satu malam. Ketika beliau datang, pintu rumah Pak Kiai masih terbuka. Tentu tengah malam itu sang tuan rumah sudah tidak melayani tamu, karena sejak pukul 10 malam adalah waktu khusus Pak Kiai untuk ibadah kepada Allah. Karena melihat Masduqie muda yang datang di tengah malam dengan keadaan payah, Kyai pun mempersilahkan Masduqie muda beristirahat di rumah.

Masduqie muda pun tertidur di rumah kiai itu. Baru beberapa jam di rumah Kyai, tepatnya pukul 3 malam, beliau terbangun karena merasa mulas ingin buang hajat. Setelah itu, rasa sakit dan panas yang dirasakan sedikit hilang.

Pada pagi harinya, beliau yang masih panas badannya bertemu dengan Pak Kyai. “Pak Kyai, saya sakit”. Bukannya merasa iba, Pak Kyai hanya tersenyum. Dan anehnya, rasa panas yang beliau rasakan hilang seketika itu. 

Pak Kiai dawuh, “Mas, sampean gendeng Mas.”

“Kenapa gendeng, Yai?” tanya Masduqie muda.

“Iya, wong bukan penyakit dokter, sampean kok bawa ke dokter, ya uang sampean habis. Pokoknya kalau sampean kepengin sembuh, sampean tidak boleh pegang kitab apapun,” jawab Kyai.

Jangankan membaca, menyentuh saja tidak diperbolehkan. Padahal pada saat itu, Masduqie muda dua bulan lagi akan mengikuti ujian akhir sekolah. 

“Yai, dua bulan lagi saya ujian, kok enggak boleh pegang buku,” Masduqie muda matur kepada Pak Kyai.

Seketika itu Pak Kyai menanggapinya dengan marah-marah, “Yang bikin kamu lulus itu Gurumu? Apa Bapakmu? Apa Mbahmu?”

Masduqie muda menjawab, “Pada hakikatnya Allah, Yai.”

“Lha iya gitu!” timpal Pak Kiai.

“Lalu bagaimana syariatnya (upaya yang dilakukan), Yai?” tanya Masdqie muda lagi.

“Tiap hari, kamu harus baca shalawat yang banyak,” jawab, Pak Kiai. 

Masduqie muda kembali bertanya, “Banyak itu berapa, Yai?”

Pak Kiai pun menjawab, “Ya paling sedikit seribu, habis baca 1000 shalawat, minta dengan berkat shalawat yang saya baca, saya minta lulus ujian dengan nilai bagus.”

Ya sudah, Masduqie muda tidak berani pegang kitab maupun buku, karena memang ingin sembuh. Mendengar cerita dari Masduqie muda, Paman beliau marah-marah. “Bagaimana kamu ini? Dari Jepara ke sini, kamu kok nggak belajar?” Masduqie muda tidak berani komentar apa-apa. Karena beliau menuruti  dawuh Kyai untuk tidak menyentuh kitab atau buku, dan beliau nurut saja. 

Menjelang beliau ujian pelajaran bahasa Jerman, bukunya ternyata diganti oleh Gurunya dengan buku yang baru. Karena masih dilarang menyentuh buku, maka beliau tetap taat titah Kyai.

Setelah ujian, Masduqie muda dipanggil Guru Bahasa Jerman. 

Pak Guru    : Kamu her.

Masduqie   : Berapa nilai saya pak?

Pak Guru    : Tiga!

Masduqie    : Iya, Pak. Kapan, Pak?

Pak Guru    : Seminggu lagi  

Namun setelah seminggu, Masduqie muda tidak langsung mendatangi Guru Bahasa Jerman, karena larangan pegang buku belum selesai. Baru setelah selesai, Masduqie muda mendatangi Pak Guru. 

Masduqie    : Pak, saya minta ujian, Pak.

Pak Guru    : Ujian apa?

Masduqie    : Ya ujian bahasa Jerman, Pak.

Pak Guru    : Lha kamu bodoh apa?

Masduqie    : Lho kenapa, Pak?

Pak Guru    : Nilai delapan kok minta ujian lagi. Kamu itu minta nilai berapa?

Masduqie    : Lho, ya sudah Pak, barang kali bisa nilai sepuluh.

Dari nilai angka 3, karena shalawat, mingkem menjadi angka 8. Setelah itu, beliau tidak pernah meninggalkan baca shalawat. Itulah satu pengalaman shalawat KH Masduqie Mahfudz saat muda.


Wasilah untuk Atasi Penyakit dan Kesulitan

Pengalaman shalawat beliau lagi, yakni ketika Kiai Masduqie harus melaksanakan dinas dinas di Tarakan, Kalimantan Timur. Pada suatu hari, ada tamu pukul 5 sore, dan bilang ke Kiai Masduqie, “Saya disuruh oleh ibu, disuruh minta air tawar.” 

Kiai Masduqie mengaku masih bodoh saat itu. Seketika itu ia menjawab, “Ya, silakan ambil saja, air tawar. kan banyak itu di ledeng-ledeng itu.”

“Bukan itu, Pak. Air tawar yang dibacakan doa-doa untuk orang sakit itu, Pak,” kata si tamu. 

“Ooo, kalau itu ya tidak bisa sekarang. Ambilnya harus besok habis Shalat Shubuh persis.”

Kiai Masduqie menjawab begitu karena beliau ingin bertanya kepada sang istri perihal abah mertua yang sering nyuwuk-nyuwuk (membaca doa untuk mengobati) dan ingin tahu apa yang dirapalkan. Ternyata istri beliau tidak tahu tentang doa yang dibaca abahnya di rumah. Padahal Kiai Masduqie sudah janji. 

Habis Isya’ saat beliau harus wiridan membaca dalail, beliau menemukan hadits tentang Shalawat. Inti hadits tersebut kurang lebih, “Siapa yang baca shalawat sekali, Allah beri rahmat sepuluh. Baca shalawat sepuluh, Allah beri rahmat seratus. Baca shalawat seratus, Allah beri rahmat seribu. Tidak ada orang yang baca shalawat seribu, kecuali Allah mengabulkan permintaanya.”

Setelah mencari di berbagai kitab, ketemulah hadits tersebut sebagai jawabannya. Lalu belaiu pun bangun di  tengah malam, mengambil air wudlu dan air segelas, setelah itu membaca shalawat seribu kali. Allahumma shalli wa sallim ‘ala sayyidinâ Muhammad.

Setelah beliau selesai membaca seribu shalawat, beliau berdoa, ”Allahumaj’al hadzal ma’ dawâ-an liman syarabahu min jamî’il amrâdh”. Arti doa tersebut, “Ya allah, jadikanlah air ini sebagai obat dari segala penyakit bagi peminumnya”. Lalu meniupkan ke air gelas dan baca shalawat satu kali lagi. Di pagi hari, diberikanlah air tersebut kepada orang yang memintanya.

Setelah tiga hari, ada berita dari orang tersebut bahwa si penderita penyakit sudah sembuh setelah meminum air dari Kiai Masduqie. Padahal, sakitnya sudah empat bulan dan belum ada obat yang bisa menyembuhkan. Dokter pun sudah tidak sanggup menangani penyakit yang diderita orang ini dan menyarankan untuk mencari obat di luar. Anehnya, pemberi kabar itu mengatakan bahwa Kyai Masduqie selama tiga hari itu mengelus-elus perut orang yang sakit. 

Mengelus-ngelus perut? Tentu saja tidak, apalagi si penderita penyakit adalah perempuan yang bukan mahramnya. Hal itu juga mustahil karena Kyai Masduqie selama tiga hari di rumah saja. Berkat shalawat, atas izin Allah penyakitnya sembuh.

Sejak peristiwa di Kalimantan timur itu, Kyai Masduqie terkenal sebagai guru agama yang pintar nyuwuk. Sampai penyakit apa saja bisa disembuhkan. Jika beliau tidak membacakan shalawat, ya istri beliau mengambilkan air jeding, yang sudah dipakai untuk wudlu. Ya sembuh juga penyakitnya. Inilah pengalaman shalawat Kyai Masduqie ketika dinas di Kalimantan.

Cerita lain, suatu ketika beliau harus ke Samarinda dengaan naik kapal pribadi milik Gubernur Aji Pangeran Tenggung Pranoto. Dalam pertengahan perjalanan melalui laut, tepatnya di Tanjung Makaliat kapal yang diinaikinya terkena angin puting beliung. Maka goyang-goyanglah kapal tersebut. Kiai Masduqie sadar, berwudlu, lalu naik ke atas kapal. Beliau ajak para awak kapal untuk mengumandangkan adzan agar malaikat pengembus angin dahsyat tersebut berhenti. Lalu berhentilah angin tersebut. Inilah salah satu pengalaman Shalawat Kyai Masduqie. 

“Kalau ada orang menderita penyakit aneh-aneh, datang ke Mergosono, insya Allah saya bacakan shalawat seribu kali. Kalau ndak mempan sepuluh ribu kali, insyaallah qabul,” kata Kyai Masduqie saat pengajian di Majelis Riyadul Jannah.

“Berkat shalawat Nabi, sampean tahu sekarang, saya bangun pondok sampai tingkat tiga, nggak pernah minta sokongan dana masyarakat, mengedarkan edaran, proposal nggak pernah. Modalnya hanya shalawat saja. Uang yang datang ya ada juga, tapi nggak habis-habis. Itu berkat shalawat,” lanjut Kiai Masduqie dalam pengajiannya.

Kisah lainnya, suatu ketika, seorang bidan mengadu kepada Kyai Masduqie tentang suaminya yang pergi meninggalkannya karena terpikat dengan wanita lain. Ia berharap suaminya bisa kembali. Abah, demikian para santrinya menyapa, menjawab bidang tersebut dengan tegas menganjurkan untuk baca shalawat. Bidan pun secara istiqamah mengamalkannya, dan dalam selang beberapa lama suaminya kembali seraya bertobat.

Kyai Masduqie memiliki sembilan Putra/Putri ini yang di samping sarjana juga bisa membaca kitab semua. Saat anak beliau ada yang mau ujian, di samping putranya juga disuruh baca shalawat, beliau juga membacakan shalawat untuk kelancaran dan kesuksesan putra-putrinya.

Kyai Masduqie pernah dawuh, ”Berkat shalawat Nabi SAW, semua yang saya inginkan belum ada yang tidak dituruti oleh Allah. Belum ada permintaan yang tidak dituruti berkat shalawat Nabi. Semua permintaan saya terpenuhi berkat Shalawat”. 

Shallu ‘alan Nabi Muhammad! Allahumma shalli wa sallim ‘ala sayyidina Muhammad.

 

Share:

Subscribe Channel Kami

Follow by Email