Windarwati : Cekelan Sarung Kyai

Aja Sampek Ucul Cekelan Sarung Kyai. Maksude tutke kyai, sebab kyai kui warisane nabi SAW. lan ojo asal pilih Kyai sing Sangar

Wirda Mansur : Dahulukan Alloh

Dahulukan Alloh. Alloh dulu, Alloh lagi, Alloh terus.

Tentang Pecinta

Hakikatnya Pecinta itu, tidak ingin jauh jauh, apalagi berpisah dengan yang dia cintai.

UYM : Kita Hidup Juga Masalah

Dunia ini penuh masalah, kita hidup juga sudah termasuk masalah. iya kan?

Aa Gym : Jangan Ributkan Perbedaan!

Kita juga Produk dari perbedaan. Kita lahir dari laki-laki dan perempuan, Adam dan Hawa, bukan Adam dan Asep

Saturday, April 17, 2021

Imam Malik RA Menangis Saat Berbuka Puasa, Inilah Alasannya


 

Imam Malik  RA menitihkan air mata hingga janggutnya basah karenanya. Salah seorang muridnya kemudian bertanya,

“Wahai guruku yang mulia, ada apakah gerangan sehingga engkau menangis sedemikian sedih serta menyayat hati kami? Apakah ada diantara kami yang membuat hatimu sedih, atau hidangan yang ada saat ini kurang berkenan?”

Imam Malik RA kemudian menjawab, “Tidak, tidak, wahai murid-muridku. Sungguh kalian adalah murid-murid terbaikku dan sangat khidmah padaku. Bahkan hidangan ini adalah sangat mewah dan nikmat buatku.”

Imam Malik RA melanjutkan, “Sungguh aku pernah berbuka dengan guruku Al Imam Ja’far As Shaadiq cucu baginda Rasulullah SAW., dengan makanan yang teramat nikmat seperti saat ini.” Beliau berkata sambil terisak.

“Wahai Ibnu Anas (Imam Malik), tahukah engkau bahwasannya Rasulullah SAW terkadang berbuka puasa hanya dengan 3 butir kurma dan air, tetapi Rasulullah SAW tetap merasa sangat nikmat penuh syukur, bahkan sering kali Rasulullah SAW berbuka puasa hanya dengan sebutir kurma dan dibagi dua dengan istri tercinta Aisyah. Dan sungguh Rasulullah SAW tetap merasa nikmat penuh syukur.”

“Rasulullah SAW sedikit makan sahur dan sedikit pula saat berbuka puasa. Rasulullah SAW sangat banyak beribadah dan bersyukur. Rasulullah SAW selalu mendoakan kita umatnya yang sering lalai dan melupakan beliau. 

Sedangkan hari ini kita dipenuhi dengan makanan yang nikmat dalam berbuka puasa, akan tetapi sangatlah jauh dari rasa syukur dan ibadah.”

Tak lama kemudian, ruangan tersebut menjadi penuh haru, isak tangis penuh kerinduan kepada Rasulullah SAW. Betapa sederhananya Rasulullah  SAW dan betapa beliau sangat mencintai kita umatnya.

Begitulah Kisah Imam Malik RA Menangis Saat Berbuka Puasa karena mengingat kekasihnya, yaitu Baginda Nabi Rasulullah Muhammad SAW.

Share:

Thursday, April 15, 2021

Rambutan Ajaib Imam Nawawi Al Bantani

 


Suatu masa jelang abad ke dua puluh di Ma'had (Pesantren) Nasr Al Ma'arif Al Diniyah, Masjid Al Haram Makkah, Syekh Nawawi Al Bantani tengah menerangkan pada para santrinya terkait puasa Ramadhan.

"Mengingat Hadits Nabi SAW tentang memakan kurma ketika berbuka, saya beritahu kalian, di Negeri saya juga ada buah yang tak kalah manis dengan kurma," ucap Syekh Nawawi Al Bantani.

"Betul Syekh? Kalau di jazirah Arabia ini kami memang memakan kurma.

Lalu bagaimana dengan Negeri Syekh yang tidak ditumbuhi buah kurma?" Tanya salah seorang murid beliau.

"Sebentar."

Syekh Nawawi langsung menyembunyikan tangannya ke bagian punggung. Ratusan santrinya pun mulai terlihat keheranan. Tak lama terdengar oleh mereka suara seperti seseorang yang sedang mengambil buah dari sebuah pohon. Kemudian Syekh Nawawi Al Bantani menyuguhkan buah rambutan yang persis baru diambil dari pohonnya. Sontak para santri pun keheranan dengan apa yang baru saja dilakukan guru mereka.

"Nah, ini yang saya makan pertama kali ketika berbuka puasa di Jawi (Tanara, Banten). Silakan dicicipi." ujar Syekh Nawawi Al Bantani sambil membagikan rambutan (ajaib) tersebut kepada para santrinya. 

Begitulah Kisah Rambutan dari Syekh Al Imam An Nawawi Al Bantani Al Jawi, Semoga bermanfaat....


Share:

Saturday, April 10, 2021

Sesingkat Inikah Hidup Di Dunia?


Dunia Ini sangat singkat⁣⁣⁣ jika dibandingkan dengan kehidupan satu hari di akhirat yang menyamai 1000 tahun di bumi.⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Allah berfirman,⁣⁣⁣

ﻭَﺇِﻥَّ ﻳَﻮْﻣًﺎ ﻋِﻨْﺪَ ﺭَﺑِّﻚَ ﻛَﺄَﻟْﻒِ ﺳَﻨَﺔٍ ﻣِﻤَّﺎ ﺗَﻌُﺪُّﻭﻥَ⁣⁣⁣

“Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.” 
(QS. Al Hajj: 47)
⁣⁣⁣
Umur manusia rata-rata adalah 60-70 tahun, sebagaimana dalam hadits,⁣⁣⁣

ﺃَﻋْﻤَﺎﺭُ ﺃُﻣَّﺘِـﻲ ﻣَﺎ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟﺴِّﺘِّﻴْﻦَ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺴَّﺒْﻌِﻴْﻦَ ﻭَﺃَﻗَﻠُّﻬُﻢْ ﻣَﻦْ ﻳَﺠُﻮﺯُ ﺫَﻟِﻚَ⁣⁣⁣

“Umur-umur umatku antara 60 hingga 70 tahun, dan sedikit orang yang bisa melampui umur tersebut.” 
(HR. Ibnu Majah: 4236, hasan shahih)⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Jika satu hari akhirat = 1000 tahun⁣⁣⁣ di bumi. 
Umur manusia 60-70 tahun, (rata-rata 65 tahun)⁣⁣⁣.

Maka kehidupan di dunia kurang lebih hanya 1,5 jam saja hari di akhirat.⁣⁣⁣
Karenanya berbagai kesenangan dunia yang melalaikan kita akan akhirat adalah kesenangan yang sangat sebentar⁣⁣⁣.
⁣⁣⁣
Allah berfirman,⁣⁣⁣

 ﻗُﻞْ ﻣَﺘَﺎﻉُ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻗَﻠِﻴﻞٌ ﻭَﺍﻟْﺂﺧِﺮَﺓُ ﺧَﻴْﺮٌ ﻟِﻤَﻦِ ﺍﺗَّﻘَﻰ

“Katakanlah: “Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa.” 
(QS. An NIsa’:77)⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
 
ﻭَﻣَﺎ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺓُ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺇِﻟَّﺎ ﻣَﺘَﺎﻉُ ﺍﻟْﻐُﺮُﻭﺭِ ⁣⁣⁣

“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” 
(QS. Ali Imran: 185)⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Semoga kita selalu ingat kampung abadi kita akhirat dan dunia tidak melalaikan kita.⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
“Dunia ditangan, akhirat selalu dihati”⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Wallahu a'lam

Share:

Macam-macam Puasa, Apa Aja?


 Puasa merupakan menahan diri dari segala yang membatalkannya dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari. Lalu apa saja macam-macam puasa? Yuk baca artikel ini sampai akhir ya...

Puasa Fardhu ada 3 macam :

1. Puasa Romadhon selama bulan Romadhon.

2. Puasa Kafarat seperti Kafarat Haji, Kafarat Sumpah, Kafarat Jinayah, Kafarat Jima' dll.

3. Puasa Nadzar.


Puasa Sunnah terbagi 3 macam :

1. Puasa Usbu'iyyah (Pekanan).

2. Puasa Syahriyah (Bulanan).

3. Puasa Sanawiyah (Tahunan).


- Puasa Sunnah Usbu'iyyah (Pekanan) :

1. Puasa Senin.

2. Puasa Kamis.

3. Puasa Jum'at jika dirangkai dengan Kamis.

4. Puasa Dahr (Setiap hari).

5. Puasa Nishfud Dahr / Puasa Dawud.


- Puasa Sunnah Syahriyah (Bulanan) :

1. Puasa 3 hari awal bulan tanggal 1 - 3 bulan Hijriyah (Ayyamus Suud).

2. Puasa 3 hari tengah bulan tanggal 13 - 15 bulan Hijriyah (Ayyamul Biidh / Hari Purnama).

3. Puasa 3 hari akhir bulan (Ayyamus Suud / Hari gelap).


- Puasa Sunnah Sanawiyah (Tahunan) :

1. Puasa 'Arofah (9 Dzulhijjah).

2. Puasa Tarwiyah (8 Dzulhijjah).

3. Puasa 'Asyuro (10 Muharram).

4. Puasa Tasuu'a (9 Muharram).

5. Puasa 6 hari Syawal.

6. Puasa 10 hari awal Dzulhijjah.

7. Puasa 10 hari awal Muharram.

8. Puasa bulan haram 4 x 30 hari : Rajab, Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram.

9. Puasa Sya'ban.


Haram berpuasa ada 5 hari :

1. Hari Raya Idul Fitri (1 Syawal).

2. Hari Raya Idul Adha (10 Dzulhijjah).

3. 3 Hari Tasyrik (11 - 13 Dzulhijjah).


Makruh berpuasa : Ayyamusy Syak (hari meragukan) yaitu akhir Sya'ban, kecuali yang Istiqomah.

Begitulah macam-macam puasa dalam Fiqh Islam. Semoga bermanfaat...

Share:

Friday, April 9, 2021

Ketika Imam Malik Disengat Kalajengking Hingga 16X


 

Diriwayatkan oleh para Ulama di majelisnya. Yakni di Raudhah,  Imam Malik RA mengajarkan hadist Rasulullah SAW. Bila ingin menyampaikan pelajaran tentang hari-hari Arab atau syair-syairnya, ia mengajarkannya begitu saja. Akan tetapi apabila hendak mengajarkan ihwal hadist Rasulullah SAW atau diminta suatu hadist Nabi SAW, Imam Malik RA mandi terlebih dahulu, memakai wewangian, dan mengenakan pakaian terbaik yang ia miliki, kemudian duduk dan mulai mengimlakan (menulis) atau membacakan hadist-hadist berdasarkan periwayatannya.

Suatu hari, Imam Ibnu Mubarak RA duduk di majelis Imam Malik RA yang saat itu di tengah menyampaikan hadist Rasulullah SAW. Dalam keadaan seperti itu, seekor kalajengking menyengat Imam Malik RA sebanyak 16 kali. Air muka Imam Malik RA terlihat berubah, namun ia tetap meneruskan menyampaikan hadist. Tatkala majelis hadist berakhir dan para hadirin sudah membubarkan diri, Imam Ibnu Mubarak segera menghampiri Imam Malik RA.

"Wahai Abu Abdillah, sungguh aku tadi melihat peristiwa yang luar biasa dari dirimu."

Kata Ibnu Mubarak RA. Lalu ia menyampaikan perihal sengatan kalajengking itu.

"Sungguh aku teramat malu untuk memotong hadist Rasulullah SAW hanya karena sengatan kalajengking."

Jawab Imam Malik RA.,

Subhanallah, sungguh tinggi rasa cinta dan penghormatan beliau Imam Malik RA kepada Rasulullah SAW., hingga beliau tak kuasa untuk memotong kalam Hadits Nabi SAW walau beliau dalam keadaan udzur, yaitu terkena sengatan kalajengking hingga sebanyak 16x. Beginilah keadaan Sang Pecinta yang sesungguhnya. Ia tak ingin memotong kalam seorang yang ia cinta.

Sumber :  Buku Kangen hal 54 - 55

Karangan :  Habib Novel bin Muhammad Alaydrus

Share:

51 Muksyafah Para Waliyullah

 


Waliyullah atau kekasih Allah memang diistemawakan oleh Allah dan memiliki banyak perbedaan keistimewaan atau Karomah dari setiap Wali. Berikut 51 Mukasyafah yang diberikan oleh Allah kepada para kekasih-Nya.

1). Ada wali yang mampu menyingkap alam gaib, hingga dinding dan kegelapan tidak menghalanginya untuk melihat apa yang dilakukan orang-orang di dalam rumah mereka.

2). Ada wali yang ketika berjumpa dengan seorang penzina, pemabuk, pencuri, pencela, atau orang yang suka berbuat zalim, ia melihat goresan tanda hitam pada anggota tubuh mereka yang melakukan maksiat. 'Ali Abi Ya'zi, guru Ibnu 'Arabi, termasuk wali yang menempati maqam ini. Mukasyafah ini khusus bagi orang yang bersifat wara' (orang yang benar-benar menjauhi maksiat dan syubhat).

3). Ada wali yang jika ada orang yang ribut atau diam di majelisnya, ia mengetahui derajat dan apa yang akan terjadi dengan orang itu, kenyataannya sesuai dengan apa yang dikatakan wali itu, dan ia selamanya tidak akan salah. Diceritakan bahwa ada seorang laki-laki ribut di majelis Abu Madyan, lalu orang itu disuruh keluar. Abu Madyan berkata, "Kamu akan melihat keadaanya setahun kemudian." Sebahagian orang yang hadir meminta penjelasan, lalu Abu Madyan berkata, "Ia akan menganggap dirinya Imam Mahdi." Dua puluh tahun kemudian, apa yang dikatakan Abu Madyan terjadi. Kemampuan ini berasal dari ilmu ladunni.

4). Ada wali yang tatkala bangun tidur, di hadapannya sudah tersedia minuman dari madu, susu, dan air, lalu ia meminumnya.

5). Ada wali yang mampu mengetahui alam ruhani yang berbeza dengan alam fisik, tetapi ia tidak menggelutinya.

6). Ada wali yang mampu mengetahui rahasia batu-batu mineral, dan semacamnya. Ia mengetahui khasiat, rahasia, dan bahaya dari batu-batu itu.

7). Ada wali yang dianugerahi maqam bisa memahami Allah dan mendengar tanda-tanda kekuasaan-Nya, sehingga ia bisa mendengar ucapan benda-benda mati. Apakah kemampuan itu termasuk hal yang biasa atau luar biasa tergantung pada tingkatan pemahaman terhadap ucapan benda mati. Yang termasuk hal luar biasa ada 2 macam. Pertama, merujuk pada orang yang mendengarnya, yakni kemampuan memahami hakikat ucapan benda mati. Kedua, merujuk pada ucapan benda-mati itu sendiri melalui karamah, misalnya bertasbihnya kerikil di telapak tangan sebahagian sahabat. Apabila seorang hamba memperoleh maqam ini, maka ia akan mendengar semua benda mati bertasbih dengan bahasa yang jelas seperti bahasa manusia.

8). Ada wali yang dianugerahi kemampuan menyingkap dunia tumbuh-tumbuhan. Semua tumbuhan dan rumput memberitahukan kepada wali itu sari-sari yang dikandungnya baik yang berbahaya atau yang berkhasiat. Tumbuh-tumbuhan itu berkata, "Hai hamba Allah, khasiatku begini dan bahayaku begini."

9). Ada wali yang dikaruniai kemampuan bergaul dengan binatang. Binatang-binatang mengucapkan salam kepadanya dengan bahasa yang jelas dan memberitahunya tentang khasiat-khasiat yang dikandungnya.

10). Ada wali yang diberi kemampuan menyibak perjalanan hidup orang yang masih hidup, rahasia-rahasia yang diberikan kepada orang itu sesuai dengan keadaannya, dan bagaimana perkembangan ibadahnya dalam perjalanan hidupnya itu.

11). Ada wali yang diberi kemampuan melihat hal-hal yang tidak mungkin melalui jentera dan merubah yang kasar menjadi lembut dan sebaliknya.

12). Ada wali yang diberi kemampuan meramalkan hal-hal jelek yang akan terjadi, lalu ia meminta dihindarkan sehingga ia tidak terkena hal buruk itu.

13). Ada wali yang diberi kemampuan ilmu astrologi dan cara-cara yang sistematis dan menyeluruh.

14). Ada wali yang dianugerahi kemampuan mencapai ilmu-ilmu ilahiyah dan diberitahu cara-cara untuk mencapainya seperti persiapan yang harus dilakukan, etika dalam mencari dan mengamalkan ilmu, memegang dan menyebarluaskannya, serta cara menjaga hati dari hal-hal yang merusak. Semua cara itu adalah satu kesatuan dan tersembunyi.

15). Ada wali yang dikaruniai kemampuan mengetahui tingkatan ilmu-ilmu teoritis, ide-ide yang cemerlang, dan bentuk-bentuk kesalahan pemahamannya, kemampuan membezakan antara prasangka dan ilmu, berbagai hal yang terjadi di antara alam arwah dan alam fisik, sebab terjadinya, dan berjalannya rahasia ilahi di alam ini serta sebabnya.

16). Ada wali yang mampu menangkap alam tashwir, alam taksin, alam benda-benda mati, bentuk-bentuk suci dan jiwa tumbuhan yang mestinya diketahui akal dalam bentuk dan susunan yang baik, rahasia-rahasia kelemahan, kelembutan dan rahmat orang-orang yang disifatinya.

17). Ada wali yang mampu menguak tingkatan kutub bumi.

18). Ada wali yang mampu menguak benda-benda yang memantulkan cahaya, benda-benda yang langgeng, benda-benda yang abadi, rahasia alam, dan kemampuan untuk menjaga dan menyampaikan amanat kepada orang yang berhak.

19). Ada wali yang dianugerahi pengetahuan tentang simbol-simbol, penghitungan, dan firasat.

20). Ada wali yang disingkapkan baginya dunia lain, mampu menyingkap kebenaran dan pendapat-pendapat yang benar, mazhab-mazhab yang lurus, dan syariat-syariat yang telah diturunkan.

21). Ada wali yang terlihat sebagai orang alim, Allah telah menghiasi mereka dengan pengetahuan-pengetahuan suci sebagai sebaik-baik perhiasan.

22). Ada wali yang dianugerahi kewibawaan, ketenangan, teguh pendirian, dan kemampuan mengetahui tipu muslihat dan rahasia-rahasia yang tersembunyi, dan sejenisnya.

23). Ada wali yang mampu berbicara, tetapi tidak terlihat siapa yang diajak bicara. Ia berbicara dengannya dan mendengar pembicaraan itu, baik pembicaraannya muncul tanpa dipikir sebelumnya, atau sebagai jawaban atas pertanyaan secara seketika, serta memberi dan menjawab salam.

24). Ada wali yang naik maqamnya, hingga ia mampu berbicara kepada malaikat dan bercakap-cakap dengannya. Apabila seorang hamba mencapai maqam ini maka ia bisa memanggil dan berhubungan dengannya. Apabila ia hanya berbicara kepadanya, maka malaikat tidak menjawabnya. Tetapi apabila pembicaraan antara mereka benar, mereka akan saling berbicara. Dan apabila ia mengalami hal tersebut, maka malaikat akan menolongnya.

25). Ada wali yang mampu mengatakan sesuatu yang belum terjadi dan memberitakan hal-hal gaib sebelum tampak. Dalam hal ini ada tiga bentuk yang mungkin terjadi; berupa penyampaian, tulisan, dan pertemuan. Ibnu Mukhallad mengalami tiga hal tersebut.

26). Ada wali yang disingkapkan baginya alam keraguan, kekurangan, kelemahan, dan rahasia-rahasia perbuatan.

27). Ada wali yang diperlihatkan padanya alam jin dan tingkatan derajatnya, neraka beserta tingkatannya, dan tingkatan azabnya.

28). Ada wali yang mampu mengetahui sifat-sifat manusia. Sebahagian manusia tertutup sifatnya dan sebahagian lain terbuka. Mereka mempunyai tasbih khusus yang bisa diketahui oleh wali apabila ia mendengarnya. Ibnu 'Arabi berkata, "Kita telah sama-sama menyaksikan karamah seperti ini. Sebahagian wali menuju maqam yang mulia sehingga ia mampu mengatakan 'jadilah' maka sesuatu yang dikehendakinya itu terjadi dengan izin Allah. Maqam ini sangat mulia dan merupakan bukti terbesar kewalian seseorang." Nabi Isa a.s. berkata, "Aku bisa menyembuhkan orang buta sejak lahir dan orang yang berpenyakit lepra dan menghidupkan orang mati dengan izin Allah" (QS Ali Imran [3]: 49). Masuk akal jika Allah memuliakan wali dengan memberinya karamah. Sesungguhnya karamah yang diterima seorang wali merupakan penghormatan kepada Nabi Saw., kerana wali tersebut telah mengikuti dan menjalankan ajaran-ajarannya, sehingga ia pantas mendapatkannya.

29). Ada wali yang naik menuju alam gaib, lalu ia melihat di sebelah kanan alam itu, ada sebuah pena yang menulis kejadian-kejadian di lauh mahfud dalam bentuk huruf-huruf yang bersyakal dan bertitik. Hal tersebut untuk membezakan beberapa bentuk dan jenis makhluk. Seperti golongan manusia, makhluk berkaki empat, makhluk bersayap, macam-macam benda mati, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan lain-lainnya. Orang yang mempunyai maqam ini selalu berusaha menemukan pemilik huruf yang tertulis dalam susunan yang rapi tersebut. Apabila penelitiannya lama, padahal usianya pendek, maka Allah membuatnya rendah hati dan memohon kepada Allah untuk menghapuskannya.

30). Ada wali yang menjaga diri dari makanan, minuman, dan baju yang syubhat (tidak jelas kehalalan dan keharamannya), apalagi dari yang haram. Hal itu ditandai dengan tanda yang ditunjukkan Allah dalam dirinya atau dalam sesuatu yang haram dan syubhat itu. Seperti yang dialami Al-Haris al-Muhasibi, apabila dihidangkan kepadanya makanan yang syubhat, tiba-tiba keluar keringat dari jarinya. Begitu pula yang terjadi pada ibu dari Abu Yazid al-Bustami ketika mengandungnya, tangannya tidak pernah menyentuh makanan syubhat, bahkan tangannya mengenggam sendiri jika menemukan makanan syubhat. Wali lainnya merasa mual memakan makanan syubhat, sehingga memuntahkannya kembali. Ada juga makanan syubhat di hadapan seorang wali berubah menjadi darah, ulat, berwarna hitam, atau babi, dan lain-lain.

31). Ada wali yang apabila menyentuh makanan yang sedikit, maka makanan itu menjadi banyak. Misalnya, seorang wali yang dikunjungi teman-temannya padahal ia hanya mempunyai satu makanan saja. Lalu ia mengiris roti dan menutupinya dengan kain. Maka mereka pun memakan roti itu sampai kenyang padahal roti itu tetap seperti semula (tidak berkurang). Karamah ini merupakan warisan Nabi Muhammad Saw. Contoh lainnya adalah yang terjadi pada Abu' Abdillah al-Tawadi yang membawa secarik kain dan memegang sisinya, kemudian ia menunjukkan ujungnya kepada penjahit sambil berkata kepadanya, "Ambillah kain ini sehingga cukup untuk orang banyak." Kain itu lalu diambil tapi tetap tidak habis-habis dengan izin Allah. Lalu penjahit itu berkata, "Kain ini tidak habis-habis." Lalu Abu 'Abdillah melemparkan kain itu dan berkata, "Sudah, cukup!"

32). Ada wali yang mampu menjadikan satu macam makanan dalam piring menjadi bermacam-macam sesuai dengan keinginan orang yang ada. Hal ini pernah terjadi pada salah seorang guru Abu Madyan r.a. Dalam suatu perjalanan, ia bertemu dengan seorang laki-laki, lalu berjalan bersamanya sebentar dan ia masuk ke rumah perempuan tua di sebuah gua. Sore harinya, ia kembali lagi ke perempuan tua itu dan duduk di sampingnya sampai putra perempuan itu datang. Anak itu mengucapkan salam kepadanya, lalu perempuan tua itu menghidangkan nampan berisi piring dan roti. Syaikh dan anak itu mulai makan. Si syaikh berkata, "Saya ingin yang saya makan ini menjadi begini." Anak itu lalu menjawab, "Wahai Syaikh, dengan nama Allah makanlah apa yang kau inginkan." Abu Madyan kemudian berkata, "Ketika saya terus menerus mengangankan keinginanku, anak itu melontarkan ucapan pertamanya, dan tiba-tiba saya mendapatkan makanan yang saya angankan. Anak itu masih muda, belum punya rambut di pelipisnya."

33). Ada wali yang bisa menjadikan makanan, minuman dan bajunya tergantung di udara. Seperti yang terjadi pada salah seorang wali yang membutuhkan air di padang pasir. Tiba-tiba ia mendengar deringan di atas kepalanya, lalu ia mendongakkan kepalanya, dan di situ ada gelas yang tergantung pada rantai emas. Ia meminumnya lalu meninggalkannya.

34). Ada wali yang bisa merubah air yang pahit dan asin yang ditemukannya menjadi manis dan segar. Ibnu' Arabi berkata, "Saya pernah meminum air semacam itu dari Abdullah, anak Ustaz al-Marwazi r.a., salah seorang khawwash murid dari salah seorang guru Abu Madyan.

35). Ada wali yang memakan makanan dari orang lain. Zaid memakan makanan dari 'Umar padahal 'Umar tidak di hadapannya. 'Umar merasa kenyang di tempatnya dan dia merasakan bau makanan itu seakan-akan dia yang memakannya. Hal ini pernah terjadi pada Al-Hajj Abu Muhammad al-Marwazi dan Abu' Abbas bin Abi Marwan di Ghirnatah. Hal itu terjadi kerana ahli makrifat ini mempunyai keinginan yang suci dan bersih dari dosa dalam batinnya. Allah memberikan karamah dalam dirinya sebagai penghormatan dan untuk membaguskan maqamnya, maka dari keinginannya itu keluarlah apa yang ia sebutkan.

36). Ada wali yang memakan makanan spiritual yang menjadikan jiwanya kekal. Ia tidak membutuhkan makanan jasmaniah kecuali hanya sedikit untuk mempertahankan dirinya. Kekekalan jiwa bisa tercapai dengan makanan ruhani.

37). Ada wali yang mengetahui rahasia biji-bijian dan penyemaiannya di bumi, hujan yang menyebabkannya tumbuh, angin yang menyebarluaskannya dan apa-apa yang membuat bumi menjadi tenang, serta matahari yang memancarkan cahayanya sebagai makanan bagi tumbuhan. Makanan itu mengandung kesempurnaan seperti yang diusahakan manusia. Pengetahuan tentang ini adalah ilmu yang mulia dan bernilai tinggi yang Allah berikan kepada para wali-Nya.

38). Ada wali yang dikaruniai kemampuan mengetahui hakikat bumi, lapisan-lapisan, dan rahasia-rahasianya, serta segala hukum alam yang ditetapkan oleh Allah secara terperinci.

39). Ada wali yang dibukakan kepadanya alam malakut, rahasia kehidupan, dan pengetahuan yang tersembunyi di dalam air, sehingga ia bisa mengetahui kehidupan yang kasat dan tak kasat mata dan mampu merasakan hal-hal yang berbahaya dan zat-zat yang ada di laut.

40). Ada wali yang mengetahui segala tingkat ilmu, kegunaannya di dunia, siapa yang memiliki dan tidak memilikinya, dan lain-lain.

41). Ada wali yang bisa berjalan di udara. Hal tersebut dialami oleh banyak wali. Ada seorang laki-laki yang melihat orang sedang berjalan di udara, lalu ia bertanya kepadanya, "Kerana apa engkau mendapatkan karamah itu?" Ia menjawab, "Kutinggalkan nafsuku untuk menuruti keinginan-Nya, maka Dia menundukkan udara bagiku." Lalu ia berlalu.

42). Ada wali yang dibukakan kepadanya pintu alam ruh di alam malakut, sehingga ia bisa mengetahui hakikat dari rahasia dan cara malaikat naik turun, rahasia pengaturan dan penundukan mereka, kewajiban-kewajiban dan hak-hak mereka.

43). Ada wali yang bisa datang ke lauh mahfuzh melalui esensi hatinya. Lalu dengan izin Allah, ia dapat menyingkap dan menyaksikan secara langsung (musyahadah) hal-hal yang ada di sana, padahal anggota badannya tidak bergerak, kecuali kedua matanya. 

44). Ada wali yang terus-menerus bersimpuh di hadapan lauh mahfuzh, padahal tidak ada manfaatnya.

45). Ada wali yang terkadang menyaksikan lauh mahfuzh.

46). Ada wali yang bisa melihat bagaimana pena menulis di atas lauh mahfuzh.

47). Ada wali yang melihat gerakan pena di lauh mahfuzh. Setiap maqam mempunyai tata cara yang khusus. Tanda orang yang menyaksikan lauh mahfuzh adalah ia menyebutkan rahasiamu padahal kamu diam saja. Seperti yang dikatakan Al-Junaid r.a. ketika ditanya, "Siapa ahli makrifat itu?" Ia menjawab, "Orang yang memberitahukan rahasiamu padahal kamu diam saja." Dan tanda orang yang menyaksikan pena lauh mahfuzh sedang menulis adalah ia bisa mengetahui rahasia yang kamu katakan dalam hati dari manapun asalnya dan sebab adanya.

48). Ada wali yang diperlihatkan oleh Allah rahasia-rahasia yang tersimpan di alam yang paling agung.

49). Ada wali yang diperlihatkan oleh Allah alasan dan sebab terjadi atau tidak terjadinya suatu peristiwa. Setelah ia mengetahuinya, ia memikirkan apakah peristiwa itu mempunyai pengaruh atau tidak? Apabila ada pengaruhnya, maka ia bersiap-siap untuk menerimanya. Apabila pengaruhnya merusak, maka ia memperingatkan teman-temannya. Apabila pengaruhnya berupa rahmat atau kabar gembira, maka ia bersiap-siap untuk bersyukur dan memuji Allah. Seperti Ibnu Barjan r.a. yang memberitahukan tahun akan terjadinya penaklukan Baitul Maqdis. Dan pada tahun yang ditentukan, terjadilah apa yang diramalkannya.

50). Ada wali yang diberitahu Allah tentang kelemahan dirinya, apa yang akan ia dapatkan, dan bagaimana keadaannya nanti.

51). Ada wali yang sampai pada keadaan ketika ia tidak melihat seorang pun yang ia ajak bicara kecuali Allah Swt. Ia melaksanakan segala perintah-Nya. Maqam ini adalah maqam yang penting. Orang yang mengalami maqam ini adalah Khair al-Nasaj r.a. ketika terbersit hal tersebut dalam pikirannya, lalu ia diuji dengan bertemu seseorang yang berkata kepadanya, "Kamu budakku, namamu Khair." Nassaj seakan-akan mendengar Allah yang mengatakan ucapan tersebut. Orang itu kemudian mempekerjakan Nassaj selama beberapa tahun, lalu ia berkata kepadanya, "Kamu bukan budakku dan namamu bukan Khair." Lalu orang itu melepaskan Nassaj.

Demikianlah, karamah tidak akan pernah habis untuk diungkap. Karamah-karamah yang disebutkan di atas cukup untuk mencapai tujuan, yaitu agar manusia tidak meremehkan para wali, bersopan santun kepada mereka apabila mendengar perkataan, perbuatan atau keadaan mereka, mematuhi perkataan mereka meskipun belum paham, dan berdamai dengan mereka supaya selamat. Apabila engkau mendengar rahasia Allah yang tersembunyi dalam diri makhluk yang dipilih sesuai dengan kehendak-Nya, maka terimalah dan percayailah, jika tidak, maka kamu tidak akan mendapat kebaikan. Inilah penjelasan yang saya ambil dari pendahuluan kitab Al-Tabaqat al-Kubra karya Imam 'Abdul Rauf al-Munawi r.a. juga yang telah saya lihat dalam kitab Mawaqi' al-Nujum karya Syaikh al-Akbar Ibnu 'Arabi r.a. 

Sumber : Group WA CKS

Share:

Tuesday, April 6, 2021

Kisah Sarung Habib Ali Al Habsyi Kwitang

 


Di waktu hidup Habib Ali bin 'Abdurrahman Al Habsyi Kwitang, di masa sehatnya selalu mengikuti kegiatan sholat lima waktu di Masjidnya yang tidak jauh dari kediamannya.

Suatu hari tatkala Habib Ali Kwitang akan menunaikan Sholat Dzuhur berjamaah di Masjid, datang seorang pengemis meminta-minta, yang pada waktu itu berpapasan dengan Habib Ali Kwitang di depan rumahnya.

"Apa yang bisa saya bantu untuk anda?" tanya Habib Ali Kwitang pada si pengemis.

"Saya butuh sarung..." jawab si pengemis itu.

"Kebetulan saya belum punya yang baru. Bagai mana kalo  yang lainnya?" Sahut Habib Ali Kwitang pada waktu itu. ( Maksud Habib Ali adalah selain dari sarung )

Kata si pengemis, "Tidak...saya mau sarung...!!! Dan sarungnya yang engkau pakai ya Habib...!!!"

"Tidak bisa yang lainnya? Saya ingin segera ke Masjid. Yang lainnya saja ya? Begitu Habib Ali Kwitang menimpali.

Dan berkatalah si pengemis itu,

"Katanya Engkau seorang Habib, katanya engkau Ali Habsyi... mana Ali Habsyi yang saya dengar? "

Mendengar seperti itu, Habib Ali Kwitang menjawab kepada pengemis itu,

"Tunggulah sebentar saya kedalam dulu..." 

Dengan bergegas Habib Ali Kwitang masuk ke dalam rumahnya untuk menemui istrinya, dengan memanggil sang istri, "Wahai istriku, apa masih ada sarung di lemari?"

"Tidak ada ya Abah... Sarungnya lagi di cuci, baru saja saya jemur." sahut sang istri.

"Ada juga sarung buat saya pake sehari hari." tambah si istri menjawab.

Lalu Habib Ali berkata lagi pada istrinya, "Sudah ambilkan saja sarungmu buat saya pakai untuk Sholat."

Lalu beranjaklah sang istri mengambil sarungnya di lemari untuk diserahkan pada Habib Ali, sambil penuh tanya, "Ya Abah ini gak salah? Ini sarung untuk wanita, bedakan sarung buat lelaki dan wanita?Dan yang Abah pakai bukannya masih bersih?"

Dijawab oleh Habib Ali Kwitang, "Iya. Ini sarung yang saya pakai ternyata ada peminatnya. Jadi harus segera kuserahkan,dan sarungmu ini biar sementara saya pakai untuk sholat."

Setelah rapi melipat dan membungkus kainnya, Habib Ali Kwitang segera memberikan sarungnya kepada pengemis itu, seraya berkata, "Ini sarungnya semoga manfaat..."

Dijawablah oleh pengemis itu, "Ini baru Ali Habsyi... Semoga Alloh berikan yang berlipat..." dan pengemis itu pamit pergi kepada Habib Ali Kwitang.

Lalu Habib Ali menuju ke Masjid dengan menggunakan sarung khusus wanita bermotif kembang kembang namun tertutup oleh jubahnya, sehingga orangpun tidak memperhatikannya. Setelah selesai memimpin Sholat, Habib Ali Kwitang pun beranjak menuju kerumahnya. Sampai di depan rumahnya, Habib Ali Kwitang mendapati satu Mobil Truk besar sedang menurunkan beratus ratus sarung.

Habib Ali Kwitang pun bertanya,"Ini punya siapa?"

Di jawab oleh sopir Mobil truk,

"Ini Hadiah sarung dari Surabaya untuk Habib Ali Al Habsyi di Kwitang."

Mendengar jawaban dari sopir tadi, Habib Ali Kwitang hanya bisa bilang,

"Allah telah berikan kontan..."

Begitulah Kisah Sarung Habib Ali bin 'Abdurrahman Al Habsyi Kwitang, Subhanalloh...

Share:

Wednesday, March 31, 2021

Kisah Karomah Menakjubkan Habib Ali Al Habsyi Kwitang

 


"YAA HABIB ALI AL HABSYI, ANTUM MUJABATUD DA'WAH. BERUNTUNG SEKALI NEGERI YANG ANTUM ADA DI DALAMNYA".

Dulu Tatkala Al Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi berkunjung ke Negeri Hadramaut untuk menziarahi para Ulama, baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat. Dalam kunjungannya, Beliau di temani oleh putra Beliau yaitu Al Habib Muhammad Al Habsyi.

Diantara kunjungannya. Beliau menyempatkan menghadiri Majelisnya Al Habib Alwi bin Abdullah bin Sahab di kota Tarim.

Melihat kedatangan Al Habib Ali Al Habsyi, Al Habib Alwi bin Syahab langsung menyambutnya dengan penuh kehormatan dan menempatkan Habib Ali Al Habsyi duduk di bagian depan berdampingan dengan Beliau.

Di hadapan Jamaah yang hadir di Majelis Beliau, Habib Alwi bin Syahab berkata :

"Hadirin sekalian, kita telah kedatangan seorang Alim Ulama dari Jawa, dari Bandar Betawi, yang namanya sudah tidak asing lagi di Negeri ini yaitu Al Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi".

"Dan atas kehadiran Beliau di Majelis ini, kami meminta kepada Al Habib Ali Al Habsyi untuk bermohon kepada Allah SWT agar menurunkan air hujan di Negeri kita ini, karena sudah cukup lama tidak turun hujan yang menimbulkan kekeringan di mana-mana, dan kita mohon kepada tamu kita Al Habib Ali Al Habsyi untuk berdoa memohon kepada Allah SWT atas niat tersebut."

Al Habib Ali Al Habsyi sempat menolaknya karena Beliau datang adalah untuk mengambil barokah dan mengharap do'a Al Habib Alwi bin Syahab. Tapi karena di mohon oleh tuan rumah, pada akhirnya Habib Ali Al Habsyi memanjatkan do'a kepada Allah SWT.

Selesai memanjatkan do'a, maka tidak begitu lama terlihat cuaca mulai mendung dan Habib Alwi berkata : 

"Sepertinya Majelis ini dicukupkan saja dulu, karena sebentar lagi akan turun hujan".

Tidak begitu lama, hujan pun turun dengan lebatnya dan akhirnya Habib Ali Al Hansyi bermalam di rumah Habib Alwi bin Syahab.

Hampir satu hari lamanya hujan tidak kunjung reda, maka pada akhirnya beberapa Jama'ah yang mewakili penduduk Negeri Tarim meminta kepada Habib Alwi bin Syahab agar menyampaikan kepada Habib Ali Al Habsyi untuk berdo'a agar hujan yang begitu lebat di alihkan di Wadi atau di sungai-sungai saja.

Dan Habib Alwi bin Syahab meminta lagi kepada Habib Ali Al Habsyi : "Ya Hababana Ali, mohonlah kepada Allah agar hujan ini di turunkan di sekitar kota saja yang tidak ada rumah rumahnya. Karena kalau tidak, rumah-rumah kami ini bisa hancur karena semua terbuat dari Tanah".

Mendengar perkataan Habib Alwi bin Syahab, langsung Habib Ali Al Habsyi menengadahkan tangannya tinggi-tinggi seraya berdo'a Kepada Allah SWT. Subhanallah, hujan pun berangsur-angsur berhenti.

Melihat hal demikian, Habib Alwi bin Syahab memeluk Habib Ali Al Habsyi seraya berkata : 

"Yaa Habib Ali Al Habsyi, Antum Mujabatud Da'wah. Beruntung sekali Negeri yang Antum ada di dalamnya".

Itulah Karomah Al Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi dan kisah ini disampaikan Al Habib Muhammad bin Ali Al Habsyi dalam kunjungan beliau bersama sang Ayah pada waktu itu Rihlah di Negeri Hadramaut.

Sumber : 

Antoe Dzibril / Khadim MT. Kwitang yang Beliau dapatkan dari Al Habib Muhammad bin Ali Al Habsyi. (FP Kisah Wali Allah)

Share:

Sunday, March 28, 2021

Beda Pendapat Soal Rezeki, Guru dan Murid Ini Justru Ketawa

 


Guru & Murid Tertawa Karena Beda Pendapat Tentang Rezeki :

Seorang Guru dalam majlis menyampaikan :

"Sesungguhnya rezeki itu datang tanpa sebab, cukup dengan tawakkal yang benar kepada Allah niscaya Allah akan meberikan Rezeki. Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah mengurus lainnya."

Sementara Sang Murid bependapat lain dari Gurunya :

"Seandainya seekor burung tidak keluar dari sangkarnya, bagaimana mungkin ia akan mendapatkan rezeki."

Guru dan Murid bersikukuh pada pada pendapatnya masing-masing.

Hingga suatu waktu, Sang Murid meningglkan pondok. Sang Murid melihat serombongan orang tengah memanen anggur. Diapun membantu mereka. Setelah pekerjaan selesai, Sang Murid memperoleh imbalan beberapa ikat anggur sebagai balas jasa.

Sang Murid pun girang, bukan karena mendapatkan anggur, tetapi pemberian itu telah menguatkan pendapatnya  tentang rezeki. Jika burung tak terbang dari sangkar, bagaimana ia akan mendapat rezeki. Seandainya dia tak membantu memanen, niscaya tidak akan mendapatkan anggur.

Bergegas dia menjumpai Sang Guru. Sambil menaruh seluruh anggur yang didapatnya, dia bercerita. Sang Murid sedikit mengeraskan bagian kalimat “Seandainya saya tidak keluar pondok dan melakukan sesuatu (membantu memanen), tentu saja anggur itu tidak akan pernah sampai di tangan saya.”

Mendengar itu, Sang Guru tersenyum, seraya mengambil anggur dan mencicipinya. Sang Guru berucap pelan.

“Sehari ini aku memang tidak keluar pondok. Hanya mengambil tugas sebagai guru, dan sedikit berpikir alangkah nikmatnya kalau dalam hari yang panas ini aku bisa menikmati anggur. Tiba-tiba engkau datang sambil membawakan beberapa ikat anggur untukku. Bukankah ini juga bagian dari rezeki yang datang tanpa sebab. Cukup dengan tawakkal yang benar kepada Allah niscaya Allah akan berikan rezeki. Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah yang mengurus lainnya.”

Sang Guru dan Sang Murid itu kemudian tertawa. Sang Guru yang dimaksud adalah Imam Malik, dan Sang Murid adalah Imam Syafi'i. 

Dua Imam madzab yang mengambil dua hukum yang berbeda dari hadits yang sama.

Begitulah cara Ulama bila melihat perbedaan, bukan dengan cara menyalahkan orang lain dan hanya membenarkan pendapatnya saja.

Semoga kisah ini dapat menjadi pelajaran untuk kita semua..

Sumber: FP (Kisah Wali Allah)

Share:

Friday, March 26, 2021

Kisah Ketika Jempol Imam Nawawi Al Bantani Mengeluarkan Cahaya

 


Ketika Asy Syeikh Al Imam Nawawi Al Bantani sedang menulis kitab Maraqil Ubudiyah yang merupakan syarah (penjelasan) kitab Bidayatul Hidayah karya Imam  Al Ghazali, lampu beliau kehabisan minyak hingga membuat proses menulisnya terhenti.

Kebetulan saat itu beliau sedang melakukan perjalanan menggunakan Haudjad (rumah-rumahan di atas unta). Beliau yang kesulitan untuk menulis kemudian berdoa kepada Allah, jika sekiranya kitabnya ini baik dan bisa bermanfaat bagi umat, maka beliau meminta cahaya agar beliau bisa meneruskan menulis.




Tiba-tiba, dengan izin Allah jempol kaki beliau (riwayat lain menyebutkan jempol tangan kiri) menyala layaknya sebuah lilin, hingga akhirnya beliau bisa menyelesaikan kitabnya tersebut. Bekas hitam akibat nyala api di jempol itu masih membekas hingga beliau wafat, malah menjadi hikmah tersendiri karena ketika pemerintah Hijaz mengadakan program wajib militer, beliau tidak diterima sebab bekas api di jempolnya itu.

Kisah di atas menandakan penjagaan Allah atas diri beliau. Karena jika saat itu beliau menjadi tentara, mungkin tidak akan banyak kitab yang beliau tulis seperti yang saat ini bertebaran. Allah memang telah mengkhususkan beliau untuk menjadi salah satu penjaga ilmu-Nya di dunia.

Hal ini terbukti dengan banyaknya kitab-kitab agama karangan beliau yang masih terus dikaji hingga saat ini. Bukan hanya di Indonesia, tapi di seluruh dunia. Kitab beliau umumnya berisi pembahasan dasar agama yang penting dipelajari setiap Muslim.

Wallohu A'lam...

Sumber : FP Kisah Wali Allah

Share:

Thursday, March 25, 2021

Perjalanan Ma'rifat & Karomah Habib Ahmad Bafaqih Tempel

 


Kehidupan masa muda Al Habib Ahmad Bafaqih tak semudah yang dibayangkan. Cacian, hinaan dan makian dari orang-orang sekitar beliau, baik atas kekurangan fisik ataupun kemiskinan yang ada pada diri beliau, Habib Ahmad Bafaqih tak pernah membalas cacian itu. Bahkan beliau terima dengan sabar semua perlakuan itu. Di masa muda itu pula Habib Ahmad Bafaqih pernah berjualan kecil-kecilan seperti berjualan korek api walaupun hasilnya tidak menguntungkan.

Sesungguhnya Allah adalah Maha Berkehendak, sosok Habib Ahmad Bafaqih dikarenakan kesucian hatinya, kesabaran akhlaknya, telah dianugerahi oleh Allah SWT berupa Futuhal ‘Arifiin, kasyaf dan ilmu ladunni, padahal beliau diriwayatkan tidak menempuh pendidikan formal.

Habib Ahmad Bafaqih pernah menuturkan kepada Abuya Habib Ahmad bin Husein Assegaf Bangil tentang asal mula kewaliannya ketika Abuya berkunjung ke rumah beliau.

“Siapakah guru anda?” tanya Abuya kepada beliau.

“Guruku Allah SWT., Malaikat Jibril, Rasulullah SAW., jawab beliau  yang menandakan bahwa ia adalah seorang majdzub yang mendapat kewalian tanpa bersuluk.

“Bagaimana asal muasalnya Habib “bisa sampai” kepada Allah “? Tanya Abuya selanjutnya.

“Karena kamu yang bertanya maka saya akan menjawabnya. Kalau bukan kamu, saya tidak akan cerita.”

“Dulunya saya orang miskin. Ayah saya wafat dengan meninggalkan saudari -saudari perempuan saya yang banyak. Saya ini orang cacat yang tidak bisa bekerja.”




“Pada suatu hari saudari-saudari saya merasa kelaparan. Di rumah saya tidak ada makanan sama sekali. Mereka meminta kepada saya untuk mencarikan makanan. Saya berpikir dari mana saya berusaha dapat makanan? Mau usaha apa?  Jalan saja saya harus tertatih-tatih sambil berpegangan di tembok. Badan saya cacat.”

“Terpaksa saya keluar rumah mencari makanan. Tidak ada orang yang kasihan kepada saya. Jangankan memberi sesuatu, menjawab salam saya saja mereka enggan karena melihat diri saya yang seperti ini. Saya terus berjalan dan berjalan sampai capek.”

“Saya istirahat duduk-duduk di Masjid Agung Jogjakarta sampai malam. Karena waktu sudah malam, penjaga masjid itu menyuruh saya keluar dari masjid. Kalau tidak, ia akan mengunci saya saya dari luar. Saya tidak mau keluar. Akhirnya saya dikunci di dalam Masjid sendirian.”

“Saya menangis dan menangis di dalam Masjid. Saya sudah putus asa dari manusia. Di tengah larut malam, saya bermunajat kepada Allah : “TIDAK ADA MANUSIA YANG MAU KEPADAKU, SIAPA LAGI YANG MAU MEMUNGUT DIRIKU SELAIN ENGKAU, YAA ALLAH. AKU MENGELUH KEPADAMU, AKU BERPASRAH DIRI PADAMU.” doaku kepada Allah.

“Di tengah saya bermunajat, saya mendengar suara salam.

“Assalamu ‘alaikum.... ”

“Wa ‘alaikumussalaam”. Jawabku

“Anda siapa? ” tanyaku kepada seseorang yang tiba-tiba muncul di hadapanku.

“Aku kakekmu Muhammad Rasulullah SAW “ Jawab orang itu.

Baginda Rasulullah SAW berkata kepadaku : “INNAA FATAHNAA LAKA FATHAN MUBIINAA ” nanti akan datang orang yang mengajar kamu.”

“Tidak lama kemudian muncul Nabi Khidhir memberi kabar bahwa mulai besok rezekiku akan datang ke rumah dan orang-orang akan datang ke rumahku.”

“Di pagi harinya saya pulang ke rumah dan saudari-saudariku masih kelaparan. Tak lama kemudian datanglah orang membawa makanan ke rumah.

Sedangkan Nabi Khidhir telah mengajari saya menulis azimat di sebuah kertas.”

“Semenjak saat itu rumah Habib Ahmad Bafaqih tidak pernah sepi dari tamu. Masyarakat umum, para pejabat sampai Wali seperti Sayyid Muhammad Maliki turut berkunjung kesana. Namun kewalian dan kekeramatan itu beliau dapatkan setelah mengalami bermacam penderitaan.

Habib Ahmad Tempel pernah berucap di masa kholwat beliau bahwa beliau tidak akan mau keluar dari kholwatnya terkecuali Habib Sholeh Tanggul yang mengeluarkan. (kisah dari Habib Muhdhor Al Hamid yang ketika masih muda pernah diajak ayahnya, Habib Muhammad bin Habib Sholeh Al Hamid Tanggul sowan ke rumah Habib Ahmad Tempel).

Sosok Habib Ahmad Bafaqih juga dikenal sosok yang sangat dekat dengan Nabi Khidir AS, bahkan sering bersama sahabat beliau, Syekh M. Abdul Malik Ilyas ( Purwokerto) / Guru Mursyidnya Abah Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan berjumpa Nabi Khidir AS dan mengetahui “penyamaran” Nabi Khidir AS dengan mudah.

Di kalangan ulama, Wali dan Habaib di zamannya, kedudukan Habib Ahmad Tempel sangatlah dihormati.

Habib luthfi Bin Yahya Pekalongan pernah bercerita kepada Habib Abdul Hadi Baragbah Tegal, bahwa Habib Ahmad Kemusuh pernah bilang kepada Habib Luthfi waktu itu masih muda: ”Bahwa Habib Ahmad mimpi gendong-gendongan sama Habib Luthfi di ‘Arsy.”

Banyak pejabat negara serta artis yang tak ketinggalan turut mengambil keberkahan beliau. Diantaranya Wakil Presiden RI H. Adam Malik, yang kemudian membuat kubah makam Habib Ahmad Tempel dan ayahnya.

Banyak orang yang berjumpa menemui Habib Ahmad Tempel di rumah beliau, melihat karomah beliau, seperti beliau tahu berita terbaru, padahal tak membaca koran, mendengarkan radio ataupun menonton televisi.

Beliau disebut hadir telihat berhaji di Mekkah, padahal beliau tak ada pergi kemana-mana.

Di ceritakan, pernah menantu beliau yakni Habib Muhammad Hamid Bafaqih dipesankan oleh Habib Ahmad Tempel agar menjaga ketat pintu kamar Habib Ahmad Tempel, tak boleh ada yang masuk. setelah Habib Ahmad Tempel lama tak muncul, akhirnya Habib Muhammad Hamid Bafaqih memberanikan diri membuka pintu kamar, dan ternyata Habib Ahmad Tempel pergi menghilang entah kemana, Wallahu a’lam.

Banyak orang yang sakit, menjadi sembuh dengan izin Allah melalui karomah Habib Ahmad Tempel. Pernah juga habib Ahmad bin Toha Al Munawwar (Toha Putra semarang) sedang sakit dan akan diobati dengan cara dioperasi di rumah sakit, lalu meminta nasehat kepada Habib Ahmad Tempel apa hal yang terbaik. Lalu oleh Habib Ahmad Tempel hanya disuruh untuk membuat es teh yang legi (manis) dan kentel, kemudian diminum. Dan ternyata penyakit Habib Ahmad Toha Munawwar pun sembuh tanpa harus dioperasi setelah meminum es teh saran beliau.

Ada pula satu pohon kayu, diolah papannya mampu menjadi beberapa rumah pondok, pada suatu pesantren melalui karomah Habib Ahmad Tempel.

Habib Ahmad tempel juga pernah berucap : “Saya merokok ini, tujuannya adalah untuk membakar setan“.

Akan tetapi soal merokok beliau Habib Ahmad Bafaqih Tempel juga pernah berkata kepada Abuya Habib Ahmad Husein Assegaf Bangil yakni : ”Aku Rokok an cek gak bening“, kata beliau. Maksudnya untuk mengurangi kebeningan hati (Kasyaf) yang bisa melihat aib orang lain. Habib Ahmad Tempel terpaksa menggunakan rokok.

Maka bayangkanlah dengan orang yang hatinya sudah gelap, tentu dengan merokok hatinya bertambah gelap. Dikecualikan orang-orang sholih dan a'rifbillah yangg sudah mengenal Allah tentulah rokok tak memperngaruhi keadaan hati. Maka dari itu wajiblah kita istiqomah tholabulbilmi, karena ini maka kita bisa mengenal Allah. 

Ketika Habib Ahmad tempel masih hidup, banyak orang yang meminta wafaq / rajah / azimat kepada beliau, salah satu wafaq yang sering beliau beri adalah wafaq ”SEGITIGA KHATAMUN NUBUWWAH ” (Allahu WahdaHu Laa Syariika lahu, Muhammadun ‘Abduhu wa Rasuluhu).

Habib Ahmad bafaqih tempel pernah berucap ketika berkunjung ke Guru Haji Seman Mulia, Martapura, Kalsel : “Bahwa aku hanya mencari teman, (yakni) orang yang bersyukur dan tidak mau berteman dengan orang yang pusang (gelisah/kecewa dalam hal duniawi), karena orang pusang itu bukan hamba Allah tapi hamba iblis “.

Kini Dakwah Habib Ahmad Bafaqih tempel diteruskan diantaranya oleh putra beliau sendiri : Habib Umar bin Ahmad Bafaqih (Sokaraja), Habib Ali bin Ahmad Bafaqih (Jogjakarta), kemudian oleh Habib Muhammad Hamid Bafaqih (menantu dan juru kunci makam), Habib Husein bin Abdullah Assegaf (Sedayu, jogja) dan Habib Zein bin Ahmad Assegaf Magelang.

Sedangkan di Kalsel, murid beliau yang terkenal adalah Guru Haji Asmuni (Guru Danau).

Diantara ijazah wirid dari beliau Habib Ahmad Tempel adalah : jika kita ada hajat khusus, hendaklah membaca – ALLAHUMMA SHOLLI ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMADIN WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA MUHAMMAD sebanyak 124.000 kali (seratus dua puluh empat ribu kali), bisa dicicil Maksimal dalam jangka 40 hari.

Habib Umar Mutohhar ( Semarang ) pernah menceritakan pengalamannya bersama KH. Mufid Mas’ud (PP Pandanaran Kaliurang Jogjakarta) saat berziarah ke makam Habib Ahmad Bafaqih Kemusuh Yogyakarta.

Ketika membaca akhir surah Yasin, “innama amruhu idza arada syai’an an yaqula lahu KUN FAYAKUN … ” , makam itu terbuka dan keluarlah Habib Ahmad Bafaqih dari kuburnya.

Setelah itu pembacaan doa dipimpin oleh Habib Ahmad, diaminkan oleh Habib Umar Muthohar dan KH. Mufid Mas’ud. Kemudian Habib Ahmad masuk lagi ke kubur. Peristiwa itu terjadi setelah 40 hari Habib Ahmad Bafaqih dimakamkan. Habib Umar Mutohhar lalu melanjutkan ceritanya. Kata beliau: “Setelah 7 hari dimakamkannya Habib Ahmad, saya bertemu beliau di alam mimpi. Beliau membai’at saya dengan syahadat (talqin dzikir)” Kalau dinalar logika sulit. Untungnya saya termasuk dari kelompok “alladzina yu’minuna bil ghoib”.

Habib Ahmad tempel sebenarnya wafatnya pada bulan sya’ban, sedangkan Haul Ahad terakhir bulan Syawwal adalah Haulnya ayah beliau, yakni Habib Ali bin Ahmad Bafaqih, karena haul ahad terakhir bulan Syawwal sudah berlangsung sejak zaman Habib Ahmad Tempel hidup, maka waktu haul ini tetap dipertahankan di Kemusuh.

Acara puncak haul beliau sendiri terdiri dari 2 sesi, Malam Ahad ziarah kubro dan tahlil serta ceramah ulama. Ahad Subuh, maulid Nabi Muhammad SAW dan musik gambus serta khitanan massal.

Semoga riwayat ringkas ini, menjadi sebab turunnya barokah atas kita, dan atas kekurangan serta kekeliruan mohon diluruskan dan dimaafkan.

( Disusun alfaqir – Shodiqur Rifqi, Diedit oleh Fatahyasin.my.id )

Dari arah Kota Yogyakarta melintasi jalan Raya Magelang hingga sampai di jalan Turi km 1 perempatan rambu lalu lintas Sleman Yogyakarta, sebelah kanan jalan nampak papan nama SMK Ma’arif 2 Sleman, dari perempatan ini belok kiri untuk menuju desa Banyurejo hingga pertigaan dukuh/desa kemusuh -+ (7km), dari pertigaan ini belok kiri -+ (50m) akan nampak jembatan kecil, sebelum jembatan ini sebelah kiri jalan akan nampak qubah makam Habib Ahmad Tempel.

Alamat / Lokasi / Tempat Makam Beliau :

Dukuh. Kemusuh, Desa. Banyurejo, Kec. Tempel, Kab. Sleman – Yogjakarta 55552.

Moga manfaat dan bisa kita jadikan tauladan dari kisah beliau Aamiin.

Share:

Wednesday, March 24, 2021

Kisah Sufi Yang Tak Fasih Baca Surat Al Fatihah


Pada zaman dahulu kala, ada seorang Sufi yang maqomnya setingkat Wali, bernama Syaikh Abu Said Abul Khoir. 

Beliau dikaruniai banyak karomah dari Allah SWT, walau bacaan ayat-ayat Al-Qur'an beliau sangat tidak fasih. Alkisah, pada suatu hari ada ustadz muda, yang ingin sekali berguru kepada sufi tersebut. Perjalanan yang memakan waktu berminggu-minggu lamanya dilalui oleh ustadz muda tersebut demi menuju rumah sang sufi yang kebetulan terletak di tengah gurun padang pasir.

Ahirnya sampailah ustadz muda tersebut di rumah sang syekh tersebut.  Dan Syekh Abul Khoir saat itu sedang mengaji. 



Pada saat Sang Syekh membaca surat Al Fatihah, sang ustadz muda mendengarnya dan dia kurang puas terhadap bacaan Al Fatihahnya Syekh Abul Khoir, yang menurut ustadz muda tersebut kurang tepat makhroijul Hurufnya. 

"Bagaimana mungkin ia seorang sufi, sedangkan bacaan Al Fatihahnya saja tidak fasih. " gumam ustadz muda dalam hati. 

Karena bacaan Sang Sufi tersebut, ahirnya sang ustadz muda mengurungkan niatnya untuk berguru kepada syekh Abu Said Abul Khoir. 

Dengan perasaan kecewa, ustadz muda tersebut kemudian segera meninggalkan kediaman Sang Syekh. 

Di tengah perjalanan, ustadz muda tersebut di cegat 2 ekor singa besar yang siap menerkamnya. Wajah ustadz muda seketika pucat pasi. Dengan sekuat tenaga, ustadz muda tersebut berteriak dengan kerasnya, yang kemudian didengar oleh Sang Syekh. 

Dengan tergopoh-gopoh, Syekh Abul Khoir segera meninggalkan majelisnya, menuju arah suara. 

Ketika sampai ditempat, sang Syekh segera berkata dengan kedua ekor singa tersebut sambil memandangi matanya. "Wahai singa, bukankah aku sudah katakan jangan pernah mengganggu para tamuku."

Sungguh ajaib, singa tersebut kemudian segera bersimpuh di hadapan sang Syekh. Setelah di elus kepalanya, kedua singa tersebut segera meninggalkan Syekh Abul Khoir dan ustadz muda.

"Bagaimana anda bisa menaklukan 2 singa liar lapar tersebut?" tanya ustadz muda keheranan kepada Syekh Abul Khoir. 

"Wahai anak muda, selama ini aku mencoba menaklukan hatiku agar senantiasa tidak pernah menaruh prasangka buruk kepada orang lain dan selalu mencintai Allah ketimbang yang lainnya. Atas perbuatanku ini, oleh Allah aku dikaruniai karomah alam semesta ini, termasuk binatang buas di pasir ini juga takluk dihadapanku" jawab Syekh Abu Khoir.

"Apakah engkau tahu kelemahanmu anak muda?" tanya Sang Syekh kepada ustadz muda tersebut.

"Tidak guru..." jawab ustadz muda dengan menundukan wajah memerah menahan malu.

"Selama ini kamu hanya konsentrasi memperhatikan hal-hal lahiriah semata, sehingga lupa memperhatikan hatimu, karena itulah kamu lebih takut kepada alam semesta ini." jelas Syekh Abul Khoir. 

Sejak kejadian tersebut, akhirnya ustadz muda menetapkan hatinya untuk menjadi murid Waliyullah Sufi Syekh Abu Said Abul Khoir.

 Sumber : FP Kisah Wali Allah

Share:

Saturday, March 20, 2021

Wali Kecil, Tak Dikenal Di Dunia Namun Tenar Di Langit

 


Syekh Abu 'Abdillah Al Jalla RA berkata: 

Suatu hari, ibuku mengidam-idamkan ingin menyantap ikan laut. Saat itu juga ayahku mengajakku ke pasar untuk membeli ikan laut demi memenuhi hajat ibuku. Setelah membeli ikan laut dan sejumlah keperluan lainnya, ayahku mencari seorang kuli untuk membantu membawakan belanjaan kami.  

Tiba tiba seorang anak kecil berdiri tepat di hadapan ayahku sambil berkata, 

"Paman! Apakah engkau mencari seorang kuli untuk membawakan belanjaanmu ini?"

"Benar," jawab Ayahku.

"Biarlah aku yang membawakan," ujar anak itu.

Anak kecil itu pun dengan sigap membawa belanjaan kami dan berjalan bersama kami. Di tengah perjalanan, terdengar suara adzan dan anak kecik itu pun berkata, "Paman, seorang Muadzin telah mengumandangkan adzan, aku harus mengambil wudhu dan shalat. Jika engkau rela, maka aku akan shalat dulu. Bila tidak, mohon maaf, silahkan paman lanjutkan perjalanan membawa sendiri belanjaan ini."

Anak kecil itu dengan cepat meletakan belanjaan kami dan berjalan menuju Masjid. Ayahku berkata, "Kitalah yang seharusnya lebih mampu dan pantas bertawakkal kepada Allah dibanding anak kecil itu. Mari kita tinggalkan saja belanjaan ini disini dan kita shalat dulu." 

Kemudian kami masuk ke dalam Masjid dan menunaikan shalat bersama anak kecil tersebut.

Selepas shalat dan berdzikir, kami pun keluar dari Masjid dan barang belanjaan kami masih berada di tempatnya. Dengan sigap, anak kecil itu membawanya dan ia pun berjalan bersama kami hingga tiba di rumah. Ayahku menuturkan peristiwa itu kepada ibuku. Kemudian ibuku berkata, "Katakan padanya agar ia mau beristirahat sejenak di rumah kita dan makan bersama kita." Ayahku pun menyampaikan pesan ibuku kepadanya, akan tetapi anak kecil itu berkata,

"Aku sedang berpuasa." 

"Kalau begitu, kembalilah kemari sore nanti." ujar Ayahku.

"Aku tidak bisa kembali sore nanti. Aku baru bisa kesini selepas maghrib. Sudah menjadi kebiasaanku untuk sekali saja dalam sehari aku bekerja. Jika aku sudah mendapat satu pelanggan, maka aku tidak akan mencari pelanggan lainnya. Selesai membawakan barang pelangganku tersebut, aku habiskan sisa waktuku di masjid sampai maghrib. Insyaa Allah selepas Maghrib aku akan mengunjungi kalian." jawabnya kemudian pergi meninggalkan kami.

Sore harinya selepas maghrib, Anak kecil itu pun datang dan makan bersama kami. Selesai makan, kami memintanya untuk beristirahat di salah satu kamar kami, dan kami biarkan dirinya tinggal di sana. Di dekat rumah kami, ada seorang wanita yang lumpuh. Pada suatu malam, tiba tiba wanita lumpuh itu dapat berjalan. Wanita itu menjawab, " Aku memohon kepada Allah agar menyembuhkanku dengan berkat kemuliaan tamu kalian. Selesai berdoa seperti itu, tiba tiba aku bisa berdiri dan berjalan seperti semula." 

Kami pun segera mendatangi anak kecil itu di kamarnya. Pintu kamar terkunci seperti biasanya, akan tetapi kami tidak menemukan anak kecil itu di dalamnya."

Sumber : Buku Manusia Langit ( tak dikenal di bumi, tenar di langit)  Halaman 53 - 56

Karya  Al Habib Novel bin Muhammad Alaydrus

- Abdullah Bin As'ad Al Yafi, Raudhur Rayyahin Fi Hikayatis Sholihin, Al Maktabah At Taufiqiyyah, Hal. 199

Share:

Thursday, March 18, 2021

Kisah Waliyullah Berguru Kepada Orang Gila


 

Syekh Junaid Al Baghdadi adalah seorang Sufi terkemuka. Pada suatu waktu, beliau pergi keluar kota Baghdad bersama dengan beberapa muridnya. Syekh Junaid Al Baghdadi bertanya kepada muridnya tentang Bahlul. Muridnya menjawab, “Ia adalah orang gila, apa yang anda butuhkan darinya?”.

“Cari dia, aku ada perlu dengannya.” Kata Syekh Junaid.

Murid-muridnya lalu mencari Bahlul dan bertemu dengannya di gurun. Mereka lalu mengantar Syekh Junaid kepadanya. Ketika Syekh Junaid mendekati Bahlul, beliau melihat Bahlul sedang gelisah sambil menyandarkan kepalanya ke tembok. Syekh Junaid kemudian menyapanya. Bahlul menjawab dan bertanya kepadanya, “Siapakah engkau?”.

“Aku adalah Junaid Al Baghdadi.” Jawab Syekh Junaid.

“Apakah engkau Abul Qasim?” Tanya Bahlul.

“Iya” Jawab Syekh Junaid.

“Apakah engkau Syekh Baghdadi yang memberikan petunjuk spiritual kepada orang-orang?” Tanya Bahlul lagi.

“Iya...” Jawab Syekh Junaid.

“Apakah engkau tau bagaimana cara makan?” Tanya Bahlul.

Syekh Junaid lalu menjawab “Aku mengucapkan Bismillah, aku makan yang ada di hadapanku, aku menggigitnya sedikit, meletakkannya disisi kanan dalam mulutku dan perlahan mengunyahnya, dan aku tidak menatap suapan berikutnya. Aku mengingat Allah sambil makan. Apapun yang aku makan, aku ucapkan Alhamdulillah,  dan aku cuci tanganku sebelum dan sesudah makan”.

Bahlul berdiri menyibakkan pakaiannya dan berkata, “Kau ingin menjadi guru spiritual di dunia, tapi kau bahkan tidak tau bagaimana cara makan?” sambil berkata demikian ia kemudian berjalan pergi.

Murid Syekh Junaid kemudian berkata, “Wahai Syekh dia adalah orang gila”.

Syekh Junaid berkata, “Dia adalah orang gila yang cerdas dan bijak. Dengarkan kebenaran darinya”.

Bahlul mendekati sebuah bangunan yang telah ditinggalkan lalu dia duduk, Syekh Junaid pun datang mendekatinya.

Bahlul kemudian bertanya “Siapakah engkau?”.

“Syekh Baghdadi yang bahkan tidak tau bagaimana cara makan.” Jawab Syekh Junaid.

“Engkau tidak tau bagaimana cara makan, tapi taukah engkau bagaimana cara berbicara?” Tanya Bahlul.

“Iya...” jawab Syek Junaid.

“Bagaimana cara berbicara?” Tanya Bahlul.

Syekh Junaid kemudian menjawab, “Aku berbicara tidak kurang tidak lebih dan apa adanya. Aku tidak terlalu banyak bicara, aku berbicara agar pendengar dapat mengerti. Aku mengajak orang-orang kepada Allah dan Rasulullah SAW. Aku tidak berbicara terlalu banyak agar orang tidak menjadi bosan, aku memberikan perhatian atas kedalaman pengetahuan lahir dan batin.” Kemudian Ia menggambarkan apa saja yang berhubungan dengan sikap dan etika.

Lalu Bahlul berkata, “Lupakan tentang makan, karena kau pun tidak tau bagaimana cara berbicara.”.

Bahlul pun berdiri menyibakkan pakaiannya dan berjalan pergi. Murid-murid Syekh berkata lagi, “Wahai Syekh, anda lihat, dia adalah orang gila. Apa yang engkau harapkan dari orang gila?”.

Syekh Junaid menjawab, “Ada sesuatu yang aku butuhkan darinya, kalian tidak tau itu.”.

Syekh Junaid lalu mengejar Bahlul lagi hingga mendekatinya.

Bahlul lalu bertanya lagi, “Apa yang engkau inginkan dariku? Kau yang tidak tau cara makan dan berbicara, apakah kau tau bagaimana cara tidur?”.

“Iya aku tau” Jawab Syekh Junaid.

“Bagaimana caramu tidur?” Tanya Bahlul.

Syekh Junaid lalu menjawab, “Ketika aku selesai sholat ‘Isya dan membaca do’a, aku mengenakan pakaian tidurku.” Kemudian Syekh Junaid menceritakan cara-cara tidur sebagaimana yang lazim dikemukakan oleh para ahli agama.

“Ternyata kau juga tidak tau bagaimana caranya tidur.” Kata Bahlul seraya ingin bangkit dari duduknya.

Tapi Syekh Junaid menahan pakaiannya dan berkata, “Wahai Bahlul, aku tidak tau. Karenanya Demi Allah ajari aku.”.

Bahlul pun berkata, “Sebelumnya engkau mengklaim bahwa dirimu berpengetahuan dan berkata bahwa engkau tau, maka aku menghindarimu. Sekarang setelah engkau mengakui bahwa dirimu kurang berpengetahuan, maka aku akan mengajarkan padamu. Ketahuilah, apapun yang telah engkau gambarkan itu adalah permasalahan bukan yang utama. Kebenaran yang ada di belakang memakan makanan adalah, bahwa kau memakan makanan halal. Jika engkau memakan makanan haram dengan cara seperti yang engkau gambarkan, dengan seratus sikap pun tidak akan bermanfaat bagimu melainkan akan menyebabkan hatimu hitam.”

“Semoga Allah memberimu pahala yang besar.” Kata Syekh Junaid.

Bahlul lalu melanjutkan, “Hati harus bersih dan mengandung niat baik sebelum kau mulai berbicara. Percakapanmu haruslah menyenangkan Allah. Jika itu untuk duniawi dan pekerjaan yang sia-sia maka apapun yang kau nyatakan akan menjadi mala petaka bagimu. Itulah mengapa diam adalah yang terbaik. Dan apapun yang kau katakan tentang tidur, itu juga bernilai tidak utama. Kebenaran darinya adalah hatimu harus terbebas dari permusuhan, kecemburuan dan kebencian. Hatimu tidak boleh tamak akan dunia atau kekayaan yang ada di dalamnya. Dan ingatlah Allah ketika akan tidur.”

Syekh Junaid kemudian mencium tagan Bahlul dan berdo’a untuknya.

Sumber : FP Kisah Wali Allah

Share:

Wednesday, March 17, 2021

Kisah Sandal Imam Ahmad bin Hambal

Dikisahkan suatu hari, Imam Ahmad bin Hambal ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ sedang berada di Masjid. Kemudian, datanglah Khalifah Abbas Al Mutawakkil kepada beliau ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ yang memberitahukan bahwa ada kerabatnya yang bernama Jariyah, sedang kerasukan Jin.

Khalifah Al-Mutawakkil meminta Imam Ahmad bin Hambal  ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ untuk berdo'a kepada Allah ﷻ agar kerabatnya diberi kesembuhan. Setelah berdo'a, Imam Ahmad bin Hambal ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ  menitipkan sandalnya seraya berkata pada Khalifah, “Bawalah sandal ini ke kediaman Jariyah dan duduklah di sebelah kepala Jariyah, dan katakan kepadanya (kepada Jin)  bahwa Ahmad bin Hambal berkata kepadamu :

"Keluarlah engkau dari tubuh Jariyah ini! Atau aku akan memukulmu dengan sandal ini sampai 70 kali!"

Kemudian, Khalifah Al Mutawakkil pulang dan melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Imam Ahmad bin Hambal ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ .

Setelah duduk di samping Jariyah, Khalifah Al Mutawakkil berkata kepada Jin yang berada di tubuh Jariyah sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ahmad bin Hambal ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ .

Lalu, Jin tersebut berkata melalui lisan Jariyah,

“Aku mendengar dan taat. Seandainya Imam Ahmad bin Hambal menyuruhku pergi dari Irak, aku pasti akan menuruti perintahnya. Sesungguhnya beliau itu orang yang taat kepada Allah. Barangsiapa yang taat kepada Allah, siapa pun akan menurut kepadanya.”

Kemudian, keluarlah Jin tersebut dari tubuh Jariyah. Dan Jariyah pun terbebas dari pengaruh jin.

Begitulah Kisah Sandal Imam Ahmad bin Hambal yanng membuat takut Jin.

Rerefensi :

Kitab Thabaqatul Hanabilah, Kitab Ahkamul Marjan dan Kitab Luqatul Marjan.

Sumber : FP Kisah Wali Allah

Share:

Sunday, March 14, 2021

Kisah Wali Allah & Rahib Adu Kuat Lapar

 


Abu Bakr Al Farghani adalah seorang ahli ibadah yang tidak memiliki apa-apa. Meski demikian, Al Farghani menampakkan diri sebagai seorang saudagar. Ia memakai pakaian rangkap berwarna putih, mengenakan surban, sandal bersih, dan di tangannya ada kunci besar yang bentuknya indah. Sedangkan Al Farghani sendiri tidak memiliki rumah dan tidur dari masjid ke masjid. Namun karena penampilannya, masyarakat umum memandang Al Farghani sebagai seorang saudagar, hanya kalangan khusus saja yang mengetahui hakikat keadaan ahli ibadah ini.

Suatu saat, Al Farghani melakukan perjalanan ke Mesir dengan pakaian indahnya tersebut. Para ahli ibadah pun tahu bahwa yang datang adalah ahli ibadah, hingga mereka berkumpul untuk mendengar petuahnya.

Sampai pada suatu saat, Al Farghani melakukan perjalanan dengan diikuti oleh ahli ibadah yang lain. Karena tidak tahan, banyak ahli ibadah yang berhenti dan tidak sanggup mengikuti perjalanan kecuali sedikit. Sampai akhirnya, Al Farghani bertanya kepada mereka,”Apakah kalian merasa lapar?” Mereka yang mengikuti perjalanan pun mengiyakan.

Akhirnya rombongan itu bersitirahat di sebuah kampung yang terdapat biara para Rahib. Melihat rombongan itu, seorang Rahib menyeru kepada Rahib-rahib lainnya,”Berilah makanan kepada para Rahib Muslim ini, sesungguhnya ada sebagaian dari mereka yang tidak sabar terhadap rasa lapar”.

Al Farghani pun tersinggung dengan ucapan Rahib tersebut, hingga ia menyampaikan,”Wahai Rahib, apakah engkau sudah mengetahui ilmu mengenai bersabar dalam lapar?” Rahib itu pun bertanya,”Bagaimana?”

Al Farghani pun menjawab,”Wahai Rahib, turunlah dari biaramu dan makanlah sesukamu, kamudian ikutlah bersamaku untuk masuk ke dalam sebuah ruangan untuk dikunci dan tidak membawa apa-apa kecuali air untuk kita bersuci. Barang siapa tidak tahan, maka ia memberi tanda untuk keluar dan mengikuti ajaran temannya yang masih tetap dalam kondisi semula. Sedangkan aku sudah tiga hari tidak mencium bau makanan”.

Akhirnya Al Farghani dan Rahib pun sepakat untuk masuk ruangan kosong dan terkunci. Sedangkan para ahli ibadah dan para rahib lain mengamati terus-menerus. Dan selama 40 hari mereka tidak melihat ada tanda apa-apa.

Sampai akhirnya di hari ke 41, terdengar suara ketukan pintu dari dalam ruangan itu dan ketika dibuka, maka yang muncul adalah rahib yang meminta pertolongan. Mereka yang berada di sekitarnya pun segera memberi minum sedangkan Al Farghani hanya melihat saja.

Tak lama kemudian Rahib pun kembali kepada Al Farghani dan mengucap,”Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah”.

Setelah itu, Al Farghani pun memberi nasihat kepada para Rahib yang berada di biara itu, hingga akhirnya seluruhnya mengikrarkan diri untuk masuk Islam.

Dan Al Farghani akhirnya kembali ke Baghdad bersama para ahli ibadah dan para rahib yang telah masuk Islam.

(Thabaqat Al Auliya, hal. 304)

Sumber : FP Kisah Wali Allah

Share:

Manaqib & Karomah Habib Umar Condet


Suatu hari, beberapa tahun silam, sebuah rumah di pemukiman padat Batu Ampar, Condet, Jakarta Timur terbakar hebat. Api berkobar menghanguskan apa saja. Masyarakat tidak bisa berbuat apa-apa, karena sumber air jauh. Sementara petugas Dinas Pemadam Kebakaran tak kunjung datang. Tiba-tiba, di antara kerumunan penduduk, menyeruaklah seorang lelaki berserban dan memegang tasbih. Dengan gagah berani ia maju ke arah rumah yang terbakar itu sambil mengibas-ngibaskan serbannya.

Ajaib! Dalam waktu sekejap, api yang berkobar hebat itu padam. Setelah itu, ia pergi begitu saja. Siapa dia?

Penduduk Batu Ampar mengenalnya sebagai Habib Umar Al Atthas. Ulama itu mula-mula tinggal di Kwitang, Jakarta Pusat, kemudia hijrah ke Batu Ampar.

Habib Umar bin Muhammad bin Hud Al Atthas lahir sekitar tahun 1890-an di Huraidhoh, Hadramaut, Yaman. Sejak muda beliau menimba ilmu agama di Hadramaut. Sampai akhirnya beliau hijrah ke Jakarta pada tahun 1940-an untuk menemui kedua orang tuanya, Habib Muhammad bin Hasan bin Ali bin Hud Al Atthas yang telah terlebih dulu menetap di Kwitang.

Dalam perjalanan ke Betawi, beliau singgah di Kuala lumpur, Singapura dan Brunei untuk menggelar dakwah yang dihadiri ratusan jama'ah. Baru pada awal 1950-an beliau tiba di Jakarta, dan tinggal di Pasar Minggu, kemudian ia pindah lagi dan selanjutnya menetap di Batu Ampar. Di kediaman yang baru ini, beliau berdakwah dengan pendekatan persuasif. Penduduk mengenalnya sebagai ulama yang berpenampilan sejuk dengan karomah yang luar biasa.

Karomah beliau misalnya, terjadi ketika beliau diminta membantu orang yang gemar membeli undian. Tapi anehnya dengan tenang dan baik, Habib Umar melayaninya.

"Habib Umar, saya minta nomor undian." Kata lelaki itu tanpa sungkan.

"Aku akan berikan engkau nomor undian, dengan syarat jika engkau menang undian segeralah bawa uang itu kepadaku." Jawab Habib Umar.

Beberapa hari kemudian lelaki itu datang lagi. "Habib, saya berhasil menang undian. Ini uangnya." Katanya berseri-seri.

Dengan tenang Habib Umar minta muridnya mengambil sebuah baskom, lalu katanya, "Perhatikan apa yang aku perbuat." Lalu beliau menggenggan uang segepok itu dan memerahnya di atas baskom. Aneh! Dari genggaman tangan Habib Umar mengucurkan darah segar, mengalir memenuhi baskom. "Lihatlah, apa yang telah engkau dapatkan dari undian itu." Katanya.

Lelaki itu kaget, dan akhirnya bertobat.

Di saat yang lain, ketika Habib Umar tengah menggelar taklim di masjid, masuklah seorang lelaki berwajah putih bersih. "Wahai Habib Umar, bolehkah aku meminta nasi kebuli?" tanya lelaki itu.

Permintaan aneh itu tentu saja membuat terkejut seluruh jama'ah. Namun, dengan tersenyum Habib Umar berkata bijak, "Pergilah ke belakang, dan bersantaplah." Maka lelaki itu pun segera pergi ke dapur.

Tak lama kemudian taklim itu pun usai, dan Habib Umar bersama para jama'ah menyusul ke dapur. Mereka melihat lelaki itu tengah menyantap nasi kebuli dengan sangat lahap.

"Siapakah dia? "dia tamu kita, dia adalah Nabi Khidir AS." Jawab Habib Umar.

Tidak semua Ulama besar mendapat kesempatan dikunjungi Nabi Khidir AS. Dan kunjungan Nabi Khidir AS itu menunjukkan betapa Habib Umar sangat alim dan shaleh.

Ada cerita lain mengenai karomahnya. Pada suatu hari datanglah seorang lelaki membawa air agar didoakan sebagai obat. Tapi baru saja ia mengetuk pintu, Habib Umar sudah menyuruhnya pulang. Tentu ia bersikeras dan bertahan menunggu di depan pintu. Akhirnya Habib Umar keluar. Katanya, "Pulanglah, air yang engkau bawa itu sudah bisa menyembuhkan."

"Tapi, Bib..."

"Pulanglah. Bukankah engkau sudah ditunggu oleh keluargamu?"

Mendengar jawaban Habib Umar yang begitu santun dan lembut, orang itu sungkan juga. Akhirnya dengan keyakinan yang kuat ia pulang membawa air dalam botol tersebut, dan menuangkannya ke dalam gelas untuk diminum oleh keluarganya yang sakit.

Ajaib! Tak lama kemudian keluarga yang sakit tersebut sembuh. Setelah sembuh, mereka bertamu ke rumah Habib Umar untuk bersilaturahim. Menurut beberapa Habib yang kenal dekat dengan Habib Umar, karamah yang dimilikinya itu berkat keikhlasan dalam merawat ibundanya selama 40 tahun dengan tekun, ikhlas dan sabar. Beliau merawat sang ibu hingga akhir hayatnya.

Habib Ismail bin Yahya, seorang pengurus Naqabatul Ashraf, adalah satu lembaga penyensus para Habaib, juga menyatakan, karomah tersebut berkat keikhlasan Habib Umar merawat ibundanya. Bahkan karena lebih mementingkan merawat sang Ibu, suatu saat Habib Umar tidak sempat menghadiri pengajian-pengajian di luar rumah, termasuk masjid Riyadh, Kwitang, yang digelar Habib Ali bin 'Abdurrahman Al Habsyi Kwitang.

Ulama besar yang dikenal sangat sederhana dan tawadu' ini wafat pada tahun 1999 dalam usia 108 tahun. Meninggalkan tiga putra : Habib Husein, Habib Muhammad dan Habib Salim. Selama hidupnya, almarhum selalu menekankan pentingnya mencintai dan meneladani Rasulullah SAW. Sebagai ulama yang shaleh, seperti halnya habaib yang lain, beliau juga suka menggelar Maulid. Dalam maulid enam tahun lalu, sebelum wafat Habib Umar memotong 1600 ekor kambing untuk menjamu puluhan ribu Jama'ah.

Habib Umar dimakamkan di komplek pemakaman Al Hawi, Condet, Jakarta Timur. Upacara pemakamannya kala itu dihadiri puluhan ribu jama'ah. Bahkan begitu banyaknya jama'ah yang ingin menshalatkan jenazahnya. Shalat jenazah dilakukan sampai tiga kali dengan tiga orang Imam.

Sumber : FP Kisah Wali Allah

Share:

Subscribe Channel Kami

Follow by Email